Your Ad here ...



Product ...

Services ...

Other things ...

Foto Saya
Nama: ¤ Äñdê®kôpê® ¤

Siapa gw..?? Jangan tanya sperti itu. Gw mohon, jangan persoalkan. Sebab, gw pun ga tau mengapa dan kenapa gw ada. ya, ya, ya, siapa yang tau siapa gw?? Adakah yang dapat menjabarkan secara pasti?? Coba jelaskan ke gw, siapa gw ini sebenarnya? bahkan gw ga pernah mengerti tentang diri gw; kenapa gw ada dan untuk apa gw ada? gw ada tanpa keinginan gw, tanpa gw fikirkan. Gw ada tanpa perlu berfikir. Gw ada dari ketiadaan. ------------- Izinkan gw tetap sperti ini... sebagaimana adanya gw. Izinkan gw tetap menjadi misteri, dalam tabir kelabu. Izinkan gw tetap menjadi teka - teki...Read More ------------- Regards, ¤ Äñdê®kôpê® ¤







Gara gara mencukur bulu kemaluan

tetangga sebelah

[Setengah Baya] Gairah Tante Vivi

[daun muda]Adik kecilku

[daun muda]Pijat payudara

antara Indah, adiknya, Inem pembantunya, kakaknya ...

Guru Matematika

Toni Adikku

gelora wanita berjilbab 2

tempat kost tetanggaku





September 2007 Oktober 2007




Downloads
Technology News
Templates
Web Hosting
Articles
Games
Blogger
Google



Blogger

FinalSense

Amazon

Yahoo

Ebay

<$BlogDateHeaderDate$>
Gara gara mencukur bulu kemaluan
Untuk membentuk agar bulu kemaluanku tumbuh dengan rapih, suatu hari timbul niat isengku untuk mencukur total. Kusiapkan alat-alat dahulu sebelum kumulai aksinya. Mulai dari gunting, kaca cermin, lampu duduk, dan koran bekas untuk alas agar bekas cukuran tidak berantakan kemana-mana. Kupasang cermin seukuran buku tulis tepat di depan kemaluanku untuk melihat bagian bawah yang tidak terlihat secara langsung. Tidak lupa pula kunyalakan lampu duduk di antara selangkanganku. Kumulai pelan-pelan, kugerakkan pisau cukur dari atas ke bawah.

Baru mulai aku menggoreskan pisau cukur itu, aku dengar suara langkah masuk ke kamarku, segera aku lihat bayangan di kaca buffet, tidak jelas benar, tapi aku bisa menebaknya bahwa dia adalah si Eni, kemenakan dari ibu kost.

Aku bingung juga, mau membereskan perangkat ini terlalu repot, tidak sempat. Memang aku melakukan kesalahan fatal, aku lupa mengunci pintu depan ketika kumulai kegiatan ini. Akhirnya dalam hitungan detik muncul juga wajah si Eni ke dalam kamarku. Dalam waktu yang singkat itu, aku sempat meraih celana dalamku untuk menutupi kemaluanku. Sambil meringis berbasa-basi sekenanya.
"He... he... ada apa En..?" sapaku gelagapan.
"Eh, Mas Adi lagi ngapain..?" kata Eni yang nampaknya juga sedang menyembunyikan kegugupannya.

Si Eni memang akrab dengan saya, dia sering minta bimbingan dalam hal pelajaran di sekolahnya. Khususnya pada mata pelajaran matematika yang memang menjadi kegemaranku. Eni sendiri masih sekolah di SMU. Berkata jorok memang sering kami saling lakukan tetapi hanya sebatas bicara saja. Apalagi Eni juga menanggapinya, dengan perkataan yang tidak kalah joroknya. Tapi hanya sebatas itulah.

Kembali pada adegan tadi, dimana aku tengah kehabisan akal menanggapi kehadirannya yang memergokiku sedang mencukur bulu kemaluan. Akhirnya kubuka juga kekakuan ini.
"Enggak apa-apa En, biasa... kegiatan rutin."
"Apaan sih..?"
"Eni sudah berusia 17 tahun belum..?"
"Emangnya kenapa kalau udah..?" kata Eni masih berdiri dengan canggung sambil terus menatapku dengan serius.
"Gini En, aku khan lagi nyukur ini nih, aku minta tolong kamu bantuin aku. Soalnya di bagian ini susah nyukur sendiri..." kataku sambil kuulurkan pisau cukur padanya.
"Mas Adi, ih..!" tapi ia terima juga pisau cukurnya, sambil duduk di dekatku.
Aku angkat celana yang tadi hanya kututupkan di atas kemaluanku.

"Eni tutup dulu pintunya yach Mas..?"
Dia menutup pintu depan dan pintu kamar. Sebenarnya masih ada pintu belakang yang langsung menuju ke dapur rumah induk. Namun pada jam segini aku yakin bahwa tidak ada orang di dalam. Selesai Eni menutup pintu, dia agak kaget melihat kemaluanku terbuka, sambil menutup mulutnya ia meminta agar aku menutupnya.
"Tutup itunya dong..!" katanya dengan manja.
Aku katupkan kedua pahaku, batang kemaluanku aku selipkan di antaranya, sehingga tidak terlihat dari atas, sedangkan bulunya terlihat dengan jelas.
"Nah begini khan nggak terlihat..." kataku, dan Eni nampaknya setuju juga.

Eni ragu-ragu untuk melakukannya, namun segera aku yakinkan.
"Nggak apa-apa En, kamu khan sudah 17 tahun, berarti sudah bukan anak-anak lagi, lagian khan cuman bulu, kamu juga punya khan, udah nggak apa-apa. Nanti kalau aku sakit, aku bilang deh.."
"Bukannya apa-apa, aku geli hi.. hi.." sambil cekikikan.
Dengan super hati-hati dia gerakkan juga pisau cukur mulai menghabisi bulu-bulu kemaluanku. Karena terlalu hati-hatinya maka ia harus melakukannya dengan berulang-ulang untuk satu bagian saja.

Sentuhan-sentuhan kecil tangannya di pahaku mulai menimbulkan getaran yang tidak bisa kusembunyikan. Dan ini membuat kemaluanku semakin tegang, tidak hanya itu, hal ini juga menyebabkan siksaan tersendiri. Dengan posisi tegang dan tercepit di antara pahaku menjadikan kemaluanku semakin pegal. Sampai akhirnya tidak bisa kutahan, kukendorkan jepitan kedua pahaku, sehingga dengan cepat meluncurlah sebuah tongkat panjang dan keras mengacung ke atas menyentuh tangan Eni yang masih sibuk mempermainkan pisau cukurnya.

Begitu tersentuh tangannya oleh benda kenyal panas kemaluanku, dia kaget dan hampir berteriak.
"Oh, apa ini Mas..? Kok dilepas..?" katanya gugup ketika menyadari bahwa batang kemaluanku lepas dari jepitan dan mengarah ke atas.
"Iya En. Habis nggak tahan. Nggak apa-apa deh, dihadapan cewek harus kelihatan lebih gagah gitu.."
"Mas Adi sengaja ya..?"
"Suer.., ini cuma normal."

Eni masih memperhatikan kemaluanku yang sudah besar dan kencang dengan wajah yang sulit digambarkan. Antara takut dan ingin tahu. Lalu dia raih kain yang ada di dekatku untuk menutupinya.
"Kenapa ditutup En..?"
"Aku takut, abis punya Mas Adi besar banget.""Emangnya Eni belum pernah melihat kemaluan laki-laki..?" tanya saya.
Eni diam saja, tapi digelengkan kepalanya dengan lemah.
"Ayo deh diteruskan," bisikku.
Kali ini Eni menjadi super hati-hati mencukurnya. Mungkin takut tersentuh kemaluanku. Sedangkan aku sangat ingin tersentuh olehnya. Tapi aku khawatir dia semakin takut saja. Akhirnya kubiarkan saja dia menyelesaikan tugasnya dengan caranya sendiri.

Akhirnya harapanku sebagian terkabul juga. Ketika Eni mulai mencukur bulu bagian samping kemaluanku, mau tidak mau dia harus menyingkirkan kemaluanku.
"Maaf ya Mas..!" dengan tangan kirinya ia mendorong kemaluanku yang masih tertutup kain bagian atasnya ke arah kiri, sehingga bagian kanannya agak leluasa. Untuk lebih membuka areal ini, aku rebahkan tubuhku dan kubentangkan sebelah kakiku.

Eni dengan sabar memainkan pisau cukurnya membersihkan bulu-bulu yang menempel di sekitar kemaluanku, nafasnya mulai memburu, dan kutebak saja bahwa dia juga sedang horny. Walaupun masih dengan ragu-ragu dia tetap memegang kemaluanku. Didorong ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah. Aku hanya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tanpa kusadari kain penutup kepala kemaluanku sudah tersingkap, dan ini nampaknya dibiarkan saja oleh Eni, yang sekali-kali melirik juga ke arah kepala kemaluanku yang mulus dan besar itu.

Lama-kalamaan, Eni semakin terbiasa dengan benda menakjubkan itu. Dengan berani, akhirnya dia singkapkan kain yang menutup sebagian kemaluanku itu. Dengan terbuka begitu, maka dengan lebih leluasa dia dapat menyantap pemandangan yang jarang terjadi ini. Aku diam saja, karena aku sangat menyukainya serta bangga mendapat kesempatkan untuk mempertontonkan batang kemaluanku yang lumayan besar.

"Udah bersih Mas..."
Kulihat kamaluanku sudah pelontos, gundul. Wah, jelek juga tanpa bulu, pikirku.
"Di bawah bijinya udah belum En..?" aku pura-pura tidak tahu bahwa di daerah itu jarang ada bulu.
Lalu dengan hati-hati ia sigkapkan kedua bijiku ke atas. Uh, rasanya enak sekali.
"Udah bersih juga Mas..." ia mengulanginya.
Katanya datar saja. Menandakan bahwa hatinya sedang ada kecamuk. Aku tarik lengannya, dan dengan sengaja kusenggol payudaranya, dan kukecup keningnya.
"Terima kasih ya En..!"

Tanpa kusadari, sejak dia memberanikan diri mencukur bulu kemaluanku tadi, buah dadanya yang berukuran sedang terus menempel pada dengkulku. Begitu kukecup keningnya, dia diam saja, mematung sambil menundukkan mukanya. Lalu kuangkat dagunya dan kucium bibirnya, kupeluk sepuas-puasnya. Keremas paudaranya dan nafasnya makin memburu. Aku raih kemaluannya tapi dia diam saja, kuselipnkan satu jarinya dari sela-sela celana dalamnya. Wah, ternyata sudah basah bukan main. Namun Eni segera terkejut, dan melepaskan diri dariku. Disun pipiku, dan dia segera lari ke rumah induk lewat pintu belakang.

Aku benar-benar puas, kupandangi tampang kemaluan gundulku yang masih tegak.
"Suatu saat nanti engkau akan mendapat bagiannya..." kataku dalam hati.

Sejak peristiwa itu, kami memang tidak pernah bertemu dua mata dalam suasana yang sepi. Selalu saja ada orang lain yang hilir mudik di kamarku. Sampai akhirnya liburan datang dan kami semua masing-masing pulang kampung untuk beberapa waktu. Liburan sekolah sudah selesai, Eni sudah datang lagi setelah berlibur ke rumah orang tuanya di Tabanan, Bali. Begitu juga aku yang datang sebelum masa kuliahku dimulai.

Waktu itu hujan deras. Eni masih berada di kamarku (suasananya sepi karena tidak ada orang sama sekali, termasuk di rumah induk) untuk minta bimbingan atas pelajarannya. Begitu selesai, Eni menyandarkan tubuhnya ke dadaku sambil berkata.
"Mas, itunya sudah tumbuh lagi belum..? Hi... hi..." sambilnya ketawa cekikikan.
"Oh, itu..? Lihat aja sendiri." sambil kupelorotkan celana pendekku sampai lepas, dan kemaluanku yang masih lunglai menggantung.
"Mas Adi ih, ngawur..." katanya.
Tapi walaupun demikian, ia santap juga pemandangan itu sambil menyibakkan sebagian T-Shirt-ku yang menutupi daerah itu. Bulu-bulu yang sudah rapih memenuhi lagi sekitar kemaluanku, segera terlihat dengan jelas.

"Nah, begitu khan lebih oke..." katanya.
"Aku kapok En, nggak mau nyukur plontos lagi."
"Kenapa Mas..?"
"Waktu mau numbuh. Bulunya tajam-tajam dan itu menusuk batangku."
"Habis Mas Adi sukanya macem-macem sih..!" sambil terus memandang kemaluanku yang masih tergantung lunglai, "Mas, kok itunya lemes sih..?"
"Iya En, sebentar juga gede, asal diusap-usap biar seneng."
"Ah Mas Adi sih senengnya enak terus."
Walaupun berkata seperti itu, mau juga Eni mulai memegang kemaluanku dan digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri. Membuat batang kemaluanku semakin besar, keras dan mengacung ke atas. Eni makin menyandarkan kepalanya ke dadaku. Dan langsung saja saya peluk dia, sedemikian rupa hingga payudaranya tesentuh tangan kiriku. Rupanya Eni tidak pakai BH, sehingga kekenyalan payudaranya langsung terasa olehku. Kupermainkan payudaranya, aku pencet, menjadikan Eni terdiam seribu bahasa tetapi nafasnya semakin cepat. Demikian pula Eni dengan hati-hati memainkan kemaluanku, masih terus dibolak-balik, ke kanan dan ke kiri.

Aku cium bibir Eni, dan dia menanggapinya dengan tidak kalah agresifnya. Barangkali inilah suatu yang ditungu-tunggu. Aku lepas blouse-nya, dan payudaranya yang masih kencang dan mulus dengan putingnya yang kecil berwarna coklat muda segera terpampang dengan jelas. Karena tidak tahan, aku langsung menciuminya. Hal ini menjadikan Eni semakin menggeliatkan tubuhnya, tandanya dia merasa nikmat. Aku ikuti dia ketika dia mambaringkan tubuhnya di tempat tidur. Aku hisap-hisap putting payudaranya, sementara rok dan celananya kupelorotkan. Eni setuju saja, hal ini ditunjukkan dengan diangkatnya pantat untuk memudahkanku melepaskan pakaian yang tersisa.

Begitu pakaian bagian bawah terlepas, segera tersembul bukit mungil di antara selangkangannya, rambutnya masih jarang, nyaris tidak kelihatan. Sekilas hanya terlihat lipatan kecil di bagian bawahnya. Pemandangan ini sungguh membuat nafsuku semakin memuncak. Begitu kuraba bagian itu, terasa lembut. Makin dalam lagi barulah terasa bahwa dia sudah banyak berair. Eni masih merem-melek, tangannya tidak mau lepas dari kemaluanku. Begitu pula ketika kulepas pakaianku. Tangan Eni tidak mau lepas dari alat vitalku yang semakin keras saja.

Begitu aku sudah dalam keadaan bugil, aku kembali mempermainkan kemaluannya, ketika jari tengahku mau memasuki vaginanya yang sudah banjir itu. Pinggulnya digoyangkannya tanda mengelak, aku hampir putus asa.
Tetapi kudengar suara manjanya, "Jangan pakai tangan Mas. Pakai itu saja." sambil menarik-narik alat vitalku ke arah vaginanya.

Aku segera mengambil posisi. Tangan lembutnya membimbingnya untuk memasuki arah yang tepat. Kugosok-gosokkan sebentar di bibir vaginanya yang berlendir itu. Rasanya nikmat sekali. Setelah kurasa tepat berada di ambang lubangnya, aku dorong sedikit, agar bisa memasukinya. Tapi nampaknya tidak mau masuk. Aku coba sekali lagi, tidak mau masuk juga.
"Kamu masih perawan En..?" akhirnya aku tanya dia.
Diantara jelita dan wajahnya yang sudah seperti tidak sadar itu, aku lihat kepalanya menggeleng dan itu adalah suatu jawaban.

Usaha menembus lubang kenikmatan itu aku tunda dulu. Operasiku berpindah dengan memagut-magut seluruh tubuhnya. Eni semakin terengah-engah menerima perlakuanku. Erangan-erangan yang terkesan liar semakin membuatku bernafsu. Aku kecup putingnya, perutnya, dan pahanya. Ketika aku mengecup pahanya, sepintas aku lihat vaginanya menganga, semburat warna merah tua yang licin sungguh menarik perhatianku. Jilatanku makin dekat ke arah vaginanya. Begitu lidahku menyentuh bibir kemaluannya, Eni berteriak kelojotan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku semakin bersemangat menjilatinya.

Setelah kurasa jenuh, dan kehabisan variasi menjilati vaginanya. Kembali kuarahkan kemaluanku ke arah barang yang paling dilindungi wanita ini. Kembali tangan Eni membimbing kemaluanku. Setelah tepat di depan gerbang kenikmatan, aku dorong sedikit.
"Bless..."
Kepala kemaluanku bisa masuk sedikit, Eni meringis, tapi terus menekan bokongku. Maksudnya, jelas agar aku masuk lebih banyak lagi. Aku dorong lagi, tetapi lubangya terlalu sempit. Walaupun hanya kepala saja yang masuk, tetapi aku berusaha memaju-mundurkan, agar gesekan yang nekmat itu terasa. Setelah beberapa kali aku memaju-mundurkan, sekali lagi aku dorong lebih dalam lagi. Berhasil..! Kini kemaluanku sudah sepertiga berada di dalamnya. Aku berusaha sabar, aku gerakkan maju mundur lagi. Setelah beberapa kali, aku mendorong lagi. Begitulah kulakukan berulang-ulang sampai semua kemaluanku tertelan dalam remasan vaginanya. Kudiamkan untuk sesaat di dalam, kurasakan denyutan-denyutan yang sangat nikmat yang membuat seluruh tubuhku mengejang. Kugerakkan lagi bokongku dengan arah maju-mundur. Tanpa kusangka, Eni menjerit sambil mengejang.

"Terus Mas... terus Mas... aku sampaaiii... ouh... ouh..." jeritan itu lumayan keras.
Aku segera tutup mulutnya dengan bibirku. Bersamaan dengan itu, kemaluanku terasa diremas-remas. Ujung kemaluanku seakan menyentuh dinding yang membuatku merasa geli bukan main. Akhirnya aku tidak tahan juga untuk mengeluarkan spermaku ke dalam liang kewanitaannya. Beberapa semprotan agaknya semakin menjadikan Eni semakin liar dan semakin meregangkan tubuhnya. Kami orgasme bersama-sama, dan itu sangat meletihkan. Dan aku tidak ingin cepat-cepat melupakan fantasi yang hebat itu. Kami tertidur untuk beberapa waktu.

Begitu aku bangun, rupanya Eni sudah tidak ada. Yang ada hanyalah secarik kertas menutupi kemaluanku dengan tulisan, "YOU ARE THE GREAT".

Sejak saat itu, kami selalu melakukannya secara rutin dua minggu sekali, paling lama sebulan sekali. Namun tidak melakukan di rumah tetapi kubawa ke hotel di luar kota secara berganti-ganti yang kemungkinan kecil untuk diketahui oleh orang yang kami kenal. Sampai akhirnya, kami berpisah. Aku lulus dan diterima kerja di luar kota. Eni kuliah di kota yang jauh sekali dari tempatku berada. Kalau ia membaca tulisan ini, maka ia akan bersyukur karena namanya sudah aku samarkan. Sekedar untuk mengingatkan saja ketika kami begituan, kemaluannya kujuluki TEMBEM. Dan ia menyebut kemaluanku dengan julukan TOLE (mungkin dari kata KONTOLE).


TAMAT
<$BlogDateHeaderDate$>
tetangga sebelah
Entah aku harus mulai dari mana sebab aku sangat tidak kuasa untuk tidak menceritakan kepada anda terus terang aku bukanlah co yang ganteng atau top boy tapi tuhan telah memberi nilai yang agak lumayan buatku tinggiku hanya 171/66 Kg badanku bisa di bilang atletis karena semenjak kecil hingga menjelang kuliah aku adalah seorang atlit tenis yah memang kenera nasibku dan keberuntunganku tak sebaik teman-2ku yang sudah masuk pelatnas (Pelatihan Nasional).

Di bidang sex memang aku baru mengenalnya beberapa waktu saja itu juga di sebabkan perpisahan sekolah......... tapi aku tak akan bercerita tentang itu aku akan bercerita pengalamanku yang paling heboh yang aku rasakan berawal mula dengan datangnya tetangga baruku yang baru datang dari Riau sebuah keluarga yang harmonis kurasa. karena setiap suaminya keluar rumah di pagi hari selalu ciuman mesra mendarat di pipinya .....yaah itulah tante Lisa orangnya sangat cantik dan mempunyai body yang aduhai dengan dandanan yang selalu tidak kalah dengan ABG jaman sekarang.
Tingginya sekitar 165/57 Kg dan memiliki dada yang sangat menawan kira-2 36B anda bisa bayangkan betapa indah dan menggiurkan wanita yang begitu sempurna dengan betis yang sangat terbentuk dan pantat yang masih sintal, mungkin juga karena umurnya belum begitu tua 31 dan baru mempunyai anak satu.

Entah setan mana atau memang naluri seorang laki-2 yang dikenal sebagai pemburu yang liar........ tidak bisa melihat barang yang bagus, aku selalu memandangnya di tiap pagi dan ditemani mentari yang menyorot badan sintalnya yang makin membuat pikin pusing kepala, maklumlah bujangan yang banyak teori namun tiada pelampiasan paling sabun (cussons) teman setia ...sabun tahan bating itu kata iklan.... dan entah mengapa pula setiap aku menatap wajahnya dan sesaat dia menatap mataku aku selalu di suguhkan racun asmara dengan senyuman yang ramah dan tegur sapa yang manis didengar bak diplomat yang bisa meredam galaunya suasana.

Seminggu, dua minggu, tiga minggupun berlalu semakin dekatnya aku dengan tetangga baru itu.

Di suatu hari sesaat aku melewati depan rumahnya dan hendak berangkat kuliah aku tersentak oleh suara yang halus dan manja memanggilku.... "Dek ...dek Mulan mau ke mana ...ke kampus ya ?"
"...iya mbak, mbak mau ke mana?" tanyaku dengan agak sedikit gugup kerana kulihat dia menggunakan kaos you cen see unggu dan tidak menggunakan BH dan yang terlihat anggun+binal....
"Saya mau mengantar Ika (anaknya)"
"Lho mbak kok tumben agak siang..."
"Iya soalnya Ika ujian jam sembilan"
"Ooooo bagitu.. mbak" sahutku dengan tidak lepas melihat ketiaknya yang putih mulus... tanpa bulu.
"Dek bareng saja kan kita sejalan....."
Wah kesempatan nich pikirku memang dasar suasana yang yang erotis ditambah otakku yang berubah jadi otak XXX tanpa banyak bicara kita mengantar Ika ke sekolah. Aku duduk di belakang dan Ika duduk di depan... setelah sampai di sekolahan Ika turun dan mendapatkan sweet kiss dari mamanya... dan kubayangkan seandainya aku yang dapat ....wiiiiiiiiiih melebihi mendapatkan undian BCA ....hehhehe
Dan Ika sempat berpamitan padaku "...Om Ika duluan ya da da....." katanya.

Setelah Ika turun akupun meraih pintu hendak turun juga namun mbak Lisa dengan suaranya yang mengalun mesra melarangku melangkah "Lan, mbak anterin kamu sekalian...."
"Lho mbak, Ika gak di tunggui..."
"Ach tidak usah sudah biasa saya tinggal biar belajar mandiri" kilahnya dengan dengan senyum yang manis.... memang pintar sekali wanita ini bersantun.

Akupun pindah ke jok depan mobilpun melaju bersamaan dengan itu obrolan demi obrolan terus keluar dari mulut kami berdua.
Awalnya aku anggap biasa namun setalah aku analisa sepertinya dia CURHAT denganku baik mengenai kehidupan mudanya, anaknya, hingga masalah denga mas Heru (suaminya).
Aaku pun terhanyut dengan ceritanya yang pintar sekali sehingga aku berbawa suasana yang mengharukan...... dan air matanya kulihat berderai jatuh di pipinya yang montok itu ....dan tanpa sadar aku mengambil sapu tangan dan ku seka (orang betawi bilang dilap) dengan tangan kananku ....mbak Lisa menatapku .....
"Awaaaaaaaaaas mbaaaaaaaak" teriakku karena di depan sedang berpose bagaikan cover boy... abang becak yang ingin menyebrang dengan sayur mayur angkutannya..... chiiiiiiiiiiit chiiiiiiiitttt mobil hijau Escudo yang di kemudikan mbak Lisa mengerem dengan mendadak...... untungnya aku menggunakan sabuk pengaman sedangkan mbak Lisa tidak dan lebih beruntung lagi aku sempat meraih badannya karena (reflek) ku bagus ...hehehhe jadi gr nich. Kuraih badan bagian depan dan pas dengan gundukan kenyal....
"Oh Lan untung tanganmu kuat Lan hingga bisa menahan badan mbak....."
"Mbak, apanya yang sakit mbak?" tanyaku dengan penuh harap...
"Ach ndak apa-2 Lan hanya agak sakit di dada.." tanpa banyak bicara dan berdebat dengan abang becak kami meneruskan perjalanan ....dan kami melanjutkan obrolan yang kian lama kian menarik..... tapi mengapa arah mobil tidak mengarah ke kampusku.........? gunamku dalam hati.

Setelah melenceng dari kampusku kuberanikan bertanya mbak kenapa kok arahnya kemari.
"Sebentar Lan mbak minta maaf ya soalnya dada, pundak dan tangan mbak sakit sekali ....mampir ke rumah mbak yang satunya ya Lan...." lha ternyata punya rumah juga di daerah sini kawasan elit di pinggiran utara kota Jakarta. Dan sesaat kita telah sampai di depan rumah yang megah dan di dalam dengan perabotan yang sangat lux... tapi mengapa hening sekali teryata rumah sebesar ini hanya di huni oleh ke 3 pembatunya yang sekarang sedang merapikan halaman belakang.......

"Bibi.... ambilkan minum Omnya ini ya saya ke atas dulu...."
Ssetelah berapa lama bibi tua itu keluar dengan membawa nampan.... setelah aku tertegun sejenak melihal perabotan ada suara panggilan yang halus... Lan.... Lan.... tolong ke atas sebentar Lan tolongin embak... tanpa banyak pikir dan cingcong aku naik ke lantai atas dan pas di depan pintu kamar mbak Lisa.

Terdengar suara rintihan "Aduuuuh... aduuuuuuuh" aku langsung masuk dan menghampirinya "Lho mbak kenapa?" "Ini Lan pundakku sakit sekali...." tanpa basa basi aku langsung meraih tangannya dan menarik serta menghentakkan kebelakang.... "Aduuuuuuuuuuuuh" rintihan yang sangat pajang karena memang begitulah keadaaannya kalo ingin sembuh yang harus ditarik sesuai dengan pengalamanku di latihan tenis...

Tak lama kemudian "Aduh Lan sakit sekali kamu nariknya kok kasar"
"Mmaaf mbak memang begitulah prosedurnya (seperti jawaban pegawai kelurahan bila kita membuat KTP)"
Entah mengapa bayangan benda mungil di dadanya mbak Lisa membuat aku melamun..... bayangan pentil yang agak besar dan ceplakan payudaranya yang aduhai membuat aku menelan ludah...... sesaat itu aku tersadar oleh ucapan mbak Lisa "Heeeh... heeeeh kok bengong?... hayo mikirin apa....?" mukaku merah dan spontan tanpa mengurangi kejatananku menjawab "Itu mbak dada mbak sungguh menawan serta body mbak yang sangat menggoda..... jarang saya temukan wanita secantik dan seanggunan embak di tambah wawasan serta kesantunan embak yang sangat saya kagumi (entahlah itu rayuan gombal atau memang ucapan yang yang tulus dari mulut seorang laki-2 yang mengagumi keindahan seorang wanita)" maaf para wanita memang itulah adanya saya.......
"Ach kamu ini Lan bisa saja mbak jadi heran sebenarnya kamu itu kuliah di fakultas hukum atau sastra sich" sambil tersenyum manis "Memang kamu cowok pujaan wanita Lan, kamu gagah, manis, romantis, pintar dan wanita yang mujur bila bisa berdampingan denganmu....." ach dapet pundi emas dari bank danamon grrrrnya setengah mampus.

Tapi aku perhatikan semenjak aku duduk di hadapan mbak Lisa kok dia selalu melihat sleting celanaku...... tampa gentar kutatap sorot matanya dengan tiada berkedipun dan kurasakan kami semakin dekat dan semakin dekat.... dan di saat bibir kita bertemu ku tak ingat ibu, ayah, pacar, dosen, serta ujian negara yang telah menunggu besok. Sungguh indah pertemuan bibir kami saling kulum dan sesekali kumasukan lidahku di dalam mulutnya dan menari ala cha cha.

"Ach.... Lan kamu hebat Lan... aaaaaach trus Laaan" dengan nada bicara yang ngawur karena tersumpal lidahku.......
Akupun tak perduli tanpa pikir panjang ku singkapkan baju you can see.
Kurasakan benda kecil mringkil dan agak keras mungkin karena mbak Lisa sudah merangsang ku pilin-2 dan tak kalah serunya mbak Lisa sudah memegang juniorku yang tegak lurus bagaikan monas "Aaaaaaaaaaach Lan terus Lan" tangan kiriku sudah di atas bibir vagina ...dan ku elus berirama memutar perlahan-lahan.
"Laaaaan ach teruskan Lan teuuuuueees kan aaach" kutarik semua rajutan benang di tubuh mbak Lisa hingga tiada sehelaipun yang tersisa.
Bbegitu pula dengan keadaanku dengan memegang juniorku dengan irama turun-naik turun naik membuat nafsuku sampai keubun-2 "Aaaaaaaaach mbaaaaaaaaaaaak enaaaaak aaa......" kurasakan permainan yang makin hot dengan juniorku di kulum mbak Lisaaaa membuat aku makin tak karuan.

"Mbaaaaaaak.... mbaaaaaaak aaaaaaach udah mbak gantian" diapun langsung telentang di lantai dengan mulut yang mengulum junior tidak di lepaskan dan terahkir disedotnya sekuat tenaga "Aaaaaaaaaaaacccch sstttt mbak please gantian mbak....aaaaaaach"
Setelah telentang dengan sigap aku menyerbu vaginanya yang sudah amat sangat mengkilap ...dengan lelehan lendir pelumas ....setelah mulutku mencium vaginanya aku heran mengapa ibu-ibu seperti dia vaginanya wangi agak.... aaaaach. Tak bisa kulukiskan kalah bau vagina pacarku yang masih muda.... kulihat seonggok bukit yang yaaaaaach tidak sebesar kepalan tanganku... namun indah ditumbuhi rambut-2 yang halus dan sangat rapi..... teryata tidak cantik dan anggun luarnya namun dalamnya siapa sangka seindah dan terawat sekali.......

Kubuka bibir vaginanya dengan kedua jari kutemukan clotisnya yang mengkilat serentak aku jilat dan aku kulum dengan mulutku "Aaaauuuch aaaccchhh aaaacccccchhh ssstttttttt Laaaan please fuck me now...!!!"
"Laaaaaaaannn.... ach auuuughhhh ssssssttttt Lan please...." aku tak perdulu lidahku menari di dalam liang vaginanya kanan kiri depan belakang maju mundur... irama yang ku gunakan dan tari telunjukku ku tusuk tusukan ke daerah G ..... (ingin tahu daerah G) belajarlah dengan saya gratis.

"Aaaaaaaachhhh ssssssstttttttt uuuuuuueeeeggghhhh aaaaaaaaaach... Lan mbak sudah nggak tahan Lan ..mbaaaaak accccchhh sssssttttt mbaaaaaak mauuuuu ke.......... keluaaaaaaar Lan.... assssssstttttttttt" crrrroooot ........crrrrrrooooooot....... croooooooooot.... cairan lendir yang tidak pekat keluar deras dari vaginannya ...dan yang pasti itu bukanlah air mani ......itu adalah semacam lendir yang keluar dari daerah (G spot) dan mbak Lisapun lemas lunglai di hadapaanku.....
"Laaaann kau hebat Lan ....Lan kau gunakan apa sehinnga mbak bisa begitu diluar kebiasaan..... ilmu dari mana Lan"
"Ach mbak bisa aja..." tanpa banyak bicara karena nafsuku sudah ke ubun-aku telentangkan lagi mbak Lisa dan mbak aku sudah nggak tahan masuki ya mbak......

Sebelum menjawab "Aaaaaaaaaaaaaaaach stttttt Lan tunggu sebentar Laaaaaan acccccch..." tak perduli ucapannya mbak Lisa aku baru saja memasukan 1/4 batang pelirku di istananya mbak Lisa.
"Laaaaaaaaan pelan Lan mbak masih ngilu...sstttttttt aaaaaaccchhh punya kamu gede sekali Lan.... aaaaaachhhh" akupun bersemangat maju mundur maju mundur pantatku mengiringi masuknya si junior .........mbak Lisa terus meraaaaung dan "Aaaaaaach Lan ssttttttt aaaaaaaaaach aaccccccch Lan mbak mau.... aaaaaaach fuck you Lan... aaaaaaaaaach mbaaaaaaaak g' tahan.... aaaaaaacghhhhh" crrrrot ....... croooot aku yakin ini baru mani yang keluar .... dan seiring dengan itu kepalaku terasa berat ....badanku terasa kaku.... kejang dan "aaaaaach aaaaaaaach ssssstttttttttt... mbaaaaaaaaaaaaaaaaak mau maaaaaaaaaauuuuuu keluaaaaaaaar..... sssttttttttttt croooooott crrrrrrrot ...kudiamkan junior tetap bersarang di sarungnya meskipun itu sarung orang lain.... dan bisikan mbak Lisa menyadarkan aku.... "Laaaaaaan badanmu berat sayaaaaaang......" dengan posisi berdepetan kami saling ambruk ke samping hingga tak terasa si juniorku masih menancap di dalamnya "Sayaaaang terima kasih i love you........" bisiknya pelan...."I love you too mbak"

Dan sejak saat itu kami selalu bertemu hingga suatu saat suami mbak Lisa di pindah tugaskan ke daerah....... dan kini ku sepi sendiri dan hanya bayangan mbak Lisa yang melekat di hati...... dapatkah ku pengganti.......?

NB: mengapa saya selalu memanggil sebutan mbak karena saya sangat menghormati dan menghargai dia kerena soerang wanita adalah keindahan dunia yang patutdi jaga dan di sanjung.
Kku tunggu meski siapapun kamu wahai mahkluk cantik......
[Setengah Baya] Gairah Tante Vivi
Tante Vivi menyuruhku datang malam ini ke rumahnya. Sebenarnya agak malas juga dan khawatir, bagaimanapun saya lebih senang mengajak Selva, pacarku untuk menemani, ini membuatku ragu-ragu untuk berangkat.
9.15 malam: Aku masih ragu-ragu..., berangkat..., tidak..., berangkat..., tidak.
9.25 malam: Akhirnya Tante Vivi tanpa kuduga benar-benar menelepon, kebetulan aku sendiri yang menerima.

"Lho..., Ar..., kok kamu belum berangkat, bisa dateng tidak Ar?..", tanyanya kendengaran agak kecewa.
"Mm..., gimana ya Tante..., agak gerimis nih di sini...", sahutku beralasan.
"Masa iya Ar..., yaah..., kalo gitu Tante jemput aja yaa...", balasnya seolah tak mau kalah. Aku jadi blingsatan dibuatnya.
"Waah..., tidak usah deh Tante..., okelah saya ke sana sekarang Tante..., mm Selva saya ajak ya Tante...", sahutku kemudian. Aku pikir ke sana malm-malam mau tidak mau akhirnya pasti harus nginap. Kalau ada Selva kan aku tidak begitu risih, masa aku bawa Selva pulang malam-malam. Tapi...
"iih..., jangan Ar..., Selva jangan diajak..., mm pokoknya ke sini aja dulu Ar..., yaa..., Tante tunggu..., Klik", sekali lagi seolah disengaja Tante Vivi langsung memutuskan hubungan. Sialan pikirku, dia mengerjaiku, ngapain malam-malam ke sana kaya tidak ada waktu siang atau pagi kek. Aku jadi kesal, ngapain Selva kemarin cerita kalau aku banyak ngerti masalah Komputer. Wuueek..., kaya pakar wae..., sekarang baru kena getahnya.

Akhirnya dengan perasaan malas, malam itu benar-benar agak gerimis, badanku sampai kedinginan terkena rintik air gerimis malam yang dingin
.Sekitar pukul 10.00 malam: Aku sampai juga di tempat Tante Vivi, suasana di komplek perumahan itu sudah sepi sekali, aku membuka pintu pagar yang sengaja belum dikunci dan kumasukkan sepeda motor ke dalam.
Belum sempat aku mengetuk pintu, ternyata Tante Vivi rupanya sudah mengetahui kedatanganku. Mungkin ia mendengar deru suara motorku ketika datang tadi.
"aahh..., akhirnya dateng juga kamu Ar...", katanya ramah dari balik pintu depan.
"Iya..., Tante...", sahutku berusaha ramah, bagaimanapun aku masih setengah kesal, sudah datang malam-malam kehujanan lagi.
"Agak gerimis ya Ar...", tanyanya seolah tak mau tau.
"Hsii...", Tanpa sadar aku terbersin.
"Eehh..., kamu Flu Ar...", tanyanya kemudian.

Aku mengusap wajah dan hidungku yang setengah lembab terkena air gerimis. Tante Vivi menarik tanganku masuk ke dalam dan menutup pintu. "Klik...", sekaligus menguncinya. Aku tak begitu memperhatikannya karena aku sendiri kuatir dengan kondisiku yang terasa agak meriang. Kuusap berulang kali wajahku yang dingin. Lalu tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut membantu ikut mengusap pipi kananku.

"Pipimu dingin sekali Ar..., kamu pasti masuk angin yaa..., Tante bikinin susu jahe anget yaa...", sahutnya lembut. Aku menoleh dan astaga wajahnya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. "Duh..., cantiknya". Kulitnya yang putih mulus dan halus, matanya yang hitam bulat sedikit sipit dengan bentuk alisnya yang hitam memanjang tanpa celak, hidungnya yang kecil bangir, dan bentuk bibirnya yang menawan tanpa lipstik. Terlihat sedikit tebal dan begitu ranum. Sexy sekali bibirnya. Tante Vivi tersenyum kecil melihatku setengah melongo.
"Kamu duduk dulu Ar..., Tante ke belakang dulu...", sahutnya pelan.

Tanpa menunggu jawabanku, ia membalikkan tubuh dan bergegas berjalan melintasi ruang tengah menuju ke belakang. Tubuhnya yang tingginya mungkin sekitar 160 cm kelihatan begitu seksi ramping dan padat. Sempat kulihat langkah kakinya yang berjalan sangat elok, saat itu kuingat jelas ia memakai celana Jeans putih ketat serta memakai baju kemeja halus berwarna merah muda dan dibiarkan berada di luar celana. Baju yang dikenakannya seperti umumnya baju kemeja sekarang yang relatif panjang, membuat celana jeans yang dikenakannya tertutup sampai ke atas paha. Namun karena sifatnya yang lemas, membuat bajunya itu seolah menempel ketat pada bentuk tubuhnya yang memang sangat seksi dan montok. Pinggulnya yang bulat padat bergoyang indah kekiri dan kanan. Begitu gemulai bagai penari Jaipong.

Kuhempaskan pantatku dengan perasaan lelah di atas sofa empuk ruang tamunya. Aku memandang ke sekeliling ruangan tamunya yang cukup mewah. Lukisan besar pemandangan alam bergaya naturalis tergantung di atas tembok persis di belakang tempat dudukku. Selebihnya berupa lukisan-lukisan naturalis sederhana yang berbingkai kecil dan sedang tentang suasana kehidupan pulau Bali. Aku tak begitu tertarik dengan lukisan, sehingga aku tak sampai mengamati lama-lama.

Sepuluh menit kemudian, Tante Vivi muncul dengan segelas besar susu jahe yang masih kelihatan panas, karena asapnya masih terlihat mengepul. Dengan wajah cerah dan senyum manis bibirnya yang menggemaskan, mau tak mau aku jadi ikutan senang.
"Waah..., asiik nih kelihatannya..., wangi lagi baunya..., mm..", kataku spontan.
"Pelan-pelan Ar..., masih panas...", sahutnya pendek, sambil memberikan minuman jahe itu kepadaku. Lalu tanpa risih ia duduk di sebelahku. Aku jadi deg-degan juga.
"Gimana kuliah Selva Ar..., kapan nih rencana mau majunya...", tanya Tante Vivi kemudian.
"Entah Tante..., setahu saya sih bulan depan ini dia harus menyelesaikan seluruh asistensi skripsinya. Soal maju ujian skripsi saya kurang tau Tante..", sahutku polos.
"iih.., kamu ini gimana sih Ar..., pacarnya sendiri kok tidak tahu, asyiik pacaran aja yaa rupanya...", ujar Tante Vivi setengah bercanda.
"aah..., Tau aja Tante..., tidak salah...", sahutku sambil ketawa nyaring.
"Kamu menyukai dia Ar...", tanya Tante Vivi kemudian, seolah setengah malas menanggapi candaku.
" Waah..., Tante ini gimana sih..., ya jelas dong Tante..., lagipula sekarang kami sudah sangat serius menjalin hubungan ini..., saya mencintainya Tante...", sahutku sedikit serius.

Tante Vivi tersenyum kepadaku, giginya yang putih bersih terawat kelihatan indah, serasi dengan bentuk bibirnya yang tak terlalu lebar.
"Tidak Ar..., Tante khan cuman nanya..., soalnya Tante lihat Selva sayang sekali sama kamu...", ujarnya kemudian.
"Jangan kuatir deh Tante...", sahutku pelan sambil mulutku mulai menyeruput wedang susu jahe bikinannya itu. Terasa sedikit pedas di bibir namun hangat manis di lidah dan kerongkonganku.
"Komputernya di taruh mana Tante...", tanyaku tanpa memandangnya sambil terus seteguk demi seteguk menghabiskan minumanku.
"Tuh..., di kamar kerja Tante...",sahutnya pendek. Sejenak aku meletakkan minuman dan memandang Tante Vivi yang berada di sebelahku.
"Lalu tunggu apalagi nih...", ujarku setengah bercanda.
"Apanya...?", tanya Tante Vivi seakan tak mengerti. Pandangan matanya kelihatan sedikit bingung.
"Lhoh..., katanya pengen diker..., eeh diajarin...", lanjutku. Hampir aja aku kelepasan ngomong ngeres, jantungku sampai kaget sendiri dag-dig-dug tidak karuan. Untung tidak kebablasan ngomomg.
"ooh..., iya.., aduuh Tante sampai kaget..., Yuk ke kamar Ar...", sahutnya sambil mencolek lenganku. Kami berdiri dan berjalan beriringan ke tempat yang ia maksud. Kami melintasi ruangan tengah yang lebih lapang dan mewah. Kulihat sebuah meja pendek tempat dudukan pesawat Televisi ukuran besar mungkin sekitar 51 inchi lengkap dengan satu set sound systemnya sekaligus berada di sebelah kiri ruang itu. Sedangkan kami menuju ke sebuah ruangan di sebelah kanan yang pintunya sudah setengah terbuka. Tante Vivi menyilahkanku masuk duluan.

"Masuk Ar..., sorry ruangannya agak berantakan...", ujarnya sambil memberi jalan. Aku masuk dulu kedalam ruangan diikuti Tante Vivi. Ruangan atau kamar itu cukup besar berukuran 5 x 7 meter dan pada umumnya tampak rapi walau masih ada sedikit acak-cakan karena di atas lantai persis di depan tempatku berdiri yang terhampar sebuah karpet berukuran sedang tampak berserakan beberapa majalah wanita yang halamannya masih terbuka disana-sini. Di depannya ada sebuah meja kerja yang cukup besar, dan di atas meja terdapat beberapa buah buku kecil dan agenda kerja, selain itu terlihat 2 kardus besar dan beberapa kardus kecil yang aku sudah hapal bentuk dan cirinya, apalagi pada kardus besar yang berbentuk kotak itu terdapat tulisan besar GoldStar Monitor. Ketika aku menengok ke sebelah kiri, waah..., ternyata di situ terdapat sebuah ranjang berukuran sedang. Kasurnya jelas Spring Bed yang terlihat dari ukurannya yang tebal, tertutup dengan sprei berwarna merah jambu. Bantalnya bertumpuk rapi di sisi kiri dan kanan tempat tidur. Di sebelah kiri tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dan seperangkat mini stereo.

"Waduuh..., ini tempat kerja apa kamar Tante...?", tanyaku heran dan kagum. Bagiku ruangan selapang ini terlalu besar untuk kamar tidur. Kamarku sendiri yang berukuran 3x4 meter aja menurutku sudah gede, apalagi sebesar ini.
"Dua-duanya Ar..., ya kamar kerja ya..., tempat tidur..., mm..., Tante khan cuman sendirian di rumah ini Ar...", sahut Tante Vivi yang berada di sebelah kananku.
"Sendirian..., maksud Tante?", tanyaku kepadanya tak mengerti.
"Lhoh..., apa Selva tidak pernah bilang sama kamu..., Tante khan..., sudah bercerai Ar...", sahutnya kemudian. Kedengaran sekali kalimat terakhir yang diucapkannya sedikit terpatah-patah.

Astaga..., seruku dalam hati. Pantas, seolah baru menyadari. Selama ini aku tak pernah ingat apalagi menanyakan tentang suami Tante Vivi ini. Jadi selama ini Tante Vivi itu seorang Janda. Ya ampuun..., kenapa aku tak menyadari sejak semula. Semenjak pertama kali aku datang ke sini bersama Selva, memang aku tak melihat orang lain lagi selain Inem pembantunya. Waktu itu kupikir suaminya sedang bekerja. Pantas ketika aku datang tadi hanya Tante Vivi sendirian yang menyambutku. Jadii..., hatiku jadi setengah grogi juga. Aku jadi teringat tentang beberapa kisah nyata di majalah yang pernah kubaca tentang kehidupan seorang janda muda, terutama sekali mengenai soal seks. Pada umumnya katanya mereka sangat mudah dirayu dan tak jarang juga pintar merayu. Jangan-jangan..., pikirku mulai ngeres lagi.
"ooh..., maaf Tante saya baru tahu sekarang...", ujarku lirih sejenak kemudian. Tante Vivi tersenyum kecil.
" Udahlah Ar..., itu masa lalu..., tidak usah diungkit lagi...", ujarnya setengah menghindar. Terlihat ada setetes air menggenang di pelupuk kedua matanya yang indah.

Sedetik kemudian ia sengaja memalingkan mukanya dari tatapanku, mungkin ia tak ingin terlihat sedih di depanku. Kemudian ia berjalan ke depan dan setengah berjongkok memunguti semua majalah yang masih berserakan di atas karpet, spontan aku segera menyusul hendak membantunya.
"Sini Ari bantu Tante...", kataku pendek. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung nimbrung mengumpulkan majalah yang masih tersisa.
"iih sudah Ar..., tidak usah..., kok kamu ikutan repot...",sahutnya. Kali ini wajahnya kulihat sudah cerah kembali. Bibirnya yang ranum setengah terbuka menyunggingkan sebuah senyuman manis. Manis sekali. Aku sempat terpana selama 2 detik.

" Tante tidak menikah lagi...?", tanyaku padanya tanpa sadar. Sedikit kaget juga aku dengan pertanyaanku, jangan-janga ia marah atau sedih kembali. Namun ternyata tidak, sambil tetap tersenyum ia balik bertanya.
"Siapa yang mau sama aku Ar...?"
"aah..., Ari kira banyak Tante..."
"Siapaa...?"
"Ari juga mau Tante...", kataku cuek, karena maksudku memang bercanda. Ia mendelik lalu sambil setengah ketawa tangannya mencubit lenganku sekaligus mendorongku ke samping.
"Hik..., hik..., kamu ini ada-ada aja Ar..., jangan nyindir gitu dong Ar, memangnya gampang cari laki-laki jaman sekarang...", ujarnya. Lalu kulihat ia terduduk diam seribu bahasa. Aku jadi heran sekaligus geli melihatnya melamun sambil memegangi majalah.
"Kenapa Tante... ", tanyaku padanya. Tante Vivi sedikit kaget mendengar pertanyaanku. Namun sambil tersenyum kecut ia hanya menjawab pendek.
"Sudahlah Ar..., jangan bicara masalah itu...". Akupun tak mengubernya walau sebenarnya masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi dulu dengan perceraiannya.

Singkat cerita, malam itu aku hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk merakit komputer barunya. Untung saja Tante Vivi membeli komputer jenis Build Up sehingga aku tak perlu untuk memeriksa 2 kali, cuman periksa tegangan input, tinggal sambung kabel ke monitor dan CPU, pasang external modem, pasang speaker aktifnya ke output soundcard, sambung ke stavolt..., sudah beres.

"Sudah beres Tante..., mm..., mau sambung ke internet...?", tanyaku puas. Agak keringetan juga rasanya mukaku, walau cuman sekedar sambung sana-sini.
"aah masa...?, secepat itu Ar...?", tanya Tante Vivi yang sejak tadi juga tak pernah beranjak dari sebelah kananku, asyik melihatku bekerja.
"Lha..., iya..., gampang khan...", sahutku pendek. Kupandangi wajah cantiknya yang setengah melongo seolah tak yakin.
"Makanya dicoba dulu dong Tante..., biar tidak nanya-nanya lagi..., mana nih stop kontaknya", tanyaku kemudian.
"iih..., hik..., hik..., gitu aja sewot..., jahat kamu Ar..., hik..., hik..., ehem..., itu ada di belakang meja sebelah bawah Ar...", jawabnya sambil setengah tertawa kecil.
Aku melongok ke bawah meja..., astaga di bawah situ berarti mestinya aku harus merangkak di situ..., sejenak aku melongo.
"Kenapa Ar...?"
"Ooh tidak Papa Tante..".

Akhirnya mau tak mau akhirnya aku harus merangkak masuk ke bawah meja kerjanya yang cukup besar itu sambil tangan kananku menarik kabel power CPU-nya ke bawah. Pengap juga di bawah situ karena memang agak remang, maklum penerangan di kamar ini hanya cuma menggunakan sebuah lampu bohlam sekitar 100 Watt, sinarnya kurang kuat di bawah sini. Sedang lampu meja kerja terpaksa dimatikan untuk stroom komputer. Setelah terpasang ke stop kontak, sambil setengah merangkak mundur aku langsung membalikkan tubuh dan astaga..., aku terhenyak kaget karena melihat Tante Vivi ikut juga melongok membungkuk ke bawah meja, tanpa disengaja kedua mataku menyaksikan pemandangan vulgar yang luar biasa indah.

Woow, Tante Vivi dengan posisi tubuh seperti itu membuat baju kemejanya yang sedikit gombrong dan karena jenis kainnya yang sangat lemas membuatnya jadi melorot ke bawah pas dibagian dada, apalagi kancing kemejanya yang sedikit rendah, membuat kedua bulatan payudaranya yang sangat besar dan berwarna putih terlihat menggantung bak buah semangka, diantara keremangan aku masih dapat melihat dengan sangat jelas betapa indah kedua bongkah susunya yang kelihatan begitu sangat montok dan kencang. Samar kulihat kedua puting mungilnya yang berwarna merah kecoklatan. "Yaa aammpuunn...", bisikku lirih tanpa sadar, "Ia tidak pake Behaa..."

Tante Vivi semula tak menyadari apa yang terjadi dan apa yang sedang kupelototi, 5 detik saja..., bagiku itu sudah cukup lama, Tante Vivi seolah baru menyadari ia menjerit lirih.
"iih...", serunya lirih. Masih dalam posisi membungkuk, tangan kanannya reflek menarik bajunya sampai ke atas leher, setengah pucat ia memandangku lalu berdiri dan mundur 1 langkah. Sudah telanjur, percuma kalau malu, akhirnya dengan cuek aku merangkak ke luar dan berdiri di hadapannya, sambil senyam-senyum seolah tidak salah, akhirnya aku minta maaf juga kepadanya.

"Maaf Tante..., sa..., Ari tidak sengaja...", ujarku cuek. Tante Vivi masih dengan sedikit pucat, akhirnya hanya bisa tersenyum kecil. Wajahnya kelihatan memerah.
"Sudahlah..., Ar...", sahutnya pendek. Dalam hati aku berbisik, lumayan dapat tontonan susu gede gratiss.

Selama 30 menit kedepan, bak seorang instruktur kawakan aku mengajari Tante Vivi tentang penggunaan program aplikasi Windows dan Internet. Aku berusaha menjelaskan sesingkat dan seefisien mungkin agar tidak terlalu membuang banyak waktu, bagaimanapun aku jadi tidak enak juga karena hari sudah semakin malam. Kulirik arlojiku sudah hampir setengah 12 malam.
"Sudah malem Tante..., besok-besok khan masih bisa belajar Tante..., mm sekarang saya pulang dulu ya Tante...", kataku sambil setengah berjalan hendak keluar kamar.
"Iya deh..., waah..., makasih ya Ar..., kamu pinter sekali mm..., Tante gimana harus ngucapin terima kasih sama kamu Ar..., hik..., hik..", tanyanya sambil tertawa kecil.
"aah..., Tante ini ada-ada aja..., sudah deh..., sudah malem Tante...", jawabku sambil berjalan keluar, Tante Vivi mengikuti di belakangku. Kami terdiam sejenak. Sambil berjalan aku tersenyum, "Gilaa...", Tante Vivi begitu baik dan sopan, ternyata tak seperti yang aku duga dasar otak ngeres, bisikku dalam hati.

Dipintu depan, sekali lagi Tante Vivi mengucapkan banyak terima kasih, aku menyalaminya tangannya yang halus erat-erat. Aku sudah hendak membuka pintu depan, ketika tiba-tiba seekor laba-laba hitam yang cukup besar dengan kaki-kakinya yang panjang langsung meloncat ke lantai begitu tanganku memegang handle pintu, refleks tanganku kutarik ke belakang sambil meloncat mundur, aku tidak tahu dan tidak sengaja ketika diriku menabrak tubuh Tante Vivi, sontak ia terhuyung dan menjerit hendak jatuh. Namun dengan sigap walaupun tubuhku masih setengah merinding, aku langsung memegang lengan kanannya dan kutarik tubuhnya ke arahku. Dalam sedetik tubuhnya telah berada dalam pelukanku. Sweear..., saya memang tidak sengaja memeluk tubuhnya.

"Aduuh..., Ar..., ada apa sih kamu..", pekiknya.
"Anuu Tante..., laba-laba gedhe...", sahutku sambil memandang ke sekeliling ruangan, aku bener-benar senewen sekali rasanya. Sialaan, laba-laba sialaan ngagetin orang aja" bisikku dalam hati. Saat itu aku masih belum sadar kalau kedua tanganku masih memeluk tubuh Tante Vivi, maklum aku sendiri masih terasa merinding.

"Ar...", bisik Tante Vivi di telingaku. Aku menoleh dan terjengah. Ya Ampuun, wajah cantiknya itu begitu dekat sekali dengan mukaku. Hembusan nafasnya yang hangat sampai begitu terasa menerpa daguku. Wajahnya kelihatan sedikit berkeringat, sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih mbangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka..., duh cantiknya. Sejenak aku terpana dengan kecantikan wajahnya yang alami. Ada banyak kesamaan lekuk wajahnya yang cantik dengan wajah kekasihku Selva. Seolah teringat kemesraan dan kebersamaanku bersama Selva, seolah tanpa sadar dan tanpa dapat aku mencegahnya..., kudekatkan mukaku kepadanya. Kesemuanya seolah terjadi begitu saja tanpa aku mengerti sama sekali. Seolah ada magnet yang menuntun dan membimbingku di luar kesadaran..., dan dalam 2 detik bibirku telah mengecup lembut bibir Tante Vivi yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya..., terasa manis.

Selama kurang lebih 10 detik aku mengulum bibirnya, meresapi segala kehangatan dan kelembutannya. Dan ketika aku menyadari bahwa Tante Vivi bukanlah Selva, maka...
" ooh...", bisikku kaget, sesaat setelah kecupan itu berakhir. Dengan perasaan kaget bercampur malu aku melepaskan pelukanku. Aku memandang Tante Vivi dengan sejuta rasa bersalah, namun seolah tak yakin aku juga baru menyadari kalau Tante Vivi sama sekali tak memberontak ketika aku menciumnya. Kini yang aku lihat betapa wajahnya yang cantik kelihatan semakin cantik. Kedua pipinya yang putih bersih bersemu merah bak boneka barbie, kedua matanya yang sipit memandang redup kepadaku, sementara kedua belah bibirnya masih setengah terbuka dan merekah basah menawan hati.
"Tan.., te..., apa yang kulakukan...", bisikku masih setengah tak percaya atas sikapku barusan kepadanya.

Tante Vivi sama sekali tak menjawab. Tidak ada rona kemarahan di wajahnya yang cantik. Ia hanya tersenyum setengah malu-malu dan menundukkan muka. Sejenak kami berdua terdiam..., hening dalam pikiran masing-masing.

Kali ini aku benar-benar malu pada diriku sendiri, terlalu gampang mengumbar perasaan kepada setiap orang..., aahh tetapi..., kenapa ada sesuatu yang lain pada tubuhku..., sesuatu yang aku begitu sangat mengenalnya..., astaga..., aku merasa batang penisku telah berdiri tegak..., tuing..., tuiing..., gilaa begitu cepatnya batang penisku mengeras dan mendesak celana dalamku seolah ingin berontak keluar.
"Sudahlah Ar... ", bisik Tante Vivi lirih, memecah keheningan itu. Aku tersadar pula.
"Maafkan Ari Tante..., sa..., saya..., teringat Selva Tante...", sahutku setengah gugup.

Tante Vivi tersenyum semakin manis. Bibir ranumnya yang barusan kukecup semakin indah menawan membentuk senyuman mesra.
"Kamu rindu Ar..., sama dia...", tanyanya seolah melupakan peristiwa yang barusan. Aku sedikit bernapas lega karena ia kelihatan sama sekali tidak marah. Aku tidak tahu apa alasannya namun yang penting aku bisa meredam rasa maluku.
"Eehh..., iya Tante...", sahutku beralasan.
"Ya sudahlah..., tidak pa-pa Ar...", sahutnya enteng. Mau tak mau aku jadi bingung juga melihat sikapnya. Semudah itukah. Mencium seseorang yang bukan apa-apanya secara disengaja, itu tidak apa-apa?
"Tante tidak marah...?", tanyaku balik. Entah kenapa aku seolah diatas angin melihat sikapnya dan seolah timbul keberanianku.
"Tidak Ar...", jawabnya sambil tetap tersenyum manis. Kedua matanya memandangku dengan sejuta arti. Dalam pandanganku wajahnya kelihatan semakin bertambah cantik dan cantik. Sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang terpelajar seperti aku yang sudah kenyang dengan cerita pengalaman orang lain plus pengalamanku sendiri, apalagi soal perilaku seks. Sikap Tante Vivi seperti itu seolah sebagai tantangan dan ajakan. Otakku berpikir cepat, menimbang..., dan memutuskan. Sampai disitu jalan pikiranku menjadi buntu..., yang ada hanyalah..., nafsu.

Seolah ada yang memberiku kekuatan dan keberanian, kuraih tubuh Tante Vivi yang masih berada di hadapanku dan kubawa kembali ke dalam pelukanku. Benar saja..., ia sama sekali tak melawan atau memberontak. Seolah lemas saja tubuhnya yang seksi montok itu berada dalam dekapanku. Wajahnya yang cantik bak bidadari kahyangan memandangku pasrah dan tetap dengan senyum manis bibirnya yang kian menggoda. Kedua pipinya kelihatan semakin memerah pula menambah kecantikannya. Aku semakin terpana.
"Apa yang ingin kau lakukan Ar...", bisiknya lirih setengah kelihatan malu.

Kedua tanganku yang memeluk pinggangnya erat terasa sedikit gemetar memendam sejuta rasa. Dan tanpa terasa jemari kedua tanganku telah berada di atas pantatnya yang bulat. Mekal dan padat. Lalu perlahan kuusap mesra sambil berbisik.
"Tante pasti tahu apa yang akan Ari lakukan...", bisikku pelan. Jiwaku telah terlanda nafsu. Telah kulupakan bayangan Dina dan juga Selva. Aku lupa diri, setan-setan burik telah menyapu habis pikiranku tentang mereka.
"Kau yakin Ar...", tanya Tante Vivi lirih. Ooh..., desakan kedua buah payudaranya yang besar pada dadaku membuat batang penisku semakin tegang tak terkira.
"Yaa..., Tante...", sahutku tanpa mengerti maksud pertanyaannya. Dengan cepat aku sudah membayangkan keindahan tubuhnya yang telanjang bulat, kemontokan payudaranya yang besar dan kencang, kemulusan kulit tubuhnya dan..., aahh bukit kemaluannya yang besar..., wooww...

Tanpa terasa batang penisku kurasakan memuntahkan cairan beningnya, aku merasa seolah telah memasuki liang vaginanya. Tanpa dapat kucegah, kuremas gemas kedua belah pantatnya yang terasa kenyal padat dari balik celana jeans ketatnya.
"Oouuhh... ", Tante Vivi mengeluh lirih.
Bagaimanapun juga anehnya aku saat itu masih bisa menahan diri untuk tidak bersikap over atau kasar terhadapnya, walau nafsu seks-ku saat itu terasa sudah diubun-ubun namun aku ingin sekali memberikan kelembutan dan kemesraan kepadanya. Hanya setan-setan burik sialan itu yang menyuruhku agar segera melucuti pakaian Tante Vivi dan memperkosa sepuasnya.
"aah..., ki.. Kita ke kamar Tante...", bisikku semakin bernafsu.

Lalu dengan gemas aku kembali melumat bibirnya. Kusedot dan kukulum bibir hangatnya secara bergantian dengan mesra atas dan bawah. Kecapan-kecapan kecil terdengar begitu indah, seindah cumbuanku pada bibir Tante Vivi. Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat padat dan kenyal. Aku masih menahan diri untuk tak bergerak terlalu jauh, walau sebenarnya hatiku begitu ingin sekali meraba selangkangan atau meremas payudaranya. Entah kenapa aku ingin bersikap lembut dan romantis. Bahkan kecupan bibirku padanya kulakukan selembut dan semesra mungkin, aku kira Tante Vivi sangat menyukainya. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh..., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil mbangir beradu mesra dengan hidungku. Kurasakan kedua lengan Tante Vivi telah melingkari leherku dan jemari tangannya kurasakan mengusap mesra rambut kepalaku.

Batang kejantananku terasa semakin besar dan mendesak liar di dalam CD-ku. Teng..., teng..., teng..., aku mulai merasakan kesakitan apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang penisku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut Tante Vivi yang empuk.

Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, birahiku telah mengalahkan segala-galanya. Keyakinan dan akal sehatku seakan telah tertutup oleh lingkaran nafsu. Kenikmatan seks yang pernah kurasakan bersama Dina telah membuatku semakin lupa diri. Seolah menemukan daging segar yang baru, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Vivi.

aah..., wajah cantiknya itu kelihatan semakin berkeringat, dan bibirnya yang basah oleh liurku merekah indah. Begitu ranum bak bibir gadis remaja. Kedua bola matanya sedikit redup dan memandangku pasrah. Aku melihat ada sejuta keinginan terpendam dalam sorot matanya itu. Aku bisa menduga Tante Vivi pasti tak tahan hidup menjanda, bagaimanapun aku tahu ia pasti jelas sudah tak perawan lagi,... aku hanya bisa menduga-duga dengan apa Tante Vivi melampiaskan kebutuhan batinnya selama ini.

"Aku menginginkanmu, Tante...", bisikku padanya terus terang. Pikiranku sudah tertutup oleh nafsu, namun bagaimanapun aku tak ingin grusa-grusu seenak sendiri. Dengan sikapku ini otomatis aku melatih diri untuk mengontrol keinginan seks-ku yang cenderung vulgar.
"oouh..., Ar..., Tante juga ingin..., oouhh..".

Belum habis ucapannya yang sangat merangsang itu, badanku membungkuk dan meraih tubuh montok Tante vivi dalam pondonganku. Ia agak sedikit kaget melihat tindakanku, namun sejenak kemudian ia tertawa genit dan manja ketika aku mulai membopong tubuh seksinya itu masuk kembali melintasi ruang tengah menuju ke dalam kamar. Lengan kanannya merangkul leherku sementara jemari tangan kirinya mengusap mesra kedua pipi dan wajahku. Tante vivi kelihatan setengah malu-malu kubopong seperti ini.
"Kamu ganteng Ar...", bisiknya padaku mesra sambil tersenyum manis.
"Kamu juga cantik Tante...", balasku tak kalah mesra. Kami berdua sempat tertawa kecil karena kekanakan ini.
"Ar..., panggil aku Vivi saja yaa...", ujar Tante Vivi padaku. Aku mengangguk senang.

Di dalam kamarnya, kuturunkan tubuh Tante Vivi dari boponganku di sisi kiri tempat tidurnya. Kami berdua saling berpandangan mesra dalam jarak sekitar 1 meter. Aah..., kunikmati seluruh keindahan bidadari di depanku ini, mulai dari wajahnya yang cantik menawan, lekak-lekuk tubuhnya yang begitu seksi dan montok, bayangan bundar kedua buah payudaranya yang besar dan kencang dengan kedua putingnya yang lancip, perutnya yang ramping dan pantatnya yang bulat padat bak gadis remaja, pahanya yang seksi dan aah..., kubayangkan betapa indah bukit kemaluannya yang kelihatan begitu menonjol dari balik celana jeansnya..., mm..., betapa nikmatnya nanti saat batang penisku memasuki liang vaginanya yang sempit dan hangat..., mm akan kutumpahkan sebanyak mungkin air maniku ke dalam liang vaginanya sebagai bukti kejantananku..., "Oohh.., Vivi...", bisikku dalam hati. Akan kulumat dirimu dengan kenikmatan.
"Ar..., kamu duluan sayang...", bisik Tante Vivi, membuyarkan fantasi seks-ku padanya.

Wajahnya yang cantik tersenyum manis, seolah ia mengetahui apa yang ada dalam pikiranku kedua jemari tangannya kini berada di atas kedua belah payudaranya sendiri. Tante Vivi mulai mengusap perlahan kedua bulatan payudaranyanya yang besar dari balik baju kemejanya. Seolah merangsang dan menggodaku. Aku tak tahan melihat tingkahnya, andai saja Tante Vivi tahu betapa sakitnya batang penisku yang terjepit di dalam CD-ku seolah memberontak ingin keluar. aah..., dengan cuek aku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu dengan cepat..., srrt..., kulemparkan bajuku sekenanya ke samping, pandangan kedua mataku seolah tak lepas dari tubuh Tante Vivi yang semakin menggoda..., srrt..., kutarik kaos singletku keatas sampai lepas dan kulempar sekenanya pula. Tak puas sampai di situ, dengan jemari gemetar menahan nafsu aku mulai membuka sabuk celana dan menarik turun ritsluiting celana panjangku dan sruut..., langsung turun ke bawah (kebetulan aku mengenakan celana baggy dari katun).

"Ooh...", Tante Vivi memekik kecil saat melihat tubuhku yang setengah polos. Kulihat kedua jemari tangannya meremas kuat payudaranya sendiri yang besar, mulutnya yang manis sedikit melongo dan kedua bola matanya yang hitam seakan setengah melotot pula memandang ke tubuhku bagian bawah. Sekilas aku melirik ke bawah dan tersenyum geli sendiri. Bagaimana tidak ternyata batang penisku yang sudah tegak itu mendesak hebat ke atas sampai kepala penisku tanpa terasa melongok keluar dari dalam celana dalamku. Begitu besar dan tebal mendongak ke atas persis di bawah pusarku. Kepala penisku kelihatan bengkak memerah karena tegang yang tak terkira. Batang penisku tidak terlalu panjang memang hanya sekitar 14 centi, namun ukuran diameternya cukup besar dan yang paling membuatku bangga adalah bentuknya yang mirip sekali dengan milik bintang film porno "Rocco Siffredi"..., montok dan berurat.

Kuusap pelan batang penisku yang sedang berdiri nakal itu dari balik celana dalam. mm..., terasa begitu nikmat. Kurasakan ada sedikit cairan bening yang keluar dan menempel pada jemari tanganku. mm..., bagaimanapun juga batang penisku ini pernah merobek dan merenggut keperawanan Dina. Tass..., Sekelebat bayangan wajah Dina seolah berada di depan pelupuk mataku. Aku seolah tersadar kembali.

Astaga..., aah..., apa yang aku lakukan ini?, nuraniku seakan menjerit. Sejenak pikiranku berkecamuk. Dan ketika bayangan wajah kekasihku Selva muncul, batinku semakin menjerit. aah..., apa yang aku lakukan Selva..? Terjadi perang berkecamuk di dalam batinku. Nuraniku mengatakan agar aku sadar mengingat resiko buruk yang mungkin terjadi dengan perbuatan bejatku, namun dilain pihak pikiranku mengatakan sangat ingin mencumbu dan melampiaskan nafsu seks-ku kepada Tante Vivi. Sikap Tante Vivi bagiku merupakan kejutan besar yang menggairahkan hati. Aku tak ingin melewatkan kesempatan indah yang tak mungkin dilain waktu akan terulang lagi. Batinku menjerit namun pikiranku yang dipenuhi nafsu seolah lebih kuat. Entah berapa lama aku memejamkan mata menanti perang di batinku akan berakhir. Aku merasa imanku terlalu lemah sedangkan darah mudaku yang penuh dengan gejolak birahi terlalu begitu perkasa.

Ketika aku membuka kedua mataku kembali kulihat Tante Vivi sudah tak berada di hadapanku lagi. Semula aku sedikit heran, lalu instingku menoleh ke samping kiri dan..., Astagaa..., mataku terbeliak kaget menyaksikan pemandangan indah yang begitu luar biasa..., begitu mempesona..., begitu menggairahkan..., begitu aahh...

Kedua mataku melotot sampai ingin keluar menyaksikan tubuh Tante Vivi yang kini ternyata telah berada di atas pembaringan tanpa tertutup sehelai benang. Betapa begitu putih mulus tubuh moleknya yang bugil telanjang bulat, jauh lebih putih dari tubuh Dina..., memamerkan semua keindahan, kemulusan dan kemontokan lekak-lekuk tubuhnya yang bak gadis usia remaja.

Tante Vivi sambil tersenyum manis ke arahku rebah telentang dengan posisi setengah mengangkang mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya yang paling terlarang. Kedua buah dadanya yang ternyata memang sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah semangka. Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas seolah menantangku untuk segera kujamah. Begitu pula perutnya masih terlihat ramping dan seksi tanpa lipatan lemak, menandakan Tante Vivi belum pernah melahirkan seorang anak. Aku menelan ludah melihat bagian bawah tubuhnya yang kini ternyata tak memiliki sehelai rambutpun. Rupanya Tante Vivi telah mencukur habis bulu kemaluannya yang kemarin sempat kulihat begitu sangar dan vulgar.

oohh..., tanpa terasa mulutku mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluannya yang besar. Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan alat kemaluan wanita dari keturunan Tionghoa. Belahan bibir kemaluannya yang sangat putih mulus walau sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil mulai sekitar 6-8 centi di bawah pusar yang terbelah di bagian tengahnya sampai ke selangkangan bagian bawah di atas lubang duburnya yang hitaman kecoklatan. Labia Mayoranya yang sangat merangsang itu terlihat masih saling menutup rapat satu sama lain meskipun Tante Vivi sudah setengah mengangkangkan kedua pahanya, seolah menyembunyikan liang vaginanya yang memang sangat terlarang. Ini berarti liang vaginanya pasti masih sangat sempit walaupun ia sudah tak perawan lagi. Dari lekukan sempit dan panjang yang terbentuk dari kedua belah labia mayoranya itu aku sedikit dapat melihat dan menduga betapa merahnya liang kenikmatan miliknya.

Batang penisku yang semula agak lemas kini langsung kembali perkasa. Dengan cepat kurasakan kepala penisku kembali mendesak ke atas melongok keluar dari celana dalam seolah ingin mengintip apa yang sedang terjadi dihadapanku dan membuatku takjub.
oohh..., Vivi..", bisikku lemah. Batinku seolah menyerah kalah., "Maafkan aku Selva..., aku sangat mencintaimu..., tapi ini hanyalah seks..., bukan cinta..."

Lalu kreekk..., Dengan gemas kurobek celana dalamku yang terasa kecil bagi alat kelelakianku. Aku sudah tak peduli lagi dengan segala sesuatunya. Batang penisku yang tegang itu langsung mengacung keluar setengah mengarah ke atas sambil manggut-manggut naik turun menyetujui pikiranku yang ngeres. Aku sedikit heran juga menyaksikan batang penisku yang kelihatan sedikit lebih besar dari biasanya, begitu pula dengan kepala penisku yang terlihat begitu nanar dan mekal berwarna kemerahan saking tegangnya. Urat-urat diseluruh permukaan batang penisku sampai menonjol keluar semua membentuk guratan-guratan kasar setengah melingkar.

Dengan lutut setengah gemetar seakan tak percaya menyaksikan semua itu, perlahan-lahan aku mulai naik ke atas pembaringan menyusul Tante Vivi yang sudah menungguku sejak tadi. Dengan rambut setengah terurai di pipi Tante Vivi tersenyum manis memamerkan keindahan bibir dan gigi-giginya yang putih menawan. Matanya seolah meredup dan pasrah. Namun nafasnya sedikit terdengar kurang teratur menandakan ia sedikit tegang atau mungkin juga ia sedang dilanda nafsu birahinya.
"Vivii...", bisikku penuh nafsu. Setengah dag-dig-dug kubaringkan tubuhku persis di sebelah kanan tubuhnya yang bugil. Kupandangi wajahnya yang cantik mempesona, lalu dengan jemari gemetar kuelus mesra kedua belah pipinya yang halus. Tante Vivi tersenyum manja padaku.

"Ar..., beri aku kenikmatan...", bisiknya tanpa malu-malu. Sorot matanya terlihat lemah seolah memohon. Aku tersenyum penuh gairah.
"Aahh Vivi..., aku akan memberimu kepuasan..., aahh..., kau lihat penisku Vi..., dia yang akan memberimu kenikmatan...", bisikku nakal. Tante Vivi mau tak mau melirik ke bawah menyaksikan alat vitalku yang besar dan keras saking kuat ereksinya.
"Iihh..., hik..., hik..., kau nakal Ar..., oohh..., sshh..., lakukanlah sekarang Ar...", tiba-tiba ia berbisik sedikit keras. Aku terkaget heran.
"Sekarang Tante...?", tanyaku heran, sedikit kurang sambung.
"Yaa..., sekarang Ar..., naiki aku..., masuki tubuhku sekarang..., sshh...", bisiknya semakin keras. Sembari jemari tangan kirinya memegang lenganku mengajak untuk...

Astagaa..., Tante Vivi begitu bernafsunya sampai tanpa sungkan-sungkan lagi memintaku untuk segera menyetubuhinya. Namun sebenarnya aku masih ingin mencumbunya terlebih dulu, menikmati kehalusan kulit tubuhnya, meremas-remas dan menghisap kedua puting susunya sampai puas dan yang paling aku gemari adalah pasti mencumbu alat kelaminnya sampai ia orgasme seperti yang sering aku lakukan terhadap Dina. Terus terang aku sudah tergila-gila pada alat kelamin wanita. Setiap akan bersenggama dengan Dina tak pernah sekalipun aku mengawali persetubuhan tanpa terlebih dahulu aku mencumbu alat kewanitaannya sampai Dina orgasme berulang-ulang. Baru setelah Dina lemas kehabisan tenaga setelah melepas kenikmatan, aku baru memasukkan batang penisku ke dalam liang vaginanya yang sempit dan licin terkena muntahan cairan orgasmenya, mengocoknya di dalam situ sampai air maniku muncrat ejakulasi.

"Kita bercumbu dulu Tante...", bisikku merasa diatas angin. Aku bisa menduga mungkin Tante Vivi terlalu lama menahan keinginan seksualnya sampai begitu kesempatan untuk itu ada ia sudah tak mampu menahan gejolak birahinya yang sekian lama tertahan.
"aahh..., kita lakukan sekarang saja Ar...", bisiknya seolah setengah memaksa. Tanpa rasa malu sedikitpun. Kuperhatikan jemari tangan kirinya kini telah berada di atas selangkangan mengusap-usap bukit kemaluannya yang montok merangsang.

Astaga..., rupanya Tante Vivi sudah tak tahan lagi. Aku tersenyum penuh gairah, aku tahu liang vaginanya pasti sudah gatal karena sekian lama tidak dipakai. Beruntung sekali suami Tante Vivi dulu yang pertama kali mencicipi dan menikmati keperawanannya..., pasti luar biasa nikmat saat pertama kali menembus liang vaginanya yang sempit. mm..., aku jadi tak tahan karena teringat saat pertama kali batang penisku memasuki liang vagina Dina dan merobek selaput keperawanannya. Adalah saat terindah bagi seorang laki-laki ketika memuntahkan air maninya dengan sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vagina seorang wanita yang masih perawan. Saya telah mengalami hal itu dan memang luar biasa nikmat. Dan kini mungkin saatnya bagi saya untuk menikmati liang vagina seorang janda..., mm..., pikirku ngeres.

"Kau yakin Vi..., kita tidak bercumbu dulu sayang...", bisikku gemas.
"Ar..., kamu nakal...", sahut Tante Vivi padaku, wajah cantiknya kelihatan memelas. Aku jadi geli baru pertama kali ini aku melihat seorang wanita dengan nafsu seks sebesar Tante Vivi, sampai memelas-melas seperti ini. Tapi aku maklum karena mungkin Tante Vivi telah ngempet tidak berhubungan seks bertahun-tahun. Tapi bagaimanapun aku berpantangan untuk tidak langsung menyetubuhinya. Tante Vivi bukanlah ayam betina yang langsung saja bisa digagahi. Aku ingin memberinya terlebih dahulu sensasi-sensasi seks terindah pada seluruh sekujur tubuhnya sampai ia benar-benar merasakan puncak sekaligus akhir dari pendakian indah sebelum memasuki tahap persetubuhan untuk mencapai kenikmatan sesungguhnya. Walaupun sebenarnya aku mau saja langsung menggagahinya dan memuasinya dengan cepat, tapi bagiku itu tiada berkesan selain merasakan kenikmatan sesaat. Dan seolah bagai mimpi saja ketika akhirnya dengan sigap aku telah berada diatas tubuh Tante Vivi yang telanjang bulat dan menindihnya gemas.

Kami berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit tubuh kami saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam kemesraan. Aku tak pernah menyangka bisa meniduri bidadari secantik Tante Vivi. Batang penisku yang berdiri tegak seakan kena setrum saat menyentuh bukit kemaluan Tante Vivi yang halus dan sangat empuk. Maklum bukit kemaluannya memang relatif sangat besar dan montok. Jauh lebih montok dibanding milik Dina.

Dengan nakal kepala penisku menyelip diantara bibir kemaluannya yang rapat. mm..., terasa begitu nikmat saat kulit kepala penisku menggesek daging celah labia mayoranya dan menyelip ke dalam. Tante Vivi mungkin mengira batang penisku ingin memasuki liang vaginanya, karena begitu kepala penisku menyelip di antara labia mayoranya kurasakan ia membuka kedua pahanya lebar-lebar. Aku merasa betapa begitu halus kulit kedua belah pahanya yang langsung mengapit pinggangku lembut. Sengaja aku tidak menekan pinggulku terlalu ke bawah untuk berjaga-jaga agar jangan sampai kepala penisku sampai terdorong kebawah memasuki liang vaginanya, walau aku sebenarnya juga bisa menduga pasti tidak mudah bagiku nanti memasukkan alat kejantananku ke dalam liang vaginanya. Kalau benar Tante Vivi sudah lama tidak berhubungan seks..., mm..., liang vaginanya pasti sempit luar biasa.

Sambil mengusap mesra rambut Tante Vivi yang panjang, mulutku dengan gemas kembali mengecup dan mengulum bibir Tante Vivi yang basah dan hangat. mm..., cupp..., cupp..., mulutku secara bergantian mengulum bibirnya yang atas dan yang bawah. Dengan tak kalah mesra Tante Vivi membalas cumbuanku pada bibirnya. Sesekali lidahnya dijulurkan keluar untuk dengan segera kuhisap dan kukulum mesra. Terasa begitu gurih manis lidah dan bibirnya. Sementara bibir kami bercumbu, kurasakan dua sensasi indah di dua tempat yang paling terlarang pada tubuh Tante Vivi. Pertama di selangkangannya, kedua di bagian dadanya.

mm..., kedua payudaranya yang luar biasa besar itu terasa begitu kenyal dan padat menekan nikmat dadaku, kedua puting payudaranya yang lancip seakan menggelitik kulit dadaku. Kedua jemari tangan Tante Vivi yang halus mengusap-usap gemas daging bokongku, berulang kali ia mencoba untuk menekan pantatku ke bawah agar batang penisku segera memasuki liang vaginanya, namun aku bertahan agar pinggulku tetap setengah terangkat, hanya kepala penisku saja yang sedikit terjepit diantara labia mayoranya. Butuh suatu kesabaran agar rasa nikmat pada kepala penisku yang sudah setengah terjepit di bibir kemaluannya itu tidak membuatku berbuat lebih jauh lagi menuruti keinginan Tante Vivi yang sudah ngebet.

Sesekali Tante Vivi dengan tak sabar menyelipkan jemari tangan kanannya diantara selangkangan kami, lalu dengan gemas ia meremas batang penisku dan mengarahkan kepala penisku yang sudah setengah terjepit di situ ke mulut liang vaginanya yang terasa licin dan buntu, menandakan liang vaginanya itu sangat jarang dipakai. Mungkin hanya mantan suaminya saja dulu. Aku segera menarik pinggulku agak ke atas karena terasa geli-geli nikmat pada batang penisku yang diremasnya. Aku melepaskan ciumanku pada bibir Tante Vivi.

"Aaoohh..., Tante geli ahh...", erangku setengah keenakan.
"Uuhh..., kamu nakal Ar...", bisik Tante Vivi lirih. Bibirnya yang ranum kemerahan sangat basah penuh air liurku. Kulihat wajah cantiknya tampak berkeringat basah. Kelihatan ia sudah sangat ngebet kepingin senggama. Kedua matanya yang semakin sipit memandangku lemah seolah memelas. Aku kasihan juga melihatnya.
"Tante sudah kepingin sekali yaachh...", bisikku gemas melihatnya.
Tante Vivi tidak menjawab namun jemari tangannya mencubit pinggangku keras-keras. Aku memekik kesakitan. "Aaooww...".

Lalu dengan gemas, mulutku kembali melumat bibir ranumnya yang basah..., hanya lima detik mulutku melepas bibirnya dan bergerak ke atas dan, "Oouuhh...", Tante Vivi merintih manja saat bibir dan lidahku


dengan gemas mulai menggelitiki telinga kirinya. Sesekali gigiku setengah menggigit membuat Tante Vivi menggelinjang geli keenakan.
"Nngghh..., eenngghh..., Ar...", pekiknya lirih. Ia sangat terangsang sekali dengan ulahku.

30 detik kemudian dengan cepat aku menggeser tubuh ke bawah. Kini saatnya bagiku untuk bermain-main dengan kedua buah payudaranya sepuas mungkin. Kali kurebahkan perutku merapat ke tubuh Tante Vivi, dan mm..., perutku terasa menekan nikmat bukit kemaluannya yang besar..., sedikit kurasakan kalau bukit kemaluannya itu sedikit agak kasar, seperti bekas kalo ada rambut yang dicukur.

Dari dekat aku dapat menyaksikan betapa luar biasa besarnya payudara Tante Vivi, warnanya begitu putih bersih dan mulus. Kedua puting payudaranya yang kecil lucu seakan tidak sebanding dengan besar susunya, berwarna coklat kemerahan. Baru kali ini aku melihat seorang wanita memiliki susu yang sangat besar, selama ini aku hanya melihatnya di dalam film BF, itupun milik cewek bule. Bahkan jemari tanganku yang kubuka selebar mungkin masih belum bisa melingkari bulatan kedua buah dada Tante Vivi yang extra large. Dalam hati..., susu sebesar ini berapa ukuran BH-nya yaah..., aku jadi makin tegang sendiri memikirkannya. Dengan gemas kedua jemari tanganku yang sudah melingkari kedua buah dadanya bergerak meremas-remas pelan..., wooww..., begitu kenyal, kencang dan hangat.

"Nngnngghh..., oouuhh", Tante Vivi memejamkan kedua matanya dan mulutnya yang basah mengerang keenakan. Aku tersenyum. "Kuperkosa habis-habisan kau nanti Tante..." bisikku dalam hati penuh nafsu. Aku menunduk dan mulutku mulai menghisap nikmat susunya yang sebelah kiri secara perlahan. Lidahku dengan gemas menyentil putingnya dan menggigit pelan.
"Aaww..., nngghh...", Tante Vivi merintih semakin keras. Aku jadi ikutan terangsang. Mulutku mulai menghisap putingnya sedikit lebih keras dan semakin keras. Kubuka mulutku selebar mungkin, seolah ingin menelan susunya. Kuhisap sekuatnya susu kirinya sampai pipiku terasa kempot, lidahku dengan ganas memilin-milin putingnya dengan perasaan geregetan.
mm..., nikmatnya..., Pop..., pop..., berulang kali aku menghisap dan melepaskan hisapanku dengan kuat sampai berbunyi nyaring. Puas dengan hisapan, lidahku yang basah kujalarkan menjilati seluruh permukaan payudaranya sampai penuh dan basah oleh air liur.

Tante Vivi bergerak semakin liar. Mulutnya berulang kali memekik dan mengerang keenakan menikmati sedotan mulutku pada susunya.
"Aaww..., ngghh..., aww...". Jemari tangannya tak tahan mengerumasi rambut kepalaku dengan gemas. Mulutku kini berpindah untuk menghisap, mengulum dan menjilati susunya yang sebelah kanan, sementara susunya yang kiri gantian kuremas-remas dengan lembut. Seperti juga yang kiri, aku mengenyot-ngenyot payudara kanannya membuat Tante Vivi semakin menggeliat hebat keenakan.
"aaww..., Ar..., hu.., hu..., sudah Ar..., ngghh..., sudah sayang...", erangnya tak kuat menahan rasa nikmat. Aku semakin bersemangat. Kuhisap, kukulum, kupilin, kukenyot dan kujilati payudaranya yang kanan berulang-ulang kali tanpa ampun, membuat Tante Vivi berulangkali pula memintaku untuk segera menyudahi.
"aaww..., sudah sayang..., aduuh..., hu.., huu.., ngghh..., k..., kau nakal Ar...", erang Tante Vivi sambil tetap mengerumasi rambut kepalaku. Aku tak peduli, cukup lama sekali aku mengenyot dan menyusu kedua belah payudaranya yang besar. Mungkin sekitar 10 menitan lebih.

Setelah puas barulah aku dapat melihat kedua buah dadanya yang tadinya begitu putih mulus dan bersih itu kini sampai basah penuh liur, dan di sana sini tampak kemerahan bekas hisapan mulutku. Terutama disekitar kedua putingnya yang kini tampak semakin merah saja, kulihat ada sedikit guratan merah di situ mungkin bekas gigitanku tadi..., gemass sih.

Tante Vivi memandangku sayu, kedua matanya sedikit berair dan memerah, bibirnya gemetar. Wajah cantiknya itu kelihatan sedikit geregetan.
"Kamu benar-benar nakal sekali Ar..., Awas kamu yaa...", bisiknya lirih padaku seakan ingin membalas dendam. Aku tersenyum padanya, lalu tiba-tiba kedua jemari tangannya tadi mendorong kepalaku ke bawah.
mm..., rupanya Tante Vivi ingin aku mencumbu alat kemaluannya. Wooww..., ini favoritku malah..., dengan sigap aku menggeser ke bawah..., mm terasa enaak saat perutku menggesek bukit kemaluannya. Lidahku kujulurkan menjilati permukaan perutnya yang halus dan sejenak sempat kugelitik lubang pusarnya dengan lidah dan bibirku. Dan ketika mukaku sampai di atas selangkangannya..., wooww...,ini dia ee..., alamak indahnya alat kemaluan milik Tante Vivi ini. Begitu putih dan mulus sesuai dengan warna kulit tubuhnya, disana-sini masih bisa terlihat secara samar kehitaman bekas cukuran bulu jembut kemaluannya. Alat kemaluannya itu kelihatan besar dan tebal, membentuk sebuah bukit kecil di atas selangkangannya.

Kini dengan jelas aku dapat melihat dari jarak kurang dari 15 centi bibir labia mayoranya yang tebal saling menutup sangat rapat satu sama lain membentuk lekukan celah sempit memanjang vertikal sampai diatas lubang duburnya yang kecil berwarna hitam kecoklatan. Liang vaginanya seolah tertutup rapat tersembunyi oleh ketebalan labia mayoranya itu. Aroma khas bau alat kemaluannya benar-benar memabukkanku. Hidungku kembang-kempis menarik napas panjang menghirup aroma nikmat bau alat kelaminnya.
Mm..., memang aku begitu menyukai bau alat kelamin wanita. Baunya seharum milik Dina. Namun berbeda dengan milik Dina yang sedikit lebih kecil bentuknya, alat kemaluan Tante Vivi yang besar ini dapat kuduga memiliki liang senggama yang lebih panjang dan dalam. mm..., pasti daya tampung air maninya pasti banyak sekali. Seolah mengerti pikiranku, batang penisku yang sudah ereksi bak pisang raja itu manggut-manggut pelan mengiyakan walau sudah terjepit di atas kasur.

Tiba-tiba tanpa kuduga tangan Tante Vivi menekan kepalaku ke bawah, sehingga tanpa dapat kucegah lagi mukaku langsung nyosor terbenam ke dalam selangkangannya yang putih merangsang. Hidungku sampai amblas masuk terjepit diantara labia mayoranya yang tebal. Aku tidak bisa bernapas bebas, yang kurasakan hidungku hanya bisa menghisap udara bercampur aroma khas bau alat kewanitaannya yang menyengat dan memabokkan dari sela-sela bibir kemaluannya. Sementara mulutku yang menekan bukit kemaluannya agak sebelah bawah terasa pas berada dimulut liang vaginanya. Aku tak menyia-nyiakan. Lidahku langsung kujulurkan ke bawah sepanjang mungkin menyelip dan menembus bibir kemaluannya dan secara perlahan mulai memasuki liang vaginanya yang terasa sempit dan licin. Aku kira cairan lendir vaginanya mulai mengalir keluar cukup banyak, terbukti ketika lidahku yang masuk sekitar 1 centi ke dalam, liang vaginanya terasa penuh dengan cairan lendir yang sedikit amis namun nikmat dirasakan. Mulutku sampai mengecap nikmat berulangkali menyedot cairan vaginanya itu.

Tante Vivi menggeliat hebat dan mulutnya mengerang panjang keenakan..., pinggulnya terkadang digoyangkan lembut kekiri-kanan dan juga keatas menikmati cumbuanku.
"aagghghh..., nggnnhhfff..., sshh..., aarr...", pekiknya nikmat. Jemari tangannya semakin menekan kepalaku ke bawah, membenamkan mukaku seluruhnya ke bukit kemaluannya.

Dalam posisi seperti ini, mau tak mau membuat hidungku semakin tak bisa bernafas, hidungku seolah tenggelam terjepit diantara bibir kemaluannya yang tebal. Bau khas alat kemaluannya terasa makin menyengat. Meski membuatku semakin terlena, namun aku bisa-bisa mati kehabisan napas juga. Kususupkan kedua jemari tanganku menyusuri ke bawah ke balik bulatan pantatnya yang kenyal dan padat, tanganku mulai meremas gemas lalu dengan buas kugoyang-goyangkan mukaku mengusap ke seluruh permukaan bukit kemaluan Tante Vivi yang hangat dan empuk. Hidungku mengambil napas sebentar lalu dengan gairah tinggi kembali kuselipkan diantara bibir kemaluannya menyentil-nyentil bulatan mungil clitorisnya dengan ujung hidungku, sementara bibir dan lidahku yang kembali kutelusupkan sekitar 1 centi memasuki liang vagina sempitnya, menggelitik-gelitik lembut mulut liang vagina merahnya sembari terus menyedot cairan lendir miliknya yang masih tersisa.

Tante Vivi menjerit dan mengerang-erang dengan keras, pinggulnya menggeliat semakin hebat menahan kenikmatan yang kuberikan pada alat kelaminnya. Aku benar-benar puas bisa membuatnya seperti itu. Kuremas dan kucengkeram kuat bulatan bokongnya yang kenyal agar jangan bergerak terlalu liar, seolah tak ingin melepaskan pagutannya, mukaku sedikit kuangkat kembali sembari menghirup udara segar lalu lidahku kujulurkan sepanjang mungkin sambil menyusuri dan menjilati permukaan bukit kemaluan lunaknya yang putih merangsang. Mulutku tak henti-hentinya mengecup gemas bukit terlarang milik Tante Vivi itu.

"oouuhh..., nngghhnngghh..., ngghh..", mulut Tante Vivi merintih dan mengerang tak karuan menahan geli dan nikmat. Pinggulnya digoyang-goyang kiri kanan, sesekali kurasakan kedua pahanya yang kini menjepit kepalaku sambil mengejan kuat ke bawah seolah ingin memuntahkan cairan kenikmatan tubuhnya. Memang kenyataannya demikian, lidahku yang sesekali menelusup masuk ke dalam liang vaginanya sambil menyentil gemas daging clitorisnya seolah menemukan sumber air kecil yang mengalir deras. Sementara tangan kiriku masih mencengkeram bokongnya, dengan gemas lalu kusibakkan dengan jemari tangan kananku bibir kemaluannya yang tebal, jemariku itu sampai gemetar seolah masih tak percaya dengan segala keindahan ini, terasa begitu lunak, hangat dan basah ketika jemari tanganku secara perlahan menyibakkan bibir kemaluannya mengintip keindahan celah dan liang vagina sempitnya yang ternyata berwarna kemerahan.

oohh..., kulihat..., liang vaginanya yang terletak sedikit di atas lubang duburnya, begitu kecil dan terlihat sempit sembari mengalirkan keluar cairan lendir kemaluannya yang berwarna bening. Agak di sebelah atas liang kewanitaannya itu kulihat bulatan daging kecil clitorisnya yang besarnya mirip seperti biji kacang ijo. Aku sedikit heran, karena liang vagina milik Tante Vivi ini kecilnya hampir sama dengan liang vagina milik Dina. Aahh..., batang penisku yang sudah berdiri tegak menunggu giliran untuk take over jadi makin cenat-cenut..., teng-teng tidak karuan..., tidak tahan nih kalau sempitnya seperti ini..., bisa-bisa tidak sampai digenjot 5 menit air maniku sudah muncrat keluar..., seperti yang aku rasakan bersama Dina akhir-akhir ini. Aku sendiri tidak habis pikir kenapa sewaktu aku dulu memperawani Dina bisa menahan gesekan dan jepitan liang vaginanya sampai 20 menit, tapi akhir-akhir ini bisa tahan tidak muncrat sampai 10 menit saja itu sudah lumayan. Mungkin saja aku terlalu terangsang saat menggagahi Dina. Entahlah.

"A.. Aarr..., Lagi sayangghh...", Tante Vivi berbisik sedikit serak. Aku sejenak tersadar dari lamunan..., He.. He..., aku jadi geli juga..., di saat lagi asyik masyuk seperti itu masih bisa juga aku ngelamun..., ngeres lagi..., he..., he..".
Kudongakkan kepala ke atas sambil kupandang wajah cantik Tante Vivi yang berkeringat agak kusut sekilas, lalu kutundukkan muka, lidahku dengan liar penuh rasa gemas kembali menjilati kedua belah permukaan labia mayoranya, kepalaku sedikit kuputar sekitar 40 derajat kekiri lalu dengan nikmat mulut dan lidahku mulai mencumbu, mengulum, memilin dan menghisap bibir-bibir kemaluan Tante Vivi secara bergantian atas dan bawah, seperti kalau kami berdua berciuman mulut.

mm..., rasanya yang jelas tidak selezat daging hamburger McDonald atau Wendys tapi yang pasti ada semacam feel great dan sensasi keindahan bercampur kenikmatan tersendiri yang tak bisa diungkapkan kata-kata begitu indah rasanya mengulum dan mengecup bibir kemaluan wanita sambil menikmati aroma khas bau alat kelaminnya dan juga suara erangan nikmatnya.
mm..., aku benar-benar bangga membuat Tante Vivi sampai berulang kali mengejan ke bawah menghentakkan kedua belah pahanya yang putih seksi, sambil tak henti-hentinya mulutnya memekik kecil dan merintih panjang menahan geli bercampur sejuta kenikmatan.
"Aahh..., nnggngghghh..., ngghghnhgghh...", rintih Tante Vivi berulang kali.

Kurang lebih 2 menitan aku mengenyot kedua belah bibir labia mayoranya dengan mulutku lalu dengan nakal kembali kusibakkan sedikit lebih lebar bibir vaginanya dan dengan cepat kujulurkan lidahku mengusap lembut celah merah diantara bibir kemaluannya..., menyentil mulut liang vaginanya yang sempit dan mungil beberapa puluh detik lalu kembali menggelitik daging clitorisnya. Tante Vivi sampai menaik-turunkan pinggulnya menahan rasa nikmat. Saat bibir dan lidahku secara bersamaan menghisap dan memilin daging kecil clitorisnya sampai pipiku sedikit kempot, tiba-tiba Tante Vivi memekik keras dan akhirnya mendesah panjang..., pinggulnya sontak diangkat ke atas seolah tak kuat menahan rasa nikmat dan mengejan pelan. Kedua pahanya menjepit ketat kepalaku dari samping kiri dan kanan. Jemari tangan kiriku yang kini terasa bebas, mengusap mesra kedua belah bulatan bokong Tante Vivi dan meremas-remas lembut.
"Aagghh..., aoohh..., sshhghffhhghh..."
Desah Tante Vivi panjang. Aku tahu ia pasti sedang meregang menuju puncak kenikmatan..., Sedetik..., 2 detik..., 3 detik..., aku merasakan kedua belah pahanya yang begitu halus dan padat menekan kepalaku mulai bergetar lembut dan mengejan semakin kuat menandakan cairan lendir kenikmatannya segera tumpah keluar..., orgasmee.

Tetapi aku berpikir lain, seketika cepat kulepaskan hisapan mulutku pada daging clitorisnya dan dengan kuat kedua tanganku membuka kedua belah pahanya yang masih menjepit kepalaku. Begitu lepas, dengan sigap aku merangkak keatas dan rebah di samping tubuh bugil Tante Vivi. Kulihat Tante Vivi masih memejamkan kedua matanya seolah sedang menikmati sesuatu, sejenak begitu tersadar kenikmatan yang ia inginkan tak tercapai..., kedua matanya terbuka dan jelalatan setengah melotot memandang selangkangannya yang kosong..., dan Tante Vivi mendapati diriku telah berada di sebelahnya sambil kutersenyum penuh kemenangan.

Wajah cantiknya yang berkeringat kelihatan memerah seolah menahan sesuatu, bibir bawahnya digigit keras seperti geram, kedua matanya yang sedikit merah memandangku seolah mau marah. Aku semakin tersenyum lebar, namun tidak demikian dengan Tante Vivi..., rupanya ia jengkel karena hampir saja aku membuatnya orgasme namun justru aku malah menghentikannya ditengah jalan.
"K.., kkamu..., benar-benar nakal sekali Arr..., hh..., teganya kamu Sayang...", bisiknya dengan bibir gemetar. Lalu dengan cepat tanpa kuduga sama sekali, Tante Vivi menggulingkan tubuh montok seksinya yang putih mulus ke atas menaiki tubuhku, Kedua pahanya dibuka lebar dan kedua belah bokongnya yang bulat padat terasa begitu kenyal dan tanpa ampun menduduki buah zakarku sementara bukit kemaluannya yang besar terasa begitu empuk menekan batang penisku yang sudah sangat tegang..., ooh..., nikmatnya.

Sambil menyunggingkan senyuman sadis Tante Vivi memandangku seolah ingin menelanku.
"Tante mau lihat sehebat apa kamu Arr...", bisiknya pelan. Aku yang masih terkaget menyaksikan ulahnya tadi hanya bisa melongo sambil menikmati sentuhan tubuh montoknya pada alat kejantananku sambil memandangi kedua buah payudara besarnya yang mengacung kencang ke depan memamerkan kedua buah puting susunya yang kelihatan sedikit membesar keras dan berwarna coklat kemerahan.

Aku masih terpana memandang keindahan tubuhnya, ketika dengan cepat Tante Vivi mengangkat pinggulnya yang ramping ke atas, kedua belah pahanya yang putih mulus kelihatan begitu seksi dan padat. Begitu gemas saat jemari tangan kanan Tante Vivi menggenggam dan meremas batang penisku..., lalu di arahkan ke bukit kemaluannya sebelah bawah..., ke depan mulut liang vaginanya..., oohh..., aku mendesah pelan menyaksikan semua itu. Aku tidak menyangka Tante Vivi melakukan semua itu tanpa perasaan risih sedikitpun, mungkin ia sudah begitu ngebet dan liang vaginanya sudah gatal kepingin disetubuhi. Sejenak aku mengira ia pasti sukar sekali memasukkan batang penisku yang sudah berdiri tegak dan besar mirip punya Rocco Siffredi. Kuluruskan kedua pahaku ke bawah agar Tante Vivi tidak terlalu kesulitan menyetubuhiku nantinya. Tetapi kali ini aku kecele..., sambil menundukkan wajah yang membuat rambut panjangnya terurai indah, kulihat Tante Vivi sejenak berkutat masih mengarahkan batang penisku ke pintu liang vaginanya lalu dengan perlahan pinggulnya diturunkan.

Oogghh..., Aahh..., aku mendelik dan mengerang nikmat saat dengan mata kepalaku sendiri kulihat bibir kemaluannya yang tebal itu vaginaar lebar menerima tusukan kepala penisku dan liang vaginanya yang merah dan sempit mulai tersibak dan menjepit ujung kepala penisku yang secara perlahan-lahan mili demi mili mulut daging liang vaginanya semakin melebar sesuai ukuran kepala penisku dan mulai menenggelamkannya ke dalam liang vagina Tante Vivi.

"Oougghhghh..., nngngnghhaahh...", pekikku keras menahan rasa nikmat yang luar biasa saat kepala penisku dalam 5 detik telah berhasil memasuki liang vaginanya yang ketat. aahh..., di dalam situ kurasakan daging vaginanya seolah sudah menjepit sedemikian kuat seolah diremas-remas membuat kepala penisku berdenyut-denyut keenakan.

Tante Vivi melepaskan jemari tangan kanannya dari batang penisku, kini kedua tangannya diletakkan di atas dadaku sambil setengah membungkuk untuk menyangga tubuhnya bagian bawah yang masih melakukan penetrasi. Ia kini memandangku dengan senyuman manisnya kembali, bibirnya yang ranum merekah indah. Kedua buah dadanya yang besar dan kencang kini setengah menggantung bak buah pepaya.
"Enaak..., Arr...", bisik Tante Vivi tanpa malu-malu padaku.
"I..., iiyaa tantee...", sahutku gemetar menahan rasa nikmat.
"Mm..., milikmu besar juga sayangg...", bisiknya lagi. Lalu dengan perlahan-lahan Tante Vivi mulai menurunkan pinggulnya kebawah lagi sambil memejamkan mata. Namun mulutnya yang indah itu malah tersenyum seolah ikut menikmati apa yang sedang kurasakan sekarang.

"Aahhgghh...", erangku keenakan saat daging liang vaginanya yang luar biasa sempit itu mili demi mili secara perlahan terus menjepit kuat dan menenggelamkan batang penisku yang masih tersisa sekitar 11 centi lagi. Dengan sekuat tenaga sambil menahan rasa nikmat kusaksikan terus proses penetrasi itu, urat-urat di seluruh batang penisku sampai menonjol keluar membentuk guratan-guratan kasar di sekeliling permukaan penis menahan jepitan daging liang vagina Tante Vivi yang terus berusaha menenggelamkan seluruh alat kejantananku itu. Mili demi mili kini berganti centi demi centi..., dengan tanpa hambatan berarti walau terasa begitu sesak dan sempit batang penisku melungsur masuk dengan ritme semakin cepat kedalam liang vaginanya.

"Mm..., aahh..., mm", Tante Vivi hanya mendesah dan merintih kecil saat batang penisku yang besar dengan perlahan telah hampir seluruhnya tenggelam ke dalam bagian tubuhnya yang paling sangat terlarang. Hanya tinggal 2 centi saja kulihat batang penisku yang masih tersisa di luar liang vaginanya. Kedua mataku sudah merem melek keenakan, kedua pahaku sampai gemetaran saking hebatnya rasa nikmat itu.
"ooww..."
"Aaghghghh..."

Kami berdua mengerang nikmat hampir bersamaan, saat penetrasi yang terakhir berlangsung. Kulihat sekilas bukit kemaluan milik Tante Vivi itu sedikit menggembung lebih besar karena seluruh batang penisku yang tebal sepanjangnya 14 centi itu telah terbenam kandas di dalam liang vaginanya. Betapa indah menyaksikan dua alat kemaluan milik kami berdua yang telah menyatu padu. Selain jepitannya yang luar biasa ketat, kurasakan daging vagina Tante Vivi yang terasa hangat dan licin itu seolah memijat-mijat mesra dan menghisap lembut. Wooww...' ujung jemari kakiku sampai gemetaran keenakkan.

"mm..., Bagaimana sayang..", bisik Tante Vivi pelan sambil memandangku mesra sekali.
"Aahhghghg..., Nikmat sek.., kali Vii..", sahutku gemetar.
Kedua pahanya yang mulus kini menjepit pinggangku mesra, sementara pinggulnya menempel selangkanganku dengan ketat. Bokongnya yang kenyal menduduki kedua buah bola zakarku.
"Air maniku..., mau keluar Tante...", bisikku menahan nikmat sambil setengah menggodanya.
"Iihh..., Awas yaa kamu Ar..", sahutnya sambil tersenyum. Ia seolah mengerti batang penisku tidak bakalan lama bertahan dijepit liang vagina miliknya seketat itu.
"Ar..., Tante sudah lama sekali tidak melakukan ini..., mm..., tahan ya sayang..., tunggu Tante yaa..",bisiknya begitu genit sekali.

Lalu dengan perlahan Tante Vivi mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun secara perlahan menggesekkan daging liang vagina sempitnya dengan batang penisku yang sudah tegak tak terkira. Seolah tidak ada hambatan walaupun terasa begitu sesak saking sempitnya ketika kedua alat kelamin kami saling beradu dan bergesekan.
"Uuhh..., uhh..., uhh..", Tante Vivi merintih kecil saat setiap kali pinggulnya bergerak turun memasukkan kembali batang penisku yang besar dan keras ke dalam liang vaginanya. Wajahnya yang cantik bergoyang lembut seiring dengan goyangan pinggulnya yang menggemaskan di atas selangkanganku. Kedua matanya dipejamkan rapat seolah sedang meresapi dan menikmati persenggamaan yang benar-benar luar biasa indah ini. Kedua buah dadanya yang besar terguncang-guncang begitu indah bak buah kelapa tertiup angin. Kedua jemari tangannya yang menyangga dan menekan lembut dadaku menghentak-hentak pelan setiap kali pinggul Tante Vivi bergoyang pelan naik turun secara teratur.

Aku tak sanggup lagi menikmati semua sensasi indah ini sendirian. Aku masih seakan tak percaya melihat sesosok tubuh cantik bak bidadari yang begitu montok dan seksi, begitu putih dan mulus dan kini malah sedang asyik menggoyangkan pinggulnya yang aduhai di atas selangkanganku menikmati alat kejantananku.
"Oohhaahh..., hahahhgghh...", erangku saking nikmatnya. Batang penisku seakan dikocok, dibelit, disedot dan dikenyot habis-habisan oleh daging liang vaginanya yang luarbiasa sempit dan licin. Kedua mataku merem-melek secara bergantian menikmati gesekan itu, setiap kali pinggul Tante Vivi bergerak ke atas aku merasa batang penisku seakan disedot kuat daging liang vaginanya namun begitu pinggulnya bergerak turun ke bawah batang penisku seakan diremas dan dilumat hebat oleh liang vaginanya.

Sukar diungkapkan dengan kata-kata rasa nikmatnya.
"Vivi..., aagghh..., aahahhgghh...", erangku berulangkali keenakan. Kedua tanganku berusaha menahan laju naik turun pinggulnya yang kurang ajar itu. Namun jemari kedua tanganku seolah tiada bertenaga mengangkat bokongnya yang berat, dan tanpa ampun secara terus-menerus liang vagina Tante Vivi dengan jepitannya yang luar biasa meluluh lantakkan seluruh batang penisku seperti pisang kepok yang tak berdaya diremas dan dipilin-pilin sampai lumat. Aku tak sanggup bertahan meredam rasa nikmat seks yang luar biasa itu, air maniku sontak langsung mengalir mendesak-desak hendak muncrat keluar. Tante Vivi seolah tak mau tahu terus bergerak naik turun menggoyang pinggul mengeluar masukkan batang penisku ke dalam liang vagina sempitnya.

"Uuhh..., uuhh..., uu..., hh..., uuhh..", erangnya berulangkali menikmati alat kejantananku yang sedang berada di dalam liang vaginanya.
"aahahh...", aku mengerang panjang sambil sejenak menahan napas untuk menghambat agar air maniku tidak sampai muncrat keluar.
"uuh..., kamu mau keluar sayang...", bisik Tante Vivi genit.
"Iyyaa..., Vi..", sahutku gemas tanpa memanggilnya dengan sebutan Tante lagi
"ooh..., Aku bener-bener tidak tahan lagi."
"Hik..., hik..., oke Sayang..., kamu keluar duluan Ar..., Tante jepit lebih keras yaa Sayang...", bisiknya semakin genit tanpa malu-malu. Aku jadi makin gemas dibuatnya.

Tante Vivi memang benar-benar luar biasa sambil menggoyang pinggul semakin cepat naik turun, kurasakan daging liang vaginanya seolah menjepit 2 kali lebih hebat, batang penisku seolah diremas dan dikenyot-kenyot hebat sambil digesekkan keluar masuk meski hanya sekitar 4 centi saja.

oohh..., bak tanggul jebol akhirnya aku menyerah kalah..., aku tak mampu menahan desakan air maniku yang sudah sampai di leher batang penisku. Kuremas gemas kedua belah payudara Tante Vivi yang besar terguncang dengan kedua belah jemari tanganku. Aku menggeram keras dan melepas puncak kenikmatan seks.
"aagghhghghhgaahh...", Teriakku nikmat..., saat dengan hebatnya air maniku muncrat keluar dengan tembakan-tembakannya yang keras dan kuat.
"Craatt..., craatt..., Crraatt..., craatt.." ke dalam liang vagina Tante Vivi yang sempit licin dan hangat.
"uu..., mm..., uu..., mm..., ooww.., banyak sekali manimu sayangghh..., uu...", desahnya lembut saat air maniku kutembakkan berulang kali dengan sepenuh rasa nikmat ke dalam liang vaginanya.

Jiwaku seakan terbang melayang jauh keatas awan..., begitu tinggi..., terasa begitu nikmatnya, "Oohh...". Tubuhku seakan menggelepar dirajam kenikmatan yang tak terkira, begitu indah dan enaknya saat daging liang vagina Tante Vivi yang menyempit hebat menggesek semakin cepat pula batang penisku yang sedang collapse..., ejakulasi, seakan milikku diurut-urut mesra sembari memuntahkan air mani yang sangat banyak dan kental.
Crraat..., crraatt..., crraatt..., creett...

Kira-kira 8 semburan nikmat yang memabukkan. Aku masih terlena diawan kenikmatan menikmati sisa-sisa semprotan air maniku yang masih tersembur keluar di dalam liang vaginanya. Tante Vivi dengan masih bersemangat menggenjot pinggulnya naik turun dengan cepat meluluh lantakkan alat kejantananku yang benar-benar sudah lumat terkuras. Jiwaku seakan kembali terhempas keatas tanah..., seolah terlempar dari pusaran awan kenikmatan yang terasa begitu singkat.

Aku membuka mata kembali saat kurasa Tante Vivi menghentikan gerakan pinggul seksinya yang aduhai. Kini ia merebahkan tubuhnya yang berkeringat basah di atas tubuhku, kedua buah dadanya yang sebesar melon menekan lunak dan terasa kenyal di dadaku. Batang penisku masih perkasa tegak 100 % walau isinya serasa sudah terkuras habis..., jepitan daging liang vaginanya masih kurasakan begitu hebat meremas dan mengenyot alat kejantananku yang masih terbenam kandas di dalam situ.
"mm..., bagaimana Ar..., nikmat sayangg...", bisiknya sambil memandang genit ke arahku.
"Ahh..., kau luar biasa sekali Vi..", sahutku lirih. Masih lemas.
"Air manimu banyak sekali Ar..", ujarnya polos. Wajahnya yang cantik kelihatan tersenyum puas bisa membuatku tak berdaya. Kuelus rambut hitamnya yang terurai panjang sampai menerpa leherku yang basah berkeringat.
"Kenapa Vi...? kau tidak suka air maniku sebanyak itu.", tanyaku lemas.
"iihh..., hik..., hik..., tidak Ar..., cuman..., Tante khawatir kalo sampai hamil..", bisiknya padaku tetap dengan senyum manisnya.
"aah..., Vi..., kau jangan nakut-nakuti gitu dong..., kita khan cum..", Belum habis omonganku, Tante Vivi menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirku.
"sstt..., Tante tau Ar..., Sudahlah..., ini cuman seks khan sayang..", bisiknya lagi.
"Cupp...", Mulutku mengecup gemas bibir ranumnya yang nakal itu. Sejenak kami saling bercumbu beradu bibir, saling mengulum dan mengecup..., begitu nikmat rasa bibir Tante Vivi itu.

Ketika kecupan mesra itu berakhir, aku berbisik mesra padanya.
"Vi..., aku masih punya kejantanan yang lain..", kataku gemas.
"Apa itu Ar...?", tanyanya mesra. Bibir ranumnya kelihatan basah habis kukecup dan kukulum tadi.
"Kamu belum puas khan Vi...?", ujarku balas bertanya.
"Iyaa Ar..., mm..., tapi Tante capek sayang...", bisiknya sambil mengerling genit.
"Aku yang akan memuasimu sekarang Vi..", bisikku gemas.
"mm..", ia tak menjawab, namun matanya dipejamkan seolah membayangkan apa yang akan aku lakukan.

Aku jadi bernafsu, membuat batang penisku yang masih terbenam nikmat di dalam liang vaginanya yang sempit jadi semakin berdiri dan tambah perkasa.
Aku memeluk pinggang Tante Vivi yang kecil dan ramping dengan erat, sambil kubisikkan kalimat mesra di telinganya. Dengan tersenyum senang dan saling berdekapan erat kugulingkan tubuh Tante Vivi ke samping kiri tempat tidur, lalu dengan posisi batang penisku masih tetap terbenam terjepit di dalam liang vaginanya, kugulingkan tubuhku ke samping sekali lagi dan menaiki tubuh Tante Vivi yang kini ganti berada di bawah tindihanku.

Wooww..., nikmatnya menindih tubuh bugil montoknya yang hangat. Terasa hangat empuk dan mulus sekali kulit tubuhnya. Apalagi sembari menikmati jepitan daging tubuhnya yang sangat terlarang itu.
Sejenak kami terdiam saling berpandangan mesra.
"Ar..., jujur saja..., sudah berapa wanita yang pernah kamu tiduri...?", tanyanya pelan. Aku tersenyum geli mendengar pertanyaannya yang spontan dan sedikit aneh.
"mm..., baru seorang saja..., Vi..", kataku terus terang.
"Selva khan..?", tanyanya lagi.
"Bukan Vi..., orang lain..", bisikku pelan. Pertanyaannya itu benar-benar membuat rasa bersalah itu hadir kembali dalam batinku.
"mm..., kamu nakal Ar..., awas sayang jangan menghianati Selva yaahh..", bisiknya sedikit serius. Jemari tangannya mencubit pinggangku gemas.
oohh..., aku tak ingin melepas kenikmatan ini terlalu lama dengan soal Dina atau Selva karena hanya makin mengingatkanku dan menambah rasa bersalahku pada mereka. Aku menundukkan muka dan kembali mengulum bibir ranum Tante Vivi dengan gemas. Tante Vivi membalas cumbuanku tak kalah mesra, kedua mulut kami saling berpagutan mesra beberapa saat.

"Ar..., puasi Tante sayang..", bisiknya manja di telingaku. Aku tersenyum penuh gairah mendengar permintaannya. Kukecup sekilas bibir ranumnya sekali lagi, lalu sambil saling berpandangan mesra, kutarik pinggulku keatas secara perlahan mengeluarkan batang penisku dari dalam jepitan liang vaginanya sampai keluar kira-kira sekitar 8-10 centi lalu dengan perlahan pula kembali kuturunkan pinggulku ke bawah memasukkan kembali alat kejantananku ke dalam liang vagina sempitnya yang seolah menyambut mesra dengan remasan dan urutan-urutan lembut penuh kenikmatan.
"uuhh..". Tante Vivi merintih pelan keenakan sambil tetap tersenyum manis kepadaku. Kedua jemari tangannya mengusap-usap mesra pantatku yang lagi asyik secara teratur mulai bergerak turun naik menyetubuhinya.
"Uuhh..., uuhh..., uuhh...", erang Tante Vivi lirih setiap kali batang penisku kutarik keluar menggesek daging liang vaginanya yang sempit dan licin. Untung saja air maniku yang tumpah tadi seolah membantu melicinkan pergesekan kedua alat kelamin kami. Aku merasa betapa liang vaginanya itu seolah berusaha menyedot dan mencengkeram kuat saat batang penisku berusaha menggesek keluar dan seakan seperti diremas, dilumat dan diurut begitu hebat tapi nikmat saat kembali kubenamkan batang penisku ke dalam liang vagina Tante Vivi.
"Aahhgghghgh..., aahhgghh.."

Mau tak mau aku kembali berkelojotan merasakan kenikmatan yang tiada tara. Seakan membangun kekuatan baru ketika kenikmatan menuju puncak ejakulasi itu mulai kurasakan muncul pada sekujur batang penisku. Aku semakin bersemangat dan dengan ritme teratur yang semakin lama semakin cepat, kuhunjam-hunjamkan dengan gemas batang penisku keluar masuk liang vagina Tante Vivi yang makin lama kurasakan juga makin menyempit lagi seperti hendak mendekati klimaknya.
"uuhh..., uuhh..., uhh..., uuhh..., uuhh..", Tante Vivi mengerang semakin keras, kedua matanya kini dipejamkan rapat menikmati genjotan alat kejantananku yang bergerak semakin cepat seperti pompa ekplorasi minyak keluar masuk menggesek liang vaginanya. Aku tahu Tante Vivi sedang menuju puncak kenikmatan sexualnya. Kedua paha mulusnya yang mengapit lembut pinggangku sesekali dihentakkan ke bawah sambil mengejan kuat menahan kenikmatan. Wajahnya yang cantik kelihatan meringis saking tak kuatnya menahan rasa nikmat pada alat kemaluannya yang sedang kusetubuhi.

Aku benar-benar puas menyaksikan ekspresi wajahnya yang sedang didera pusaran kenikmatan yang kuciptakan di atas tubuhnya, seandainya saja ia juga tahu batang penisku yang sedang menggesek hebat liang vaginanya itu juga mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas bak gunung berapi yang hendak meletup. Namun karena ejakulasi pertamaku tadi, maka rasa nikmat luar biasa persetubuhan ini masih dapat kuredam dan kutahan lebih lama.
"aahh..., Vi..., ngghh..., vaginamu nikmat sekali sayang..", erangku nakal. Tante Vivi tak menjawab, mulutnya yang menggemaskan itu hanya terus merintih berulangkali seiring dengan goyangan naik turun pinggulku yang makin kupercepat.
"Uuh..., hh..., uu..., hh..., uuhh..., uuhh..", erang Tante Vivi semakin keras.

Menit demi menit berlalu yang terasa begitu lama dan melelahkan, entah sudah beberapa kali nyaris saja air maniku kembali muncrat ke dalam liang vagina Tante Vivi, gara-garanya ia mengejan terlalu kuat membuat jepitan daging liang vaginanya mendadak mengerut dan mengecil. Membuat batang penisku yang sudah mulai mendekati klimak seolah dilumat-lumat dan diremas-remas hebat. Batang penisku dibuatnya kelojotan keenakan, dan kedua kakiku sampai gemetaran meredam sekuatnya badai kenikmatan yang sontak menjalar di selangkanganku.


Sambil menggigit bibir menahan nikmat, kutelusupkan kedua jemari tanganku ke balik bokongnya yang bulat padat dan kenyal. Sembari kuremas gemas, kuhentak-hentakkan alat kejantananku keluar masuk menggesek liang vagina Tante Vivi secepat dan sekuat tenagaku. Kukayuh pinggulku naik turun dengan cepat, karena aku ingin segera menuntaskan persetubuhan ini.
"uuhh..., uhh..., uuhh..., uuhh..., uuhh..., uuhh", aku merasa Tante Vivi begitu menyenangi permainan seks-ku yang sedikit kasar, pinggulnya sampai ikut digoyangkan kekiri dan kanan menikmati hunjaman demi hunjaman batang penisku yang memenuhi seluruh liang vaginanya yang semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya.

Sekitar 5 menit kemudian akhirnya pendakian puncak kenikmatan itu tergapai sudah, begitu lega rasanya melihat Tante Vivi sampai menggeliat-geliat hebat sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya ke bawah dan mengejan kuat melepas kenikmatan orgasmenya yang telah menjadi penantiannya sekian lama. Mulutnya tanpa risih menjerit, memekik-mekik dan mengerang-erang dengan suara keras seakan tak peduli dengan keadaan sekeliling. Akupun tak peduli, yang jelas waktu itu tak pernah kulupakan kenikmatan yang kualami dari seorang wanita yang entah telah sekian lama hidup tanpa pemuasan batin. Kubenamkan sedalam-dalamnya seluruh batang penisku sepanjang 14 centi ke dalam liang kewanitaannya.

Sejenak kuhentikan gerakan naik turun pinggulku kini hanya sedikit kugerakkan memutar seolah batang penisku hendak memlintir daging liang vaginanya dan kubiarkan Tante Vivi merasakan seluruh sensasi kenikmatan puncak orgasmenya yang luar biasa. Begitu hebatnya kurasakan daging liang vaginanya menjepit batang penisku seakan hendak melumat habis, seakan dipilin-pilin dan dikenyot-kenyot kuat.
"aagghhfff..., aahh", aku sampai merem melek dan mengerang keenakan menikmati liang sorga dunianya yang sedang dilanda orgasme itu. Cairan lendir orgasmenya terasa menyembur lemah menghangati dan membasahi seluruh permukaan batang kejantananku yang sedang terjepit di dalamnya.
"aaww..., aaww..., sshh..., nngghh..., ngnngghh...", erang Tante Vivi karena nikmatnya.
Saking nikmatnya, pantatnya sampai diangkat ke atas mendesak pinggulku yang juga sedang menekan alat kejantananku sedalam-dalamnya ke dalam liang vaginanya.

Kedua jemari tangan Tante Vivi sampai mencengkeram kuat kedua belah bokongku. Kuku-kuku jemari kedua tangannya seakan menghunjam masuk ke dalam kulit bokongku. Terasa sakit, namun aku tak peduli, kubiarkan Tante Vivi menikmati sepuasnya badai puncak orgasmenya yang panjang, kubiarkan daging liang vaginanya melumat habis batang kejantananku. Baru kali ini aku melihat seorang wanita yang orgasme saking begitu hebatnya sehingga tanpa risih lagi sampai berteriak-teriak seolah ingin melepaskan semua beban batin dalam dirinya akibat kenikmatan tak terkira yang melanda sekujur tubuhnya.
"oouuhh..., uuhh..., ngghh..", erangnya keras berulang kali

Mungkin hanya sekitar 6-8 detik Tante Vivi tenggelam dalam lautan kenikmatan puncak orgasmenya, terasa singkat mungkin bagiku. Ketika pantatnya kembali dihempaskan ke atas pembaringan menandakan orgasmenya mulai berakhir, sambil kucumbu mesra mulutnya yang masih merintihkan sisa-sisa rasa kenikmatannya, kugerakkan pinggulku naik turun lagi secara amat perlahan menyetubuhinya kembali.
"Oouuhh...". Aku mendesah nikmat merasakan jepitan liang vaginanya yang masih ketat sehabis orgasme, Cairan lendirnya yang keluar membasahi batang penisku terasa begitu licin dan hangat. Begitu nikmatnya saat alat kejantananku kutarik melungsur keluar dari dalam liang vagina Tante Vivi, seakan diurut dan dikenyot lembut. Uuhh.., kupejamkan kedua mataku meresapi kenikmatan liang surga dunia miliknya. Secara perlahan-lahan pula setelah hampir kira2 6-8 centi-an batang penisku keluar lalu kembali kubenamkan masuk ke dalam liang vaginanya yang kini seakan meremas dan memijat lembut. Sreengg..., rasanya aliran kenikmatan yang melanda alat kejantananku membuat air maniku perlahan-lahan mulai mendesak ingin muncrat keluar.

"oouu...", erangku keenakan saat dengan nikmatnya liang vagina Tante Vivi kembali menjepit dan mengenyot seluruh batang penisku.
Begitu berulang kali, naik turun secara perlahan dengan ritme yang semakin lama semakin kupercepat menyetubuhi Tante Vivi yang kini setelah orgasmenya berakhir malah seolah hendak menggodaku. Entah sengaja atau tidak setiap kali batang penisku yang kutarik keluar hendak kubenamkam kembali menikmati jepitan daging hangatnya, pinggulnya digoyangkan manja kesamping kiri atau ke kanan, membuat alat kejantananku sampai keplintir serong kekiri atau kekanan pula.

"Vivii..., aduuhh..., nikmaatt...", erangku pelan keenakan.
"Hik..., hik..., kamu mau keluar lagi sayang..", bisik Tante Vivi genit di sebelah telingaku.
Aku tak menjawab dan hanya bisa merem melek menahan kenikmatan seks yang semakin lama semakin menggelora, air maniku semakin deras mengalir dan mendesak-desak di leher kepala penisku yang terjepit nikmat dalam liang vaginanya.
"mm..., punyamu tegang keras sekali Ar..., hik..., hik..., sudah mau keluar yaa..", bisiknya genit.

Astaga..., aku tak mengira, dalam keadaan masyuk seperti ini ternyata Tante Vivi doyan sekali ngomong ngeres. Sebodo..., ahh..
"Nngghh...", erangku semakin tak tahan.
"mm..., keluarin dong Ar..", bisiknya genit semakin menggemaskan hati.
"Ohh..., jepit lebih keras Vii..", erangku tak kalah genit.
"Mm..., seperti ini Ar..., mm.."
"aahhghghgghhghhghhghhgg..", Aku mendelik dan menggeram keras saat kurasakan daging liang vagina Tante Vivi mengerut dan mengecil, seakan meremas-remas, mengurut-urut dan mengenyot seluruh batang penisku yang sedang meregang menahan kenikmatan.
Dan..., aahhghhghh..., aku tak kuat lagi dan menyerah...
"Craatt..., Craatt..., craatt.."
Air maniku bak tanggul jebol membanjir keluar dengan hebat di dalam liang vaginanya yang hangat. Kusembur-semburkan dengan nikmat sepenuh perasaan memenuhi liang senggamanya.
"ooww..., mm...", Tante Vivi mendesah lirih saat air maniku menyembur-nyembur dengan kuat di dalam liang vaginanya yang hangat.
"aahhahh..., ku..., hamili kau Vii..", erangku nakal, sambil terus kusembur-semburkan air maniku ke dalam rahimnya. Kuhentak-hentakkan dengan penuh nafsu alat kejantananku menggesek keluar masuk liang vaginanya yang semakin licin penuh cairan lendir kewanitaannya bercampur air maniku yang kental. Tante Vivi sesekali merintih kecil entah kesakitan atau nikmat menerima hunjaman batang penisku yang bergerak begitu buas mengoyak liang vaginanya yang sempit.
"Ooww..., iihh..., Ar..., Nggnnhh..., uu..., tegang sekali penismu sayang...", rintihnya sambil mencengkeram bokongku yang bergerak turun naik dengan cepat dan kuat.
"Aahhgghhg..., Vii..., Sayangghh.."

Aku seakan terbang melayang ke atas awan, jauh membubung tinggi kesorga kenikmatan yang tiada tara.
"Uuhh..., Ar..., nggnghh..., manimu terasa kental sekali sayaang..", rintih Tante Vivi genit.

Terasa begitu singkat namun begitu melelahkan sesudahnya. Tubuhku seakan lemas tak bertulang begitu 2 semburan terakhir yang merupakan semburan penghabisan, mengakhiri kenikmatan ejakulasiku. mm..., tubuhku seakan terhempas kembali jatuh ke bumi dan lemas tak berdaya.

Aku terbaring letih di atas tubuh Tante Vivi yang baru saja untuk kedua kali kureguk kenikmatan madu manis tubuhnya. Oouuh..., begitu indah rasanya meresapi sisa-sisa kenikmatan ejakulasi yang masih begitu terasa. Batang penisku yang masih terbenam di dalam liang senggamanya yang basah penuh cairan maniku yang seakan telah kehilangan kejantanannya. Loyoo..., Tetapi jepitan hangat daging liang vaginanya itu masih terasa nikmat, seakan mengurut-urut lembut. Kami saling berpelukan mesra, meresapi keindahan akhir persetubuhan yang sangat melelahkan namun penuh dengan sejuta kenikmatan yang tiada bandingnya di dunia ini. Kedua buah dadanya yang besar montok menekan lembut dan terasa begitu kenyal dan padat di dadaku yang bidang. Jemari kedua tangan Tante Vivi mengusap pelan dan sesekali memijit-mijit mesra pinggul dan bokongku yang terasa letih dan pegal. Mulut kami bercumbu hangat saling mengadu bibir seolah saling menukar kenikmatan.

"Mm cuupp..., cupp..., Ar..., kau benar-benar doyan seks yaa..", bisk Tante Vivi gemas sambil berulang kali membalas kecupan bibirku yang masih bernafsu.
"Cupp..., entahlah Tante..", bisikku lembut. Pertanyaan sederhananya itu seolah menyadarkanku kembali. Akal sehatku seakan kembali normal dan aahh..., rasa sesal itu kembali datang dan selalu saja datang dikala aku telah tuntas mereguk semua keinginan nafsu birahiku ingin rasanya kedua mata ini menangis mengapa aku begitu lemah dengan nafsu syahwatku sendiri.

Semenit kemudian.
Aku bergulir turun dari atas tubuh Tante Vivi, alat kejantananku yang mulai lemas mengecil seakan tercabut dari dalam liang vaginanya yang sempit hangat. Ia merintih kegelian.
Sejenak aku termenung..., memikirkan semua perbuatanku barusan, begitu lemahnya diri ini dengan yang namanya nafsu birahi. Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan semua ini kepada Selva..., aku benar-benar gila telah berani meniduri tantenya sendiri. Pikiranku seperti buntu memikirkan semuanya itu.
Seakan mengerti apa yang sedang kurenungkan, Tante Vivi mencium mulutku dengan hangat dan mengulum bibir bawahku sejenak. Anehnya aku sendiri tak bisa menolak dan membiarkan semua itu.
"Sudahlah Ar..., Tante mengerti apa yang kamu pikirkan..., ini cuma seks sayang..., tidak ada ikatan apapun diantara kita..,. selain..., seks..", bisiknya lembut menenangkanku.
Mau tak mau aku tersenyum letih.
"Yaah..., Tante..", jawabku pendek. Bingung!
"mm..., kita akan melakukannya lagi khan Sayaang..", bisiknya kembali terus terang tanpa rasa sungkan lagi, sambil mengelus pipiku mesra.
Aku tak menjawab..., dan hanya bisa mengeluh dalam hati..., aku sudah keranjingan seks..., bagaimanapun nantinya..., kalau Tante Vivi menginginiku lagi, aku pasti menidurinya demi sekedar kenikmatan sesaat. aahh..., aku mengeluh pendek.
<$BlogDateHeaderDate$>
[daun muda]Adik kecilku
Aku kost di daerah Senayan, kamarku bersebelahan dengan kamar seorang gadis manis yang masih kecil, tubuhnya mungil, putih bersih dan senyumnya benar-benar mempesona. Dalam kamar kostku terdapat beberapa lubang angin sebagai ventilasi. Mulanya lubang itu kututup dengan kertas putih..., tapi setelah gadis manis itu kost di sebelah kamarku, maka kertas putih itu aku lepas, sehingga aku dapat bebas dan jelas melihat apa yang terjadi pada kamar di sebelahku itu.

Suatu malam aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku dibuka, lalu aku seperti biasanya naik ke atas meja untuk mengintip. Ternyata gadis itu baru pulang dari sekolahnya..., tapi kok sampai larut malam begini tanyaku dalam hati. Gadis manis itu yang belakangan namanya kuketahui yaitu Melda, menaruh tasnya lalu mencopot sepatunya kemudian mengambil segelas air putih dan meminumnya..., akhirnya dia duduk di kursi sambil mengangkat kakinya menghadap pada lubang angin tempat aku mengintip. Melda sama sekali tidak bisa melihat ke arahku karena lampu kamarku telah kumatikan sehingga malah aku yang dapat leluasa melihat ke dalam kamarnya.

Pada posisi kakinya yang diangkat di atas kursi, terlihat jelas celana dalamnya yang putih dengan gundukan kecil di tengahnya..., lalu saja tiba-tiba penisku yang berada dalam celanaku otomatis mulai ereksi. Mataku mulai melotot melihat keindahan yang tiada duanya, apalagi ketika Melda lalu bangkit dari kursi dan mulai melepaskan baju dan rok sekolahnya sehingga kini tinggal BH dan celana dalamnya. Sebentar dia bercermin memperhatikan tubuhnya yang ramping putih dan tangannya mulai meluncur pada payudaranya yang ternyata masih kecil juga. Diusapnya payudaranya dengan lembut. Dipuntirnya pelan puting susunya sambil memejamkan mata, rupanya dia mulai merasakan nikmat, lalu tangan satunya meluncur ke bawah, ke celana dalamnya digosoknya dengan pelan, tangannya mulai masuk ke celananya dan bermain lama. Aku bergetar lemas melihatnya, sedangkan penisku sudah sangat tegang sekali. Lalu kulihat Melda mulai melepaskan celana dalamnya dan..., Wowww, belum ada bulunya sama sekali, sebuah vagina yang menggunduk seperti gunung kecil yang tak berbulu. Ohh, begitu indah, begitu mempesona. Lalu kulihat Melda naik ke tempat tidur, menelungkup dan menggoyangkan pantatnya ibarat sedang bersetubuh.

Melda menggoyang pantatnya ke kiri, ke kanan..., naik dan turun..., rupanya sedang mencari kenikmatan yang ingin sekali dia rasakan, tapi sampai lama Melda bergoyang rupanya kenikmatan itu belum dicapainya, Lalu dia bangkit dan menuju kursi dan ditempelkannya vaginanya pada ujung kursi sambil digoyang dan ditekan maju mundur. Kasihan Melda..., rupanya dia sedang terangsang berat...., suara nafasnya yang ditahan menggambarkan dia sedang berusaha meraih dan mencari kenikmatan surga, Namun belum juga selesai, Melda kemudian mengambil spidol..., dibasahi dengan ludahnya lalu pelan-pelan spidol itu dimasukan ke lubang vaginanya, begitu spidol itu masuk sekitar satu atau dua centi matanya mulai merem melek dan erangan nafasnya makin memburu, "Ahh..., ahh", Lalu dicopotnya spidol itu dari vaginanya, sekarang jari tengahnya mulai juga dicolokkan ke dalam vaginanya..., pertama..., jari itu masuk sebatas kukunya kemudian dia dorong lagi jarinya untuk masuk lebih dalam yaitu setengahnya, dia melenguh, "Oohh..., ohh..., ahh", tapi heran aku jadinya, jari tengahnya dicabut lagi dari vaginanya, kurang nikmat rupanya..., lalu dia melihat sekeliling mencari sesuatu..., aku yang menyaksikan semua itu betul-betul sudah tidak tahan lagi.

Penisku sudah sangat mengeras dan tegang luar biasa, lalu kubuka celana dalamku dan sekarang penisku bebas bangun lebih gagah, lebih besar lagi ereksinya melihat vagina si Melda yang sedang terangsang itu. Lalu aku mengintip lagi dan sekarang Melda rupanya sedang menempelkan vaginanya yang bahenol itu pada ujung meja belajarnya. Kini gerakannya maju mundur sambil menekannya dengan kuat, lama dia berbuat seperti itu..., dan tiba-tiba dia melenguh, "Ahh..., ahh..., ahh", rupanya dia telah mencapai kenikmatan yang dicari-carinya.

Setelah selesai, dia lalu berbaring di tempat tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal. Kini posisinya tepat berada di depan pandanganku. Kulihat vaginanya yang berubah warna menjadi agak kemerah-merahan karena digesek terus dengan ujung kursi dan meja. Terlihat jelas vaginanya yang menggembung kecil ibarat kue apem yang ingin rasanya kutelan, kulumat habis..., dan tanpa terasa tanganku mulai menekan biji penisku dan kukocok penisku yang sedang dalamn posisi "ON". Kuambil sedikit krim pembersih muka dan kuoleskan pada kepala penisku, lalu kukocok terus, kukocok naik turun dan, "Akhh", aku mengeluh pendek ketika air maniku muncrat ke tembok sambil mataku tetap menatap pada vagina Melda yang masih telentang di tempat tidurnya. Nikmat sekali rasanya onani sambil menyaksikan Melda yang masih berbaring telanjang bulat. Kuintip lagi pada lubang angin, dan rupanya dia ketiduran, mungkin capai dan lelah.

Esok harinya aku bangun kesiangan, lalu aku mandi dan buru-buru berangkat ke kantor. Di kantor seperti biasa banyak kerjaan menumpuk dan rasanya sampai jam sembilan malam aku baru selesai. Meja kubereskan, komputer kumatikan dan aku pulang naik taksi dan sekitar jam sepuluh aku sampai ke tempat kostku. Setelah makan malam tadi di jalanan, aku masih membuka kulkas dan meminum bir dingin yang tinggal dua botol. Aku duduk dan menyalakan TV, ku-stel volumenya cukup pelan. Aku memang orang yang tidak suka berisik, dalam bicarapun aku senang suara yang pelan, kalau ada wanita di kantorku yang bersuara keras, aku langsung menghindar, aku tidak suka. Acara TV rupanya tidak ada yang bagus, lalu kuingat kamar sebelahku, Melda..., yang tadi malam telah kusaksikan segalanya yang membuat aku sangat ingin memilikinya

Aku naik ke tempat biasa dan mulai lagi mengintip ke kamar sebelah. Melda yang cantik itu kulihat tengah tidur di kasurnya, kulihat nafasnya yang teratur naik turun menandakan bahwa dia sedang betul-betul tidur pulas.

Tiba-tiba nafsu jahilku timbul, dan segera kuganti celana panjangku dengan celana pendek dan dalam celana pendek itu aku tidak memakai celana dalam lagi, aku sudah nekat, kamar kostku kutinggalkan dan aku pura-pura duduk di luar kamar sambil merokok sebatang ji sam su. Setelah kulihat situasinya aman dan tidak ada lagi orang, ternyata pintunya tidak di kunci, mungkin dia lupa atau juga memang sudah ngantuk sekali, jadi dia tidak memikirkan lagi tentang kunci pintu.

Dengan berjingkat, aku masuk ke kamarnya dan pintu langsung kukunci pelan dari dalam, kuhampiri tempat tidurnya, lalu aku duduk di tempat tidurnya memandangi wajahnya yang mungil dan, "Alaamaak", Melda memakai daster yang tipis, daster yang tembus pandang sehingga celana dalamnya yang sekarang berwarna merah muda sangat jelas terbayang di hadapanku. "Ohh..., glekk", aku menelan ludah sendiri dan repotnya, penisku langsung tegang sempurna sehingga keluar dari celana pendekku. Kulihat wajahnya, matanya, alisnya yang tebal, dan hidungnya yang mancung agak sedikit menekuk tanda bahwa gadis ini mempunyai nafsu besar dalam seks, itu memang rahasia lelaki bagi yang tahu. Ingin rasanya aku langsung menubruk dan mejebloskan penisku ke dalam vaginanya, tapi aku tidak mau ceroboh seperti itu.

Setelah aku yakin bahwa Melda benar-benar sudah pulas, pelan-pelan kubuka tali dasternya, dan terbukalah, lalu aku sampirkan ke samping. Kini kulihat pahanya yang putih kecil dan padat itu. Sungguh suatu pemandangan yang sangat menakjubkan, apalagi celana dalamnya yang mini membuat gundukan kecil ibarat gunung merapi yang masih ditutupi oleh awan membuat penisku mengejat-ngejat dan mengangguk-ngangguk. Pelan-pelan tanganku kutempelkan pada vaginanya yang masih tertutup itu, aku diam sebentar takut kalau kalau Melda bangun, aku bisa kena malu, tapi rupanya Melda benar-benar tertidur pulas, lalu aku mulai menyibak celana dalamnya dan melihat vaginanya yang mungil, lucu, menggembung, ibarat kue apem yang ujungnya ditempeli sebuah kacang.

"Huaa", aku merinding dan gemetar, kumainkan jariku pada pinggiran vaginanya, kuputar terus, kugesek pelan, sekali-sekali kumasukkan jariku pada lubang kecil yang betul-betul indah, bulunyapun masih tipis dan lembut. Penisku rasanya makin ereksi berat, aku mendesah lembut. Ahh, indahnya kau Melda, betapa kuingin memilikimu, aku menyayangimu, cintaku langsung hanya untukmu. Oh, aku terperanjat sebentar ketika Melda bergerak, rupanya dia menggerakkan tangannya sebentar tanpa sadar, karena aku mendengar nafasnya yang teratur berarti dia sedang tidur pulas.

Lalu dengan nekatnya kuturunkan celana dalamnya perlahan tanpa bunyi, pelan, pelan, dan lepaslah celana dalam dari tempatnya, kemudian kulepas dari kakinya sehingga kini melda benar-benar telanjang bulat.

Luar biasa, indah sekali bentuknya, dari kaki sampai wajahnya kutatap tak berkedip. Payudaranya yang masih berupa puting itu sangat indah sekali. Akh, sangat luar biasa, pelan-pelan kutempelkan wajahku pada vaginanya yang merekah bak bunga mawar, kuhirup aroma wanginya yang khas. Oh, aku benar-benar tidak tahan, lalu lidahku kumainkan di sekitar vaginanya. Aku memang terkenal sebagai si pandai lidah, karena setiap wanita yang sudah pernah kena lidahku atau jilatanku pasti akan ketagihan, aku memang jago memainkan lidah, maka aku praktekan pada vagina si Melda ini. Lereng gunung vaginanya kusapu dengan lidahku, kuayun lidahku pada pinggiran lalu sekali-kali sengaja kusenggol clitorisnya yang indah itu.

Kemudian gua kecil itu kucolok lembut dengan lidahku yang sengaja kuulur panjang, aku usap terus, aku colok terus, kujelajahi gua indahnya sehingga lama-kelamaan gua itu mulai basah, lembab dan berair. Oh, nikmatnya air itu, aroma yang khas membuatku terkejet-kejet, penisku sudah tidak sabar lagi, tapi aku masih takut kalau kalau Melda terbangun bisa runyam nanti, tapi desakan kuat pada penisku sudah sangat besar sekali. Nafasku benar-benar tidak karuan, tapi kulihat Melda masih tetap saja pulas tidurnya.-Akupun lebih bersemangat lagi, sekarang semua kemampuan lidahku kupraktekan saat ini juga, luar biasa memang, vagina yang mungil, vagina yang indah, vagina yang sudah basah. Rasanya seperti sudah siap menanti tibanya senjataku yang sudah berontak untuk menerobos gua indah misterius yang ditumbuhi rumput tipis milik Melda, namun kutahan sebentar, karena lidahku dan jilatanku masih asyik bermain di sana, masih memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa bagi Melda.

Sayang Melda tertidur pulas, andaikata Melda dapat merasakan dalam keadaan sadar pasti sangat luar biasa kenikmatan yang sedang dirasakannya itu, tapi walaupun Melda saat ini sedang tertidur pulas secara psycho seks yang berjalan secara alami dan biologis,...nikmat yang amat sangat itu pasti terbawa dalam mimpinya, itu pasti dan pasti, walaupun yang dirasakannya sekarang ini hanya sekitar 25%, Buktinya dengan nafasnya yang mulai tersengal dan tidak teratur serta vaginanya yang sudah basah, itu menandakan faktor psycho tsb sudah bekerja dengan baik. Sehingga nikmat yang luar biasa itu masih dapat dirasakan seperempatnya dari keseluruhannya kalau di saat sadar.

Akhirnya Karena kupikir sudah cukup rasanya lidahku bermain di vaginanya, maka pelan-pelan penisku yang memang sudah minta terus sejak tadi kuoles-oleskan dulu sesaat pada ujung vaginanya, lalu pada clitorisnya yang mulai memerah karena nafsu, rasa basah dan hangat pada vaginanya membuat penisku bergerak sendiri otomatis seperti mencari-cari lubang gua dari titik nikmat yang ada di vaginanya. Dan ketika penisku dirasa sudah cukup bermain di daerah istimewanya, maka dengan hati-hati namun pasti penisku kumasukan perlahan-lahan ke dalam vaginanya..., pelan, pelan dan, "sleeppp..., sleseppp", kepala penisku yang gundul sudah tidak kelihatan karena batas di kepala penisku sudah masuk ke dalam vagina Melda yang hangat nikmat itu.

Lalu kuperhatikan sebentar wajahnya, Masih!.., dia, Melda masih pulas saja, hanya sesaat saja kadang nafasnya agak sedikit tersendat, "Ehhss..., ehh..., sss", seperti orang ngigau. Lalu kucabut lagi penisku sedikit dan kumasukkan lagi agak lebih dalam kira-kira hampir setengahnya, "Akhh..., ahh, betapa nikmatnya, betapa enaknya vaginamu Melda, betapa seretnya lubangmu sayang". Oh, gerakanku terhenti sebentar, kutatap lagi wajahnya yang betul-betul cantik yang mencerminkan sumber seks yang luar biasa dari wajah mata dan hidungnya yang agak menekuk sedikit,.. ohh Melda, betapa sempurnanya tubuhmu, betapa enaknya vaginamu, betapa nikmatnya lubangmu. Oh, apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab untuk semuanya ini. Aku sangat menyayangimu.

Lalu kembali kutekan agak dalam lagi penisku supaya bisa masuk lebih jauh lagi ke dalam vaginanya, "Bleeeess..., blesssess", "Akhh..., akhh", sungguh luar biasa, sungguh nikmat sekali vaginanya, belum pernah selama ini ada wanita yang mempunyai vagina seenak dan segurih milik Melda ini.

Ketika kumasukan penisku lebih dalam lagi, kulihat Melda agak tersentak sedikit, mungkin dalam mimpinya dia merasakan kaget dan nikmat juga yang luar biasa dan nikmat yang amat sangat ketika senjataku betul-betul masuk, lagi-lagi dia mengerang, erangan nikmat, erangan sorga yang aku yakin sekali bahwa melda pasti merasakannya walaupun dirasa dalam tidurnya.

Akupun demikian, ketika penisku sudah masuk semua ke dalam vaginanya, kutekan lagi sampai terbenam habis, lalu kuangkat lagi dan kubenamkan lagi sambil kugoyangkan perlahan ke kanan kiri dan ke atas dan bawah, gemetar badanku merasakan nikmat yang sesungguhnya yang diberikan oleh vagina Melda ini, aneh sangat luar biasa, vaginanya sangat menggigit lembut, menghisap pelan serta lembut dan meremas senjataku dengan lembut dan kasih sayang. Benar-benar vagina yang luar biasa. Oh Melda, tak akan kutinggalkan kamu.

Lalu dengan lebih semangat lagi aku mendayung dengan kecepatan yang taktis sambil membuat goyangan dan gerakan yang memang sudah kuciptakan sebagai resep untuk memuaskan melda ini. Akhirnya senjataku kubenamkan habis ke dasar vaginanya yang lembut, habis kutekan penisku dalam-dalam. Aakh, sumur Melda memang bukan main, walaupun lubang vaginanya itu kecil tetapi aneh dapat menampung senjata meriam milikku yang kurasa cukup besar dan panjang, belum lagi dengan urat-urat yang tumbuh di sekitar batang penisku ini, vagina yang luar biasa.

Lama-kelamaan, ketika penisku benar-benar kuhunjamkan habis dalam-dalam pada vaginanya, aku mulai merasakan seperti rasa nikmat yang luar biasa, yang akan muncrat dari lubang perkencinganku. "Ohh..., ohh", kupercepat gerakanku naik turun, dan akhirnya muncratlah air maniku di dalam vaginanya yang sempit itu. Aku langsung lemas, dan segera kucabut penisku itu, takut Melda terbangun.

Dan setelah selesai, aku segera merapikan lagi. Celana dalamnya kupakaikan lagi, begitu juga dengan dasternya juga aku kenakan lagi padanya. Sebelum kutinggalkan, aku kecup dulu keningnya sebagai tanda sayang dariku, sayang yang betul-betul timbul dari diriku, dan akhirnya pelan-pelan kamarnya kutinggalkan dan pintunya kututup lagi. Aku masuk lagi ke kamarku, berbaring di tempat tidurku, sambil menerawang, aku menghayati permainan tadi. Oh, sungguh suatu kenikmatan yang tiada taranya. Dan Akupun tertidur dengan pulas.

Keesokan harinya seperti biasa aku bangun pagi, mandi dan siap berangkat ke kantor, namun ketika hendak menutup pintu kamar, tiba-tiba Melda keluar dan tersenyum padaku.
"Mau berangkat Pak?", tanyanya, aku dengan gugup akhirnya mengiyakan ucapannya, lalu kujawab dengan pertanyaan lagi.
"Kok Melda nggak sekolah?".
"Nanti Pak, Melda giliran masuk siang", akupun tersenyum dan Meldapun lalu bergegas ke depan rumah, rupanya mau mencari tukang bubur ayam, perutnya lapar barangkali. Taxi kucegat dan aku langsung berangkat ke kantor.


TAMAT
[daun muda]Pijat payudara
Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Rina Seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar. Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Rina. Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah telihat nampak membungsung.

"Van, Mau tolongin Tante", Katanya.
"Apa yang bisa saya bantu Tante".
"Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa".
"Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian".
"Tante Minta tolong dipijitin", katanya.
"Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala".
"Tante minta kamu memijit ini tante", katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Van, kok diem mau nggak?", tanya Tante Rina lagi. Saat itu terasa penisku tegang sekali.
"Mau nggak?", katanya sekali lagi.
Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus.

Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.
"Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih", katanya.
Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan.

Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, "Ahh..., ahh". Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, "aahh, Van tolong remas lebih keras". Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.
"Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante", katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.
"Van, hisap yang kuat sayang..., aah", desah Tante Rina.
Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, "Lebih kuat lagi hisapanya".

Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat.

Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.
"Tadi nikmat sekali", katanya terus dia memintaku besok kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan. Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia menjawab dengan enteng, "Saat kamu mandi, tante ngintip kamu dan tante lihat penis kamu besar..."


TAMAT
<$BlogDateHeaderDate$>
antara Indah, adiknya, Inem pembantunya, kakaknya dan Mamanya
sebelumnya, mari memfantasikan tokoh tokohnya melalui pic berikut inii:

Part I

INEM (pembantu yang nakal)



INDAH (pacarku yang cantik)



EVI (adik pacarku yang hiper)



FANI (kakak pacarku yang binal)


Mamanya Indah, Evi dan Fani (mama yang sableng)
Sorry, pic nya belom ada yang pas


Kujilati memeknya, kuremas tetek kanannnya, kemudian aku meminta Indah berdiri dan menungging, lalu kusodok memeknya dari belakang sambil membelai perutnya yang putih mulus. Ketika sedang menikmati tubuh Indah, aku melihat Inem pembantu Indah yang berusia sekitar 20 tahunan sedang memperhatikan kami dari sudut jendela kamar yang menghadap Taman. Aku berlagak acuh seperti tak memperhatikannya, Inem pun nampak asyik meremas payudaranya dengan tangan kanan, dan mengelus elus roknya dengan tangan kirinya sambil merem melek.

“Aku keluar sayang, ujar Indah”.

Saat itu Indah terkulai lemas dan duduk bersila dihadapanku. Karena melihat batang kontolku yang masih mengacung, Indah pun hanya bisa mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya sambil berkata: “sabar ya sayang, aku akan keluarin punya kamu kok”!

Sambil tersenyum, aku menggesek gesekkan kontolku di kepala Indah, kemudian memasukkan kontolku di mulutnya, Indah kemudian mengelus elus bulu disekitar perutku. Hampir 5 menit Indah menjilati, menghisap, sampai meludahi kontolku, namun aku belum mengeluarkan sperma.

Akhirnya Indah bertanya: “kamu maunya apa sayang, supaya kamu juga keluar”?

Hmmm, boleh nggak aku masukin pantat kamu sayang”, sahutku!

“Tapi kan sakit sayang” balas Indah.

Aku langsung memintanya nungging dan berkata : “iya deh, aku pelan pelan ya masukinnya”.

“Aduhhhhhhh”, teriak Indah!

“sabar sayang, kamu kan mau aku keluar, sahutku!

Akupun terus menyodokkan kontolku hingga amblas di pantat Indah, dan nampaknya Indah menangis, namun aku tetap mengeluarkan dan memasukkan kontolku secara perlahan lahan sambil meraba raba pinggangnya yang sexy, hingga akhirnya kontolku amblas di pantatnya.

“Wow, rasanya luar biasa sayang”, ujarku bersemangat!

Tak sampai 7 menit, aku pun rasanya ingin mengeluarkan sperma karena jepitan pantat indah itu. Lalu kucabut kontolku dari pantat Indah dengan cepat, dan menyemprotkan spermaku di teteknya. Indah memukul dadaku dengan tangan kanannya, kemudian menciumku dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya kami mandi bersama, dan setelah itu aku berkemas pulang, karena sebentar lagi keluarganya akan pulang dari Puncak. Ketika Indah ke dapur untuk mengambilkanku sekaleng bir, tiba tiba aku melihat Inem yang sedang mencolokkan jarinya ke memeknya. Dengan acuh, aku keluar dari kamar dan bergegas balik setelah menenggak sekaleng bir pemberian Indah.

Halo sayang, kamu ke rumahku aja duluan ya. Mama, Papa, dan Kakak lagi ke Bandung liat Nenek yang sakit. Aku ada praktikum, dan nanti jam 5 sore aku dah pulang kok, kasian Evi (Adik Indah yang masih kelas 1 SMA) ketakutan kalau sendirian dirumah, sahut Indah lewat handphonenya. Iya Sahutku. Siang itu aku memang bermaksud mengerjakan paper di rumahku, namun berhubung Indah telah berpesan, akhirnya aku segera berangkat ke rumah Indah. Bukan apa apa, biasanya jika keinginannya tidak dipenuhi, maka Indah sering ngambek dan tidak memberiku jatah biologis.
Sesampainya di rumah Indah, aku disambut Evi dengan manja. Setelah makan siang, kamipun memutar DVD. Sampai pertengahan film terdapat adegan hot yang membuatku tidak enak hati menontonnya bersama Evi.

“Matiin aja ya Vi”, ujarku.

“Biarin aja kak” cuma sebentar kok, sahut Evi.

Hampir 10 menit, adegan hot itu berulang ulang beberapa kali, hingga akhirnya kumatikan. Evi pun ngambek, dan lari ke kamar tidurnya diatas, lalu kudengar ia mengunci pintu.
30 menit aku terdiam sendirian membaca makalahku. Tiba tiba Inem datang membawakanku segelas es teh manis. Inem memang seorang pembantu, namun mukanya mirip Dian Sas*** (walau Inem sedikit lebih hitam, namun panta dan teteknya lebih besar milik Inem), apalagi hari itu ia mengantarkan minuman dengan rambut kuncir kudanya dan kaos putih ketatnya yang menyembulkan teteknya yang besar. Inem pun kembali ke dapur setelah mengantarkan minuman untukku. Dari belakang kuperhatikan garis celana dalam Inem yang nampak di rok yang dikenakannya. Jalannya pun menggodaku! Aku jadi teringat peristiwa waktu itu, saat Inem memperhatikan aku dan indah yang sedang bercinta.
Kulihat jam, waktu telah menunjukkan jam 2.30 Wib. Otakku benar benar sudah dipenuhi nafsu ketika melihat DVD tadi, ditambah memandangi Inem yang sexy. Akupun segera ke belakang untuk pura pura ke kamar mandi. Sengaja aku tidak menyalakan lampu kamar mandi dan membuka pintunya. Dari kaca kamar mandi kuperhatikan Inem mencuri curi pandang ke arah pantatku yang terbuka sedikit. Sambil memainkan kontolku yang baru kucuci, kemudian aku keluar kamar mandi tanpa menutup celana, lalu ku arahkan ke pandangan Inem.

Kemudian aku berjalan kearah Inem, kemudian meletakkan tangannya ke kontolku, sambil berkata: “kamu mau Nem, ayo isep deh”.

“Takut ah den”, kata Inem.

“Nggak apa apa Nem, ayo dimasukin mulut kamu”, sahutku menggoda!

Inem pun menjilati dan menghisap kontolku.

“Ahhhh, kamu hebat banget jilatnya Nem”, ujar saya.

Inem memang hebat memainkan lidahnya dipinggiran kepala kontolku. Lebih nikmat dari yang dilakukan Indah.

“Den, ini Inem kok nggak dipegang, sahutnya sambil menunjukkan memeknya.

Inem pun memberanikan diri untuk minta dijilati seperti mbak Indah waktu itu. Hmmm, memek Inem harum sekali. Ketika asyik menjilati memek Inem dan meremasi teteknya, tiba tiba Evi dating dan mengagetkan kami. Inem nangis dibawah kaki Evi, dan saya pun hanya bisa terdiam membisu.

“Kakak munafik, nonton nggak mau, tapi Inem digituin”, ujar Evi lantang.

“Pokoknya Evi aduin sama mbak Indah”, sahutnya lagi.

Akupun menarik tangan Evi, dan memohonnya untuk tidak melaporkan pada Indah. Ketika memegang tangannya, tiba tiba Evi meremas kontolku yang masih terbuka tak terbalut sehelai benangpun, dan kemudian Ei berkata: “ya sudah, kalau nggak mau dilaporin, ajak Evi juga”.

Aku kaget juga mendengarnya. Evi beranjak ke ruang tamu sambil menarik tanganku, mengunci pintu, kemudian membuka celana pendek dan celana dalamnya berwarna putih bergambar hello kitty.

“Inemmmmmmmm………” teriak Evi memanggil Inem.

Ayo, pokoknya kakak dan Inem harus menjilati ini Evi juga, ujarnya sambil menunjuk memeknya.

Sambil mengangkang, Evi membenamkan kepala saya dan Inem di memeknya yang mini dan berjembut tebal seperti hutan rimba.

“Ahhhh, enak kak, enak kak ahhhh”, ujar Evi mendesah desah.

Kemudian ia menjambak Inem, dan menyuruh Inem turut menjilati teteknya yang masih terbungkus kaos. Inem pun menjilatinya dengan buas sambil mengarahkan pantatnya ke arahku untuk minta dipegang juga. Aku pun meremas remas pantat inem yang sexy itu.
Waktu telah menunjukkan jam 4.15 WIB, dan aku memberitahukan Evi, kalau mbak Indah akan pulang jam 5 sore ini. Akhirnya, Evi menendang badanku hingga jatuh di karpet, dan menampar Inem hingga pipinya merah.

Kemudian Evi berkata: “pokoknya besok pagi kakak harus bolos kuliah dan jemput Evi di depan sekolah. Besok kita ke puncak berdua ya. Awas kalau bohong, Evi laporin ke mbak Indah”, ujarnya dengan marah sambil mengacung acungkan jarinya.

Entah apa yang dikerjakannya terhadap Inem, namun ia menarik tangan Inem dan menyeretnya kekamarnya diatas.
Tepat jam 5 Indah datang. Setelah menciumku, Indah pun berlalu kekamarnya untuk mandi. 30 menit kemudian, Indah keluar memakai daster dan menanyakan Evi dan Inem. Kemudian kukatakan mereka diatas sejak aku datang tadi. Tanpa basa basi, Indah menarikku ke kamar. Sesampainya dikamar, ia mengangkat bagian bawah dasternya, memelukku dari depan, dan meletakkan tanganku di pantatnya sambil membisikkan: “aku mau dong dijilatin pantatku”. Aku menjilati tubuh indah mulai dari pantat hingga basah. 30 menit aku bergumul dengan Indah, dan lagi lagi kulihat Inem di sudut jendela kamar yang sedang mengamati kami. Saat itu Indah memintaku untuk kembali memasukkan kontolku ke pantatnya, namun alangkah kagetnya aku saat berganti posisi menungging menyodok pantat Indah, kulihat Evi yang sedang menjilati pantat Inem diluar sana. Akupun semakin terangsang, hingga 1 jam berlalu, dan kami pun selesai dengan permainan ini. Setelah mandi, aku pamit pulang dengan alasan nanti Evi bangun.

Part II

Pagi ini aku tidak bisa memakai mobil, karena adikku meminjam untuk acara sekolahnya. Aku jadi kalang kabut, mengingat janjiku sama Evi kemarin. Mana mungkin ke puncak dengannya naik bis? Kalau tak ditepati, Evi pasti melapor pada Indah. Aku pusing tujuh keliling. Aku mampir ke warung di depan rumah untuk membeli rokok. Aku terdiam sambil merokok di depan warung. Tak berapa lama, Randy kawan adikku datang menghampiriku dengan motor ninja RR nya, dan menanyakan adikku. Aku mengatakan ia telah pergi dari jam 6 pagi tadi.

“Kak, aku titip motor di rumah boleh ya. Biar aku susul Randy ke sekolah naik taxi. Soalnya kalau motor ditinggal di sekolah nggak ada yang jaga, hari ini kan semuanya study tour ke Bandung”, sahut Randy kalem.

Mendengar itu, akupun mendapat ide cemerlang. Namun, apakah enak ke puncak dengan Evi naik motor? Daripada nggak jadi samasekali dan Evi ngadu dengan Indah, kayaknya ide ini perlu dicoba. Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam motor dari Randy.

“Ya udah kak, pake aja motorku, aku ambilnya besok siang aja ya”, sahut Randy

Setelah menghubungi Evi via handphone, akhirnya aku berangkat ke sekolahan Evi di sekitaran melawai.

“kok naik motor kak”, sahut Evi.

Akupun menjelaskan semuanya, dan Evi memahaminya. Namun Evi minta dibelikan jaket terlebih dahulu, hingga akhirnya kami mengendarai motor kea rah Plaza Senayan. Jam menunjukkan pukul 8.30 WIB, dan Plaza Senayan belum dibuka. Akhirnya kami memarkir motor dan Evi pun menelpon mamanya untuk memberitahukan ia akan pulang malam untuk mengerjakan tugas sekolah di rumah Sheila kawannya. Setelah itu kami mengobrol layaknya sepasang suami istri yang kasmaran. Bahkan sesekali Evi mengelus elus kontolku. Tak terasa, jam sudah menunjukkan jam 10.00 WIB, akhirnya kami segera masuk ke Metro dept. store di lantai tiga .

“Kak, yang ini aja ya. Harganya juga nggak terlalu mahal kok” ujar Evi. Kemudian ia membawanya kekamar ganti.

“Kak, liat sini dong”, teriaknya memanggilku kekamar ganti. Evipun menarikku masuk ke kamar ganti, lalu memaksaku meremas teteknya, dan tangan kanannya meremas kontolku yang telah mengeras dibalik jelana jeansku. Evi menciumiku seperti orang kesetanan. Mulai bibirku, pipiku, kupingku terus sampai ke leherku diciumi oleh Evi dengan membabi buta. Aku pasrah saja melihatnya, namun aku menikmatinya.

“maaf, disini dilarang melakukan hal asusila” ujar SPG sambil menyibakkan tirai kamar ganti. Kamipun bergegas ke kasir untuk membayar diiringi dengan senyuman mesem para SPG.

“Aku ke toilet dulu ya kak, mau ganti celana jeans dan pakai jaket. Oh ya, celana dalam kakak dilepas dong”, bisik Evi di telingaku.

Aku menjadi heran sendiri dengan Evi. Kenapa ia memintaku melepaskan celana dalam? Mengapa ia sebuas ini? Inikah Evi kecil itu? Apa yang merasukinya? Ahhh pusing, pikirku. Akupun ke toilet untuk melepaskan celana dalamku, kemudian bergegas keluar menunggu Evi. 10 menit kemudian Evi keluar dari toilet. Aku terpana melihat penampilan Evi siang itu. Pantatnya yang menyembul dibalik celana jeansnya. Teteknya yang mini dibiarkan menyembul tanpa BH dan memperlihatkan putingnya yang tertarik kaos ketatnya. Evi menggandeng tanganku dan kamipun berjalan ke parkiran dan melajukan motor ke arah Bogor lewat Depok.
Ketika melintasi jalur parung yang sepi, Evi mulai membelai belai kontolku yang masih terbungkus celana jeans. Evi membuka retsletingku, menutupi tangannya yang sedang memegang kontolku dengan tas sekolahnya, kemudian mengocok ngocokkan kontolku dengan lembut dan membisikkan suaranya yang mendesah desah di telingaku.

“kak, keluarin dong yang pertama diatas motor untuk Evi. Evi kan lebih hebat dari kak Indah dan Inem. Mmmmm ….ayo dong kakkk……” ujar Evi terbata bata.

Akupun membagi konsentrasi antara menikmati kocokan lembut Evi dan mengendarai motor yang kupacu 50 km/jam saja.

“ayo dong sayang, keluarin untuk Evi”, sahutnya lagi mendesah berulangkali seperti orang yang kesurupan.

“Ahhh ….. enak sayangg…..”, sahutku! Crooottttt……Pejuku keluar hingga tumpah membasahi speedometer. Lalu Evi memintaku menepi sejenak di tepi jalan yang sepi dan berbatasan dengan hijaunya persawahan. Evi turun dari motor, tanpa malu dan takut takut, ia pun memintaku langsung turun dari motor kemudian menarik tanganku kebelakang pohon besar di tepi jalan itu. Kemudian ia langsung jongkok, dan menghisap kontolku yang basah. Walau hanya 2 menit, sensani yang dibuat Evi membuat kenikmatan yang terkira untukku. Aku mencium keningnya sebagai ucapan terima kasih, lalu beranjak kemotor sambil melap maniku di speedo meter dengan jariku. Ketika aku ingin membuangnya, Evi menarik tanganku dan menjilati jariku tersebut. Ah, gila bener anak ini pikirku, namun aku senang sekali.
Pukul 15.00 WIB kami tiba di vila keluarga Evi di Megamendung. Setelah berbasa basi, menyogok dan mengencam mang Danu penjaga vila supaya tidak memberitahukan kedatangan kami, akhirnya kami masuk ke vila. Sesampainya di dalam, Evi langsung mengajakku mandi air hangat. Setelah mandi, kamipun beristirahat di kamar Evi hingga tertidur selama 1 jam.

“ahhhh…..ahhh …mmmmm” kudengar suara itu samar samar.

Dan aku merasakan geli dibagian kontolku. Rupanya Evi sedang menjilati sambil mengocoki kontolku. Yang lebih hebat, Evi melumuri kontolku dengan coklat. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati ulah adik pacarku ini. Kontolku yang semakin mengeras dan mengacung langsung ditidurkan oleh Evi yang menindih tubuhku sambil menggesek gesekan memeknya di kontolku.

“kak, Evi sudah keluar 2 kali nih. Evi masih mau terus kak” ujar Evi sambil menciumi tetekku yang berbulu.

Akupun mulai terbangun sepenuhnya, dan mendorong tubuh Evi hingga berdiri. Aku menjilati pantat Evi dari belakang, hingga kemudian kumasukkan tanganku ke lubang pantatnya.

“Aduh, sakit kakak” jerit Evi.

“Aku kan masih perawan kak, masukin aja burungnya kakak disini”, sambil menunjuk memeknya yang mini itu,

“Hah, jadi kamu belum pernah ya Vi” tanyaku kaget.

“Udah deh kak, ayo dong”, sahut Evi manja sambil menjilati tetekku.

Aku pun mencium Evi dengan lembut mulai dari mata, hidung, telinga, hingga kami berciuman dengan hebatnya sambil tanganku meremas remas pantatnya.

“Kak, masukin Evi dong. Evi udah nggak kuat nih” rintihnya memohon.

Kutidurkan tubuh Evi dengan lembut. Kucium bibirnya yang ranum. Kujilati teteknya bergantian dan sesekali kusedot hingga membuatnya meringis kegelian. Lalu kujilati pusernya, hingga akhirnya memeknya yang masih mini itu kujilati.

“Ayo kak, masukin dong” sahut Evi memelas sekali lagi.

Akupun mengarahkan kontolku kemukanya, lalu memintanya menjilatinya sejenak. Kemudia kugesek gesekkan kontolku di memeknya dan mulai memasukkannya dengan perlahan.

“aduh kak, sakittttt….” Jerit Evi!

“Sabar sayang, kakak masukinnya pelan pelan ya” sahutku sambil memaksa masuk kontolku di lobang memeknya yang sangat sempit itu. Ah, sungguh menggemaskan memek adik pacarku ini. Tubuhnya yang putih, mukanyanya yang imut, rambutnya yang panjang dan lurus terurai, bibirnya yang berwarna pink, tetek mungilnya yang mancung, kakinya yang jenjang, gayanya yang manja, nafsunya yang membara….dan sekarang aku mendapatkan keperawanannya pula. Ahhhhh ….. Evi, aku sayang kamu dik.

“Aaaakkkkhhhhh……” teriak Evi kesakitan.

“Arrrrrggghhhhh …..” teriakku kenikmatan.

Kontolku telah masuk 1/2 di memek Evi. Dengan perlahan lahan aku terus menembusnya dengan mendorongnya secara perlahan lahan. Darahpun mengalir dari memek Evi ketika kontolku masuk ¾ dimemeknya. Aku terkagum kagum memandangi darah perawan Evi yang mengalir.

“Terima kasih Evi. Aku sayang kamu”, kataku lembut sambil terus mengeluar masukkan kontolku hingga amblas sepenuhnya di memek Evi.

“Sekarang udah enak kak. Ayo lagi kak. Yang lembut sayang” ujar Evi terbata bata sambil menetekan airmata.

“Iya sayang” sahutku sambil terus mendulang kenikmatan dengannya. Tangan kananku terus meraba raba perutnya yang langsing terawat.

“ahhhh …. Aku sudah mau keluar kak, sedikit lebih cepat dong kak” ujar Evi memohon.

Evi pun menarik tangannku, menjambak rambutku, menciumiku membabi buta, lalu berteriak kenikmatan.

“ahhhhh kak……enaaakkkkk…….jangan dicabut dulu sayang” sahut Evi.

Akupun terus memutar mutar kontolku, mendorongnya, menariknya hingga membuat Evi menarik selimut di tempat tidur. Evi terkulai lemas, kemudian kucabut kontolku dengan perlahan. Kontolku masih keras dan mengacung, karena aku belum keluar.

Evi melirik kontolku, lalu menarik tanganku dan mengucapkan terima kasih sambil berbisik: “sabar sebentar ya kak, Evi masih capek” katanya dengan nada lemah.

Aku masih mengocok kontolku dengan lembut. Akupun heran, kenapa aku belum keluar di lobang perawan senikmat ini? Mungkin karena aku telah keluar pertama kali saat diatas motor tadi, dan biasanya keluar yang kedua ini menjadi lebih lama. Aku tetap terangsang saat memandangi darah yang tertumpah di sprei tempat tidur. Evi berdiri menghampiriku, mengangkat kaki kanannya ke sisi tempat tidur, menarik kontolku yang masih mengacung, dan kembali memasukkannya dalam posisi berdiri.

“Ayo kak, masukin lagi” kata Evi

Akupun menggendong Evi dengan perlahan kearah lemari yang berdempetan dengan tempat tidur, namun tak kulepaskan kontolku yang telah menancap setengah di memeknya.
Kudorong Evi, kuciumi bibirnya, kumasukkan kontolku sepenuhnya, mengeluarkannya setengah, memasukkannya kembali, memutarnya, hingga akhirnya kupacu dengan cepat hingga membuat Evi mendesah desah kenikmatan sepertiku.

“kak…ayo terus kak…..enak…..enak ahhhhh…kakak hebatttt……ahhhhh” ujar Evi setengah berteriak.

Aku terus memacu kontolku keluar masuk hingga merasakan memeknya Evi yang telah basah sekali. Kuremas teteknya, kucupang lehernya kiri dan kanan, kujambak rambutnya lalu kucium, bahkan kugigit bibir pinknya dengan lembut hingga membuat Evi menjerit.
“ahhhhh……Evi…..aku mau keluar sayang……” sahutku lantang.

Walaupun dalam kenikmatan yang luar biasa, aku masih ingat bahayanya jika kumuntahkan maniku didalam, hingga akhirnya kucabut kontolku, kemudian kuminta Evi menungging membelakangiku, dan tanpa permisi langsung kuludahi pantat Evi, dan kuhujamkan kontolku dipantatnya yang juga masih perawan. Evi menjerit kesakitan sampai menangis dan berusaha meronta ronta, namun aku terus memegangi tubuhnya dan menghujamkan kontolku hingga masuk sepenuhnya di pantat Evi.

“kakakkkkkkk….sakitttttt” teriak Evi sambil menangis!

Namun aku tetap memasukkannya, mengeluarkannya dan sesekali meremas pantas Evi yang montok. Tak sampai 3 menit aku memuntahkan maniku di pantat Evi, hingga keluar membasahi pantatnya. Setelah kucabut, aku meminta Evi menjilati dan menghisapnya. Evi pun menurutinya sambil melirikku dengan mata nakalnya. Setelah membersihkan kontolku dengan mulutnya yang imut itu, Evi balas menggigit perutku hingga terluka sedikit.

“biar tau rasa” sahut Evi sambil berdiri dan menciumiku.

Wah, untunglah Evi tak marah pikirku. Luar biasa sekali hari ini. Akhirnya kami berdua tertidur pulas tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.
Tiba tiba aku terbangun dan langsung melihat jam yang telah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Aku segera membangunkan Evi. Herannya, Evi bukan bergegas mandi, namun justru meraih kontolku dan menghisapnya. Kali ini Evi memintaku diam saja di tempat tidur. Evi menjilati dan menghisap kontolku sesukanya, bahkan sesekali menciumi tetekku. Evi terus melakukan aksinya, hingga akhirnya air maniku keluar sedikit membasahi kontolku. Evi menggesek gesekkan kontolku di pipinya, kemudian mengajakku mandi.
Ketika menyabuni tubuhnya, Evi pun kembali mengocokkan kontolku dengan sabun. Kali ini Evi tidak memintaku memasukkan kontolku dimemeknya, namun ia segera duduk di toilet, membuka memeknya, dan memintaku menjilatinya dari ujung jempol kakinya.
Mengingat semua yang telah diberikan kepadaku, akhirnya kuturuti kemauannya. Bahkan ketika ingin beranjak menjilati betisnya, Evi memintaku untuk kembali menghisap jari jari kakinya.

“kak, sekarang jilat betis sampai ini Evi ya” sambil menunjuk memeknya.

20 menit kujilati mulai paha hingga memeknya sampai membuat Evi kembali mengalami puncak kenikmatan. Setelah itu ia kembali meraih kontolku, menjilati, mengocok, dan melumatnya hingga 5 menitan. Sekali lagi aku keluar, dan Evi memandikan aku dengan air hangat. Hingga akhirnya kami berpakaian kembali setelah mandi, dan Evi mengecupku lembut serta memasukkan sprei tempat tidurnya kedalam tasku. Untuk kenang kenangan, katanya.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan jam 20.50 WIB. Aku merasa lelah sekali, dan merasa tak sanggup untuk pulang ke Jakarta dengan motor. Akhirnya aku menghubungi pak Jaya penjaga vila keluargaku yang terletak tak jauh dari vila Evi. Aku meminta pak Jaya menyewa mobil angkot untuk mengantar kami ke Jakarta. Pukul 21.20 WIB pak Jaya datang menjemputku di vila Evi. Setelah motor dimasukkan kedalam angkot, kamipun pamitan ke pada mang Danu dan pak Jaya. Namun mang Danu memintaku untuk membawa hasil panen melon di kebun belakang. Aku tak mau, namun mang Danu memaksaku mengambilnya dibelakang vila. Sesampainya di belakang, mang Danu mengajakku berbicara serius mengenai kedatangan neng Fani tadi sore ketika kami tertidur.
Neng Fani yang dimaksudkan oleh mang Danu adalah kakak dari Indah pacarku dan Evi.
Neng Fani tidak mau mengganggu kalian, karena neng Fani juga datang dengan cowok gelapnya. Fani adalah kakak tertua dari Indah dan Evi. Fani yang berusia 30 tahun, dan telah menikah. Namun Fani sering berselingkuh dengan brondong, karena suaminya berlayar di Eropa. Walaupun 30 tahun, Fani memiliki tubuh yang sangat sempurna. Teteknya yang 36C, pantatnya yang montok, tubuhnya yang langsing, kulitnya yang putih bersih, parasnya yang cantik, bibirnya yang tebal, bicaranya yang rada cadel, rambutnya yang hitam lurus terurai, matanya yang tajam sampai kebiasaannya pipis di lantai dikamar mandi yang tak pernah dikuncinya itu memang sering membuatku mencuri curi pandang terhadapnya.

“Neng Fani sih orangnya bebas teuingg den. Soklah jangan takut dimarahin. Mamang juga sering melihat neng Fani begituan dengan berganti ganti lalaki di vila ini kok” ujar mang Danu.

Wah, penjelasan mang Danu tersebut membuatku tenang dan terangsang juga untuk mencicipi mbak Fani. Setelah selesai menjelaskan semuanya, akhirnya aku memberikan uang damai kepada mang danu untuk informasinya, lalu kami membawa melon ke angkot dan segera pulang ke Jakarta. Selama dalam perjalanan, Evi bercerita mengenai kebiasaannya mencuri blue film milik mbak Fani dan mbak Indah. Dari sanalah ia mempelajari semua yang dipraktekkan tadi denganku. Aku berlagak tenang dan acuh saja mendengarnya.
Pukul 00.30 WIB kami sampai di rumah Evi. Aku tak mengantarnya ke rumah, karena orang rumah mengira Evi dari rumah temannya untuk belajar. Setelah Evi pulang, kamipun berlalu ke rumahku.

part 3

“Aku sedang inginnnya” DEWA 19 mengalun dari MP.3 9500 membuktikan Indah yang menelponku.

“ya sayang” sahutku

“Aku nggak biasa ketemuan hari ini, lagi jalan nyari buku sama Sheila. Jangan nakal nakal ya say…blab la bla…. Dan diakhiri dengan muacchhhh” sahut Indah mesra lewat 9300 nya

“Iya, aku juga ke bandara nganter bibi yang mau pulang ke Jogja. Aku naik taksi, soalnya capek sekali nih. Besok siang aku jemput di kampus ya. Byee..” sahutku sambil mematikan handphone.

Setelah menunggu 2 jam, pukul 13.00 WIB akhirnya bibi boarding dan aku take off dengan taxi lagi. Aku keluar tol Kelapa Gading, dan bermaksud makan di sekitaran Kelapa Gading. Namun sayang, jalanan macet sekali, hingga akhirnya kubatalkan saja dan meminta taxi langsung meluncur ke bilangan selatan Jakarta. Melihat kondisi tol yang juga macet, akhirnya aku meminta supir taxi lewat non tol saja. Diperempatan ex Coca cola kulihat 300 E merah milik Indah melintas. Dibalik kaca beningnya, kulihat 3 orang didalam mobil. Rambut panjang Indah yang khas serta memperlihatkan gaya menyupirnya yang seperti orang bingung, dan disampingnya ada Sheila kawannya yang khas dengan rambut cepaknya. Satunya lagi pasti pacar Sheila, si Andi yang khas dengan gundul gothicnya itu. Aku meminta supir taxi mengejarnya, namun lampu lalulintas telah merah. Untung lampu hijau, hingga aku meminta supir taxi mengejarnya. Lumayan kalau diantar Indah pikirku, karena ongkos taxi sudah menunjukkan angka Rp. 100.000. Kami pun berusaha mengikuti mobil Indah yang berbelok ke bilangan Pulo Mas. Kira kira 100 meter dari jalan raya, aku melihat mobil Indah belok kekanan dan masuk ke suatu wilayah. Kamipun mengejarnya, dan sampai di depan wilayah itu aku membaca sebuah papan bertuliskan “HOTEL”. Mau ngapain nih si Indah. Beli buku kok di hotel? Pikirku kebingungan. Akupun meminta supir taxi menjauhi mobilnya, hingga dari kejauhan kulihat mobil tersebut masuk ke suatu garasi, lalu garasi tersebut langsung ditutup. Aku mencium gelagat kurang beres, hingga akhirnya aku meminta supir taxi menunggu 10 menit, hingga akhirnya aku membayar taxi dan turun menghampiri kamar tersebut.

“Maaf mas, mau kemana?” tanya seorang room boy padaku.

“Oh, saya sudah janjian sama kawan saya yang didalam sini pak” sahutku kalem.

“Silahkan mas” jawabnya kalem juga.

Aku masuk perlahan lahan melalui pintu kecil yang tidak berisik seperti roling door disampingnya yang berisik jika dibuka. Kemudian aku membuka pintu kamar, dan melihat Indah sedang membelai belai kepala Andi gundul yang sedang menjilati memek Indah. Sheila pun sedang asik menjilati tetek kanan Indah sambil tangan kirinya berusaha mengocokkan kontol Andi gundul.
Mereka bertiga kaget, dan satu persatu langsung duduk di sisi tempat tidur. Aku memberikan bogem mentah tepat di mata kanan Andi, kemudian menampar Sheila dan Indah.

“Kamu kok gitu sih N’dah” kataku dengan suara sedikit keras.

“Maaf ya sayanggg….” jawab Indah memelas dan berusaha memelukku.

“”Kita main berempat aja. Elu silahkan deh make Sheila” kata Andi bersemangat.

Tanpa basa basi, sekali lagi aku menendang Andi tepat di kepalanya hingga ia terjatuh ke lantai. Ketika berusaha melawan, sekali lagi kutendang kepalanya. Andi terkapar di lantai, dan akupun bergegas keluar dan menendang mobil Indah hingga penyok.
Aku berlari mencari taxi kedepan, dan setelah dapat taxi akupun melaju ke selatan Jakarta. Inikah karma, karena berselingku dengan Evi adiknya, pikirku bingung? Aku hanya terdiam hingga satu jam, hingga kemudian sampai di rumah. Setelah menenggak segelas Chivas milik ayah, mulai pukul 17.00 WIB sampai 20.00 WIB aku tertidur pulas di kamar. Sekitar pukul 21.00 WIB aku merasakan elusan lembut dibagian kontolku. Aku sedikit terbangun, dan melihat Indah sedang berusaha membuka retsletingku. Aku menampiknya dan berdiri. Akupun marah marah terhadapnya dengan berbagai makian, dan Indah hanya bisa tersedu sedu menangis sambil terus meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Hampir satu jam kami ribut, dan tiba tiba mamaku masuk menanyakan masalah kami.

“Semuanya baik baik saja kok mah” sahutku

“Ya sudah, nanti ke bawah ambil platinum card mama, kalian jalan jalan ya” sahut Mama

Akupun merasa tidak enak ribut dirumah, hingga akhirnya aku pergi keluar dengan Indah.

Setelah berputar putar hingga akhirnya sampai ke daerah menteng, kamipun tetap tidak menemukan titik temu, akupun memarkirkan mobil. Tiba tiba Indah bertanya : “Untuk nebus perbuatan aku. Kamu mau apa? Aku tetap diam sampai 10 menitan. Ketika melamun, tiba tiba aku terbayang bayang untuk berselingkuh dengan mbak Fani. Otakku mulai nakal dan berkata dalam hati: “Ah, alangkah nikmatnya jika bisa meremas tetek mbak Fani yang 36C, kontolku dihisap dan dijepit bibirnya yang sexy, menggoyang pantatnya yang sexy, ….”. Ketika aku bengong membayangkan keseksian mbak Fani, tiba tiba sekali lagi Indah bertanya sekali lagi: “biar impas, kamu mau selingkuh dengan siapa. Aku rela kok?
Tanpa dikomando, akupun langsung mengucapkan: “mbak Fani”!
Nampak nampak wajah kaget di muka Indah. Kamipun berdebat, hingga akhirnya Indah terdiam, lalu mengatakan: “Ya sudahlah, nanti aku usahain. Tapi kamu jangan tinggalin aku ya sayang” sahut Indah manja sambil memelukku. Aku rada heran juga dengan anak ini dan keluarganya, namun kunikmati sajalah, bahkan saat ini ia sudah mulai menjilati kontolku diatas mobil. Setelah maniku mau keluar karena dijilati Indah, aku menarik mukanya dan menyemprotkjan maniku di bajunya hingga belepotan. Herannya, Indah hanya mesem mesem sambil mengambil tissue untuk memgelap baju.
Pukul 23.00 WIB aku mengantar Indah sampai di gerbang, sambil berpesan: “Pokoknya, kalau perjanjian kita belum terlaksana, aku nggak mau ketemu”. Setelah Indah masuk, aku segera menancap Wranglerku.
Ini sudah hari ketiga, dan Indah belum juga menghubungiku. Pukul 12.00 WIB Indah menghubungiku via telepon rumah.

“Kamu nanti malam jam 8 an datang aja ke rumah ketemu mbak Fani tuh. Kami semua ke puncak untuk refreshing”. Sahut Indah di telepon

“Mbak Faninya marah nggak? Kamu bilang apa? Dan berbagai pertanyaan cemas lain kutanyakan pada Indah

“Aku tuh pernah nangkep basah mbak Fani selingkuh sama si Ivan supir papa, jadi nggak usah takut. Kayaknya dia juga kesenengan tuh. Nggak usah hot hot ya mainnya” sahut Indah dengan nada ngambeknya.

“Ya udah. Byeee” sahutku.

Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Sekarang waktunya kerumah Indah pikirku. Pukul 19.30 WIB aku sampai lebih dulu di rumah Indah. Ternyata si Inem nggak ikut, malah ialah yang membukan pintu untukku.

“Loh, neng Indah kan ke puncak den. Mau gituin saya lagi ya den? Tapi ada neng Fani lo den” kata Inem dengan gaya menggodanya.

“Inemmmm, persilahkan masuk dong kalau ada tamu” teriak mbak Fani lantang

Akupun masuk, duduk, dan baca majalah, namun aku tidak melihat mbak Fani disitu. 15 menit aku menunggu sambil membaca majalah, hingga akhirnya Inem mengantarkan minum dan berbisik: “dipanggil mbak Fani di perpustakaan sebelah tuh den”.

Akupun menyapa mbak Fani, dan ia mempersilahkan aku duduk. Saat itu ia masih mengenakan pakaian kantor berikut sepatu hak tingginya. Mbak Fani ngobrol seputar mobil denganku, hingga akhirnya memintaku mengambilkan catalog mobil yang terletak di bagian atas lemari perpustakaan mereka.
Saat mengambil kursi untuk membantuku mengambil buku itu, mbak Fani membuka lemari dan mengambil sebotol air mineral, 2 buah kapsul berwarna biru dan satu botol kecil.
Ketika aku menaiki kursi dan berusaha meraih buku tersebut, mbak Fani menghampiriku dengan membawa 2 buah pil biru dan air mineral tersebut. Mbak Fani memintaku meminum 2 buah pil tersebut. Akupun meminumnya, dan aku paham, kalau itu adalah Viagra. Setelah aku minum, mbak Fani langsung membuka retseling celanaku saat aku berdiri diatas kursi. Mukanya persis di depan kontolku yang mulai mengeras dan mengacung didepan hidungnya. Mbak Fani tidak memegangnya dengan tangan, tidak mengocoknya, tidak menjilatinya namun langsung menghisap kontolku dalam dalam hingga pipinya yang cubi itu kempot.

“Ahhhhh…..mbak geliiiiiiiiii” sahutku kegelian.

Mbak Fani terus saja menghisap, melepaskannya, menghisap, melepaskannya, hingga akhirnya ia menjilati biji pelerku dengan rakusnya. Kali ini mbak Fani mengocokkan kontolku dari samping dengan bibirnya yang seksi. Keahliannya mengocokkan kontol dengan bibir perlu diacungi jempol. Mbak Fani membuka celanaku sepenuhnya, dan langsung menghampiri pantatku, menjilatinya, dan saat ini tangan kanannya mengocok kontolku dengan lembut dari belakang.

“Mmmmmmm………….enakkkkkk mbakkkk………”sahutku sampai gemetaran

Mbak Fani masih berpakaian lengkap dengan sepatu kantornya, namun sesekali berusaha membuka celana dalamnya, bahkan hingga melorot hanya sampai di bagian paha. Mbak Fani kembali menghisap kontolku dari depan. Aduh, baru kali ini ada hisapan kontol yang membuat tubuhku seperti tersedot semua ke mulutnya.

“Ahhhhhh…..mbakkkkkkk, aku kok keluarnya cepet nih” sahutku sambil gemetar

“Kalau mau keluar, bilang ya” sahut mbak Fani mendesah

“Sekarang mbak” sahutku lagi

“Tahan yaaaaa, sampai mbak bilang semprot” sahutnya terbata bata

Mbak Fani mengeluarkan kontolku dari mulutnya, mengocoknya dengan tangan kirinya dan ia pun naik keatas kursi tempatku berdiri, menarik roknya keatas dengan tangan kanannya, mengangkat kaki kanannya dan meletakkannya di pinggiran lemari, kemudian mengarahkan kontolku ke memeknya.

“sempyyyyyyootttttt……….” Kata mbak fani mendesah

Akupun menyemprotkan maniku di memeknya hingga basah. Herannya, baru kali ini kontolku langsung mengecil saat keluar. Walaupun telah mengecil, mbak Fani tetap menggesek gesekkan kontolku di memeknya.
Mbak Fani memintaku turun, menggandengku ke sofa, mempersilahkanku duduk sementara ia tetap berdiri, memberikanku minuman, dan membelai rambutku seperti anak anak.
Mba Fani memintaku membukakan jasnya, bajunya dan BH nya, dan iapun membuka seluruh pakaianku. Mbak Fani mengambil botol kecil tadi, dan mengoleskan cairan di botol itu mulai dari lutut hingga pangkal pahaku.

“Aduh mbak, sakittttt” jeritku kesakitan karena urutan mbak Fani yang keras itu

“Sabar ya sayang. Biar kita bisa sampai pagi” kata mbak Fani.

Kemudian mbak Fani memintaku beristirahat sejenak dan kemudian ia memanggil Inem.

“Inemmmmmmmmmm…………” teriak mbak fani dengan keras.

Inem pun datang menghampiri mbak Fani. Aku sedikit bingung dengan sandiwara yang akan dimainkan mbak Fani, namun aku tetap saja mengangkang sambil terkaget kaget melihat ukuran kontolku yang menjadi lebih besar dan panjang dari biasanya. Apalagi saat itu melihat Inem dengan kaos pinknya yang memperlihatkan tetek dibalik BH hitamnya serta rok mini dari bahan kaos serta penampilan mbak Fani yang hanya memakai rok, sepatu hak tinggi dan tetek 36 C nya yang montok itu. Ahhhh, nikmatnya hidup ini pikirku.

“Inem, bersihin memek mbak nih” sambil mengarahkan memeknya yang masih setengah tertutup rok kearah bibir Inem.

Inem pun menjilati memek mbak Fani, sambil mbak Fani membelai rambut Inem. 5 menit memperhatikan mereka, tiba tiba maniku muncrat dengan keras hingga berbunyi “creeeeeeetttttt”.
Mbak Fani dan Inem tersenyum bersamaan, sedangkan aku nampak malu malu. Herannya, kali ini kontolku tidak menciut, melainkan tetap seperti tadi.. Sekarang mbak Fani meminta Inem berdiri diatas meja, membuka rok Inem dan menarik jemput Inem tercabut beberapa helai.

“Aduh mbak, ojo dicabutin lagi donggggg” sahut Inem memelas.

“Diem kamu Nem, nanti nggak mbak ajak lagi lo” ancam mbak Fani sambil menjilati memek Inem dengan rakusnya. Tiba tiba mbak Fani berhenti dan kembali membuka laci kembali. Mbak Fani mengambil beberapa sex toys koleksinya. Ia memilih kontol kontolan berwarna merah. Tanpa basa basi, Mbak Fani memasukkan benda itu ke pantat Inem, hingga membuat Inem meringis.

“Ayo Nem” ujar mbak Fani sambil mengocokkan kontol kontolan itu dengan cepat di pantat Inem.

“Ssssshhhhhh….mbak nikmat nikmmmmmmmm……aaahhhh” sahut Inem menanggapi jilatan dan hujaman kontol kontolan mbak Fani.

Adegan mereka berdua membuatku mengeluarkan mani sekali lagi. “creeeeettt…” namun kali ini sudah mulai sedikit yang keluar. Melihat aku telah keluar dua kali, mbak fani dan Inem menghampiriku, lalu menjilati kontolku secara bergantian.

“Ahhhh….mbak….Nem…..mbak……ennnnnn…..mmmmm……akkkk” ujarku

“Nem, bukain rok mbak pake mulut” kata mbak Fani terbata bata sambil menghisap kontolku.

Aku melihat Inem bersusah payah membukanya dengan mulut, hingga akhirnya terbuka juga. Inem langsung mencabut kontol kontolan yang ditancapkan mbak Fani di pantatnya, kemudian Inem pun langsung menancapkan kontol kontolan itu di pantat mbak Fani.

“Kurang ajarrrrrr kamu Nem” kata mbak Fani berteriak.

Namun Inem tetap saja mengeluar masukkan benda itu di pantat mbak Fani, hingga akhirnya mbak Fani menarik tangan Inem kedepan dan menyuruh saya menjilati tetek Inem yang masih terbungkus kaos pink dan BH itemnya

“Ayo den, jilatnya kerasan dikit dong” mohon Inem dengan nada memelas

Mbak Fani menarik badan Inem dan meletakkannya di kontolku. Mbak Fani membantu Inem dengan menaik turunkan tubuh Inem diatas kontolku.
Mbak Fani mengarahkan memeknya kemulutku dan memintaku menjilatinya. Tak sampai 5 menit, maniku muncrat lagi di memek Inem, kemudian Inem menarik memeknya dan memintaku menjilati memeknya, dan sekarang mbak Fani yang memasukkan kontolku ke memeknya. 5 menit kemudian, akupun memuncratkan maniku kembali di memek mbak Fani, hingga kemudian mbak Fani turut minta dijilati memeknya. 2 buah memek ada di depan mulutku saat ini. Mbak Fani dan Inem berebutan untuk dijilati, sambil mereka berdua berciuman dengan mesra diatas kepalaku.
Mbak Fani berbisik dengan Inem, dan kemudian mereka berpelukan, lalu memasukkan kontolku yang masih tetap tegak berdiri di celah celah tetek mereka yang sedang berpelukan. Sambil berpelukan, mereka menaik turunkan badan mereka yang menjepi kontolku. Sesekali mbak Fani meludahi kontolku. Aku tak bisa menahan sensasi yang baru kualami ini, hingga akhirnya maniku munrat kembali. Mbak Fani dan Inem kembali berebutan menjilati kontolku hingga bersih. Kamipun istirahat, kemudian mbak Fani membuka kaos dan BH Inem, lalu menjilati dan menghisap tetek Inem. Hampir 10 menit aku memperhatikan Inem dan mbak Fani saling menjilat dan menghisap.

“AArrrrrrrrrgggggghhhhh…..creeeeet” aku memuntahkan maniku untuk yang kesekian kali karena melihat ulah mereka. Kali ini mbak Fani meminta Inem menjilati pantatnya, dan kemudian mbak Fani memasukkan kontolku ke memeknya. Mbak Fani memacu tubuhnya naik turun dengan cepat di kontolku. Kali ini dengkulku serasa mau copot.

“Mbakkkkk…….ampppp……unnnnnn…..ssshhhhh ahhhh a……..” sahutku terbata bata

“ayo sayaaanggg puaskan mbbbaaa…….kkkk……”sahut mbak Fani terputus putus

Mbak Fani memacu lebih cepat lagi, hingga akhirnya berusaha menarik kepalaku, menjambakku, menciumiku dengan buas, dan kemudian menghantamkan tubuhnya dengan keras di kontolku.
“Ahhhhhhhhhhhhh…………..” sahut mbak Fani sambil memelukku erat erat hingga akhirnya terkulai lemas diatas tubuhku.

“kamu hebat saying” ujar mbak Fani sambil mencium mata kananku, lalu ia berbalik menuju kursi dan duduk. Heran, kenapa kontolku masih saja terus berdiri, padahal sudah berkali kali memuntahkan mani.

“Sekarang jatah kamu Nem” kata mbak Fani pada Inem

Tanpa basa basi, Inem pun memacu tubuhnya seperti mbak Fani tadi, namun tak sampai 5 menit Inem telah terkulai di tubuhku. Mbak Fani berdiri menghampiri pantat Inem dan kontolku yang masih menyatu, lalu menjilatinya. Inem mulai menaik turunkan tubuhnya kembali diatas kontolku. Perlahan lahan Inem menaik turunkan tubuhnya dikontolku, sambil sesekali memutarnya, hingga akhirnya iramanya semakin cepat seperti tadi. Sudah 10 menit aku digoyang Inem, dan dijilati mbak Fani, namun mereka belum juga berhenti.

“ayo den, akhhhhhhhhhhhhhhh….saya wes keluar den” ujar Inem sambil berdiri dan mencabut memeknya dari kontolku.

Mbak Fani dan Inem menjilati kontolku yang masih tetap mengacung dan besar. Aku benar benar lemas, namun kontolku tak mau mengecil. Mbak Fani dan Inem pun akhirnya memahamiku.

“Aku capek mbakkkk” kataku pada mbak Fani.

Kamipun beristirahat selama 30 menit, dan mbak Fani meminta Inem mempersipkan makan malam. Dengan jalan yang malas malasan, Inem pun berlalu mempersiapkan makanan. Mbak Fani mengurutku dengan lembut.

“Mbak pijit ya sayang” ujar mbak Fani dengan lembut di telingaku sambil menjilati kupingku.

Aku dan mbak Fani tertidur di atas sofa selama 1 jam, dan terbangun saat Inem sedang melap badan kami dengan handuk hangat. Herannya, kontolku masih saja mengacung dan keras. Inem mempersilahkan kami makan. Dalam keadaan bugil, kami menuju meja makan. Mbak Fani tersenyum memperhatikan kontolku yang masih terus mengacung di bawah menja makan kaca milik mereka. Sesekali mbak Fani yang duduk diseberangku memainkan kakinya di kontolku. Dan yang paling kurang ajar adalah tingkah Inem yang masuk ke kolong meja makan dan menjilati kontolku. Buat apa marah, justru nikmat sekali kurasakan. Bahkan sesekali mbak Fani memasukkan jempol kakinya ke pantat Inem.
Selesai makan, kami beristirahat dan menonton CNN selama 1 jam di ruang keluarga. Mbak Fani meletakkan kepalanya dipangkuanku, dan Inem masih terus menjilati biji pelerku dan mengelus elus pahaku sambil menonton TV. Kali ini, mbak Fani hanya meminta Inem duduk diam disofa untuk masturbasi. Kemudian mbak Fani memintaku terlentang di karpet. Seluruh tubuhku dijilati mbak Fani hingga basah, bahkan sesekali ia meludahi tubuhku dan menjilatnya kembali. Aku sungguh terpana melihatnya. Wanita secantik dia, tetek sebesar itu, kulit yang putih seperti ini, rambutnya yang sering melambai lamai saat mengentotiku, bibir sexy, namun mau melayaniku dengan luar biasa seperti ini.

“Mbak masukin lagi ya sayang” ujar mbak Fani sambil mengelus pipiku.

Dengan hati hati, mbak Fani berjongkok diatas kontolku. Ia memasukkan kontolku dengan perlahan ke memeknya. Setelah beberapa kali naik turun, mbak Fani mencabutnya, dan pergi ke arah perpustakaan. Aku tetap tergeletak di karpet, sedangkan Inem masih asyik mendesah desah sendirian sambil memainkan memeknya di sofa.
Mbak Fani kembali membawa benda kecil. Mbak Fani memakaikan ring plastik berduri di kontolku. Mbak Fani kembali jongkok, kakinya tak menyentuh pinggulku, dan dengan hati hati ia memaksa kontolku masuk. Mbak Fani menaik turunkan tubuhnya diatas kontolku, memutar mutar memeknya di tubuhku dengan cepat.

“aaahhhhhh mbakkkk ennnn….aaaa……kkkkk” sahutku meringis.

Mungkin inilah goyangan madura itu pikirku. Selama 20 menit aku telah keluar 3 kali dengan goyangan mbak Fani itu. Akhirnya mbak Fani pun lemas, terkulai dan menciumi bibirku.

“Ma kasih saying. Mbak puas sekali. Kamu hebat” kata mbak Fani

“Iya mbak, aku juga puas. Ma kasi ya mbak” sahutku hingga kemudia aku tertidur.

Kami dibangunkan, dan aku sungguh kaget karena yang membangunkanku adalah Mamanya Indah, Evi dan mbak fani. Aku melihat mbak Fani tertidur pulas di depan kontolku, dan Inem diatas paha mbak Fani. Aku melihat ada yang terganjal di pantatku. Rupanya Inem memasukan kontol kontolan mbak Fani di pantatku. Mama mencabutnya dengan keras, dan melemparkannya ke Inem. Inem pun kaget, demikian halnya dengan mbak Fani. Berhubung baju kami ada di perpustakaan, akhirnya kamipun disidang dalam keadaan bugil di ruang tamu. Herannya, kontolku masih saja menacing dan keras. Entah obat apa yang diberikan mbak Fani padaku.
Setelah menginterogasi kami, akhirnya terbongkarlah semua skandal. Mbk Fani membongkar aksiku di puncak dengan Evi, Mbak Fani membongkar paksaan Indah terhadapnya, dan aku membongkar kelakuan Indah dengan Andy gundul dan Sheila.
Mama terdiam, hingga akhirnya ia mengambil handphonenya.

“Indah, kamu dan Evi pulang ya ke Jakarta. Papa suruh tunggu aja di puncak, nanti mama yang jemput” ujar mama di handphone dan kemudian menutupnya


Bersambung PART IV ….
Guru Matematika
Waktu aku kelas satu SMA ada guru matematika yang cantik dan sangat enak jika
memberikan pelajaran. Namanya Asmiati umurnya dua puluh sembilan, kulitnya
putih halus dan bodynya padat berisi terlebih lagi dia menikah pada usia dua puluh
tujuh tapi sekarang janda karna suaminya meninggal waktu usia perkimpoian mereka
baru tiga bulan karena kecelakaan lalulintas . Yang aku senang dari bu Asmi adalah
jika mengajar ia sering tak sadar kalau bagian atas bajunya agak terbuka sehingga
tali BH pada bagian pundaknya sering terlihat oleh aku yang jika pelajarannya selalu
mengambil duduk di depan dekat meja guru. BH yang dia gunakan selalu warna
hitam dan itu selalu menjadi tontonan gratisku setiap pelajarannya.
Pagi itu sekitar jam delapan lewat kami sudah dipulangkan karna akan ada rapat
guru. Aku agak kesal karna pelajaran kedua matematika artinya aku gak bisa ngeliat
pemandangan indah hari ini, dan untuk menghilangkan suntuk aku pun pergi main
ketempat kawanku. Aku masih tak tahu aku akan dapat rejeki nomplok.
Sekitar jam sembilan lewat aku pergi pulang, dan pada saat lewat sekolah aku
melihat bu Asmi sedang menunggu angkot, aku pun mengajaknya
" mari saya antar bu " ajakku tanpa berharap dia mau
" tapi rumah ibu agak jauh ko " ia mencoba menolak
" gak pa-pa kok bu, gak enak sama guru PPKN " candaku
setelah berpikir sebentar akhirnya ia mau " iya deh tapi ibu pegangan ya soalnya ibu
pernah jatuh dari motor "
" silahkan bu " setelah itu kau menjalnkan motorku dengan kecepatan sedang.
Tangan bu Asmi yang berpegangan pada pahaku menyebabkan reaksi pada penisku,
apalagi jika mengerem pada lampu merah aku merasa ada sesuatu yang empuk menekan dari belakang.
Sampai dirumahnya yang agak berjauhan dengan rumah-rumah yang lain aku disuruh masuk dulu. Dan ketika sudah duduk di sofa empuk bu Asmi bicara
"ibu ganti baju dulu ya ko "
setelah itu ia masuk kamar dan menutup pintu mungkin karna kurang rapat sehingga
pintu itu terbuka lagi sedikit. Entah setan mana yang masuk kekepalaku sehingga aku memberanikan diri untuk mengintip ke dalam. Di dalam sana aku bisa melihat
bagaimana bu Asmi sedang membuka satu persatu kancing bajunya dan setelah
kancing terakhir ia tidak langsung menanggalkan bajunya, tapi itu sudah cukup
membuat napasku membuat nafasku memburu karna kau bisa melihat kalau
sepasang dadanya yang besar seperti hendak melompat keluar. Karna terlalu asyik
pintu itupun terbuka lebar. Aku kaget dan hanya bisa mematung karna ketakutan.
Bahkan penisku langsung mengkerut.
Melihat aku, bu Asmi tidak terlihat kaget dan tetap membiarkan bajunya terbuka.
Setelah itu ia mendekati aku
" kamu sering ngeliat BH ibu kan " tanyanya didekat telingaku
" i...iya bu " jawabku ketakutan.
" kalau gitu ibu kasih kamu hukuman " lalu ia menarikku dan didudukkan ditepi
tempat tidur.
" sekarang kamu baring tutup mata dan jangan gerak kalo teriak boleh aja " katanya
dengan suara nafas yang agak memburu.
Aku pun menurut karna merasa bersalah. Lalu ia membuka retsleting celana
sekolahku menurunkan CDnya dan mengelus-elus penisku dengan lembut, setelah
penisku tegak lagi dia berjongkok dan menjilatinya.
"auh... uh.. uuuh ..." rintihku menahan kenikmatan semantara bu Asmi sibuk dengan
aktivitasnya
"ah ... mmmhh... bu stop bu" rintihku karna aku merasa seperti mau meledak
Dia tak menjawab, malah semakin hebat menyedot penisku. Tubuhku semakin
mengejang dan tanpa bisa kubendung lagi, muncratlah cairan putih itu dan aku
langsung terduduk sambil berpegangan pada tepi ranjang.
Rasanya seperti sedang melayang, ia telan habis spermaku sementara aku masih
terduduk kaku, malu takut dan senang bercampur jadi satu. Bu Asmi lalu berdiri dan
tersenyum
"gimana...lebih enak dari pada cuman liat khan..?" sambil kedua tangannya
menjambak rambutku
"iya bu enak sekali" jawabku mulai berani sambil ikut berdiri.
Setelah wajah kami berhadapan ia menciumku dengan lembut, lalu membimbingku
duduk ditempat tidur. Kami berpelukan dan Asmi kembali menciumku, lalu melumat
bibirku sementara tangannya menanggalkan seluruh pakaian ku, dengan tangkas
aku mengimbangi gerakan tangan itu sehingga akhirnya kami sama sama tanpa
pakaian. Bedanya aku telanjang bulat sementara Asmi masih memakai BH hitamnya
karna memang sengaja tak ku lepas.
Asmi melepaskan ciuman dibibirku lalu mengarahkan kepala ku kebawah yaitu
payudaranya, aku segera melepas BH nya dan mulai meremas-remas dadanya,
sekali-sekali aku puntir putingnya sehingga ia melenguh panjang. Puas meraba aku
lalu menyapu seluruh dadanya dengan lidahku dan menyedot ujung putingnya sambil
digigit-gigit sedikit. Hasilnya hebat sekali Asmi bergoyang sambil meracau dengan
kata-kata yang tak jelas. Setelah itu Asmi berdiri sehingga aku berhadapan dengan
vaginanya, wangi yang baru pernah kucium itu membuatku bertambah panas
sehingga kujilati semua permukaan vaginanya yang sudah banjir itu.
Setelah itu Asmi merebahkan diri di ranjang tangannya mendekap kepalaku pahanya
dibuka. Sehingga memudahkan aku menjilat dan memasukkan lidahku kedalam
vaginanya dan menggigit-gigit bagian daging yang merah jambu. Sehingga tubuh
Asmi semakin mengejang hebat
"ssshh... aahh... terus ko" pintanya diikuti desah nafasnya.
Sekitar lima menit ku sapu vaginaya aku melepaskan dekapan pada kepalaku dan
kembali mengulum bibirnya. Ia lalu meraih penisku
"masukkan ya ko udah gak tahan" katanya dengan terengah dan membimbing
penisku menerobos goa miliknya yang tek pernah lagi merasakan penis semenjak
suaminya meninggal.
Aku merasakan kenikmatan yang kebih hebat dibandingkan saat dimasukkan
kemulutnya.
"slep...slep...slep" kuputar-putar didalam sambil mengikuti goyangan pantat Asmi.
sambil kupompa bibir kami terus berperang dan tanganku meraba dan meremas
payudaranya dan sekali kali memuntir putingnya.
"uh...ah...mmm...sssh...terus ko..mmh" desahnya sambil meremas pantatku.
Penisku terasa semakin menegang dan vaginanya semakin hebat berdenyut memijit
penisku, tak terasa sudah sepuluh menit kami "bergoyang".
"oooooh ...mmmmh... ah udah gak kuat... biarin aja di situ ko mmmh ...." rintih Asmi
terpejam.
Akupun semakin memperdalam tusukanku dan mempercepat tempo karna juga
merasakan sesuatu yang akan keluar.
"ssshhhh...aaaaaaarrrrrrgggghhhhhhh" jeritnya sambil mencengkram punggungku,
"aaaahhhhh...aaaahhhhh" desahku pada saat yang bersamaan sambil mulutku
menyedot kedua puting susunya kuat-kuat secara bergantian.
Air maniku muncrat bertepatan dengan air hangat yang terasa memandikan penisku
didalam vaginanya.Kami menikmati puncak orgasme sampai betul-betul habis, baru
aku mencabut penisku setelah sangat lelah dan bebaring di sebelahnya sambil
meremas dadanya pelan-pelan.
Kemudian dia menindihku dari atas dan bertanya "gimana hukuman dari aku ko ..?"
"enak bu hukuman terenak didunia makasih ya"
"ibu yang terima kasih udah lama ibu bendung hasrat, hari ini dan seterusnya ibu
akan tumpahkan kekamu semuanya" sambil menciumku.
Setelah istirahat beberapa waktu kami kembali melanjutkan aktivitas itu tentu saja
dengan tehnik dan gaya yang berbeda-beda. Tak terhitung berapa kali aku
melakukannya sewaktu SMA yang jelas jika aku pulang kesana pasti kami
melakukan lagi dan lagi.